Ajaran Teologi Hindu dalam Naskah Siwagama

Naskah Siwagama merupakan naskah tradisional Bali, yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal Bali terutama sekali nilai spiritual, filosofis, ritual, etika, sosial, budaya, teologi, dari lain-lainnya. Naskah Siwagama adalah naskah tutur yang dikarang oleh Ida Pedanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar, Intaran Sanur, Denpasar Selatan. Naskah Siwagama juga disebut dengan Purwagamasasana yang dikarang pada tahun 1938. Naskah Siwagama asalnya berupa lontar yang disimpan pada perpustakaan Fakultas Sastra Unud Denpasar dengan kode nomor kropak 3 dan lontar bernomor 165. Naskah Siwagama yang disimpan di perpuatakaan Faksas Unud ini berasal dari geria Tegeh, Bindu, Kesiman, Denpasar Timur, yang panjangnya 49,5, lebar 3 cm, yang terdiri atas 347 lembar.

Namun naskah Siwagama yang lainnya juga ada dikoleksi oleh I Tekek di Renon Kelod, Delod Rurung, Denpasar Selatan; juga dikoleksi oleh 1 Gusti Agung Gde Rai Suhurda di Puri Anyar, Dusun Tengah, Desa Mambal, Abiansemal, Badung. Naskah Siwagama berbahasa Sansekerta dan penjelasannya berbahasa Jawa Kuna. Atas usaha dari Dinas Kebudayaan Propinsi Bali melalui tim peneliti/penterjemah, maka naskah Siwagama telah disalin ke dalam huruf latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Naskah Siwagama yang dikoleksi oleh perpustakaan Faksas Unud terdiri atas dua puluh satu sargah, yang dipilah menjadi dua jilid, yakni jilid pertama diteliti oleh tim tahun 2002 yang memuat sargah pertama sampai dengan sargah ke tiga belas. Pada jilid kedua yang diteliti oleh tim pada tahun 2005 memuat sargah ke empat belas sampai dengan sargah ke dua puluh satu.

Bagaimana kandungan nilai teologi Hindu yang terkandung dalam naskah Siwagama?. Paparan kecil ini mencoba menguraikan secara sederhana berikut ini. Awal naskah Siwagama menceritakan tentang teologi Hindu dengan menyebut gelar Sanghyang Widhi (sebagai asal dan tujuan dari seinuayang ada, karena Beliau memiliki kekuatan hukum abstrak atau rtam-mskala, vidhi berarti hukum abadi) atau Sanghyang Titah. Selain itu, Tuhan juga disebut sebagai Sang Adikusuma yang diyakini sebagai pencipta alam semesta beserta dengan isinya, yang diyakini juga Beliau sebagai kekuatan utama (adi) yang memiliki sabda suci, mulia, dan maha kuasa (Suksma).

Sebutan Tuhan yang lainnya adalah Sunya yang tiada lain adalah gelar Beliau dalam kondisi abstrak atau niskala. Kata sunya adalah bahasa Sansekerta yang artinya kosong atau nol. Maksudnya bahwa segala ada ini dengan berbagai bentuk dan wujudnya awalnya dari kosong atau sunya, karena sunya itu tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Selain sebutan Sanghyang Sunya, juga digelari Sanghyang Titah. Yang dimaksudkan Sanghyang Titah adalah Tuhan itu sendiri yang memiliki sabda niskala uttama atau suara gaib yang utama. Apapun perintah Beliau, maka segala ciptaan-Nya mesti patuh, tunduk, serta tidak bisa menolak Begitulah perintah Tuhan Yang Maha Esa. Beliau sebagai penentu terakhir Beliau juga yang mengendalikan yang Beliau ciptakan (utpeti). Beliaulah yang memeliharanya, menjaganya, melindunginya, serta membesarkannya (sthiti) yang pada gilirannya, akhirnya Beliau pula yang menitahkan untuk kembali ke asalnya yakni Sanghyang Titah sendiri (prahna atau pralaya). Apapun cara Beliau lakukan, itulah rtam vidhi. Bisa kembali kepada Beliau melalui utama, biasa, atau jalan musibah atau bencana alam. Semua itu Beliau yang menitahkan. Ciptaan-Nya ini tinggal menunggu perintah saja.

Dalam naskah Siwagama juga dijelaskan bawa Tuhan Yang Maha Esa memiliki aksara suci atau pranava yakni Om. Aksara Om adalah penunggalan dari tri aksara, antara lain: aksra 'A' atau 'Ang', aksara 'U' atau 'Ung' dan aksara 'M' atau 'Mang'. Ketiga aksara suci setelah disandhikan menjadi 'AUM atau 'AUNG' (Om atau Ung). Aksara suci Om ini merupakan aksara untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa. Om sebagai aksara yang digunakan pada saat puja atau mantra. Orang suci, sedharma, atau penganut Hindu selalu mengucapkan aksara suci Om pada saat memuja dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Seperti saat memuja Sanghyang Siwa, diucapkanlah mantra suci : Om Om Siioaya namah. Om Om Sadasiwaya namah, Om Om Paramasiwuya namah. Atau dengan mantra suci : Om Hrang Kring ah Paramasiwa ditya ya namah. Mantra suci tersebut sebagai puja untuk menghormati Tuhan Yang Maha Esa yang bergelar Sanghyang Siwa.

Sanghyang Siwa juga digelari Bhatara Siwa, yang dalam kekuatan Beliau sebagai maha tahu, maha adil, dan maha saksi. Dalam gelar Beliau sebagai maha saksi, maka Beliau bergelar Bhatara Siwa Raditya atau Sanghyang Surya. Sanghyang Surya hadir sebagai saksi terhadap semua ciptaan Beliau dengan sinar suci yang maha cemerlang, yang memberikan sinar kehidupan kepada semua ciptaan-Nya Saat beliau hadir sebagai saksi terhadap ciptaan-Nya, maka Beliau dimuliakan, dihormati, dan disembah dengan puja mantra suci Surya Astawa (mantra khusus memuliakan Hyang Widhi atau Hyang Siwa dalam wujud Beliau sebagai Hyang Surya atau Sang Hyang Siroa Raditya).

Dalam realitas kehidupan masyarakat Hindu, Beliau dihormati atau dipuja setiap hari terutama saat pagi hari (subhaha samayam puja). Bagi pandita, atau orang suci (sulinggih) memiliki tata krama pemujaan kehadapan Beliau melalui aktivitas Surya Sevana. Begitulah rasabhakti dan penghormatan umat Hindu kehadapan Sanghyang Siwa Raditya secara rutin setiap hari (prati dinam puja ya Siwa Raditya). Jadi gelar Sanghyang Siwa Raditya merupakan kekuatan Beliau untuk menyaksikan segala perilaku ciptaan-Nya, Beliau sebagai saksi perilaku kebaikan dan keburukan yang diperbuat oleh segala ciptaan Beliau.

Naskah Siwagama sesungguhnya sarat dengan nilai teologi Hindu, oleh karena dalam naskah inilah sebutan Tuhan Yang Maha Esa bisa dipahami dan dihayati oleh umat Hindu sesuai kondisi, tempat, serta waktu yang terjadi secara kearifan lokal di Bali pada khususnya maupun di Indonesia pada umumnya. Sekali lagi bahwa gelar Tuhan Yang Maha Esa yang tersurat dalam naskah Siwagama sebagai media suci untuk menghormat dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau digelari Sanghyang Taya. Oleh karena Beliau dalam kondisi niskala atau tidak nyata (Taya Tayanca Vijheyah). Beliau digelari Sanghyang Tunggal, oleh karena sesungguhnya eksistensi Beliau adalah Esa atau Ika (adwityam). Beliau digelari Sanghyang Catur Dewata yaitu Sanghyang Kusika, Sanghyang Garga Sanghyang Metri, dan SnnghyL Kurusya, yang tiada lain adalah Sanghyang Acintya (Beliau yang tak terpikirkan), tetapi Beliau mampu menciptakan berbagai hal dari empat/ segala penjuru.

Beliau diberi gelar Bhatara G,uru, oleh karena kekuasaan Beliau untuk menuntun umat manusia mencapai cerdas, cendekiawan, pintar, arif, prajna, wisesa,  terampil,  dan bijaksana. Kekuatan Beliau mampu memberikan anugerah pengetahuan suci dan berbagai teknologi berbagai dimensi sesuai desa kala patra. Beliau pula menjadikan umat manusia menjadi insan atau sumber daya manusia yang berkualitas (suputra, suputri, sadhu gunawan, buddhiman, budhhiwati, manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa). Pada saat kehadiran Beliau, maka manusia memuliakannya melalui puja suci Sarasvati Astawa, sehingga umat manusia menjadi Brahmacarya, menjadi Pandita, menjadi Dang Acarya, menjadi Tri Kang Sinanggah Guru, menjadi Catraveti atau Vidyarti (sisya atau mahasisya), dan mengikuti kegiatan aguron-guron sesuai dengan sasana masing-masing.

Begitulah nilai teologi Hindul yang terkandung dalam Naskah siwagama, yang sesungguhnya sebagai tuntunan moral dan spiritual bagi umat Hindu sekaligus sebagai pustaka sucil sebagai pedoman untuk meyakini dan percaya dengan keesaan Hyang Widhi Wasa, Diyakini bahwa Beliau adalah Esa atau Tunggal. Tetapi dalam naskah ini bahwa Beliau dimuliakan dengan gela yang beraneka (bahu vadanti). Beliau yang lainnya adalah Sanghyang Mahadewa, Sanghyang Iswara, Sanghyang Mretyunjaya, Bhatara Sadhana, Bhatarti Nini, Bhatari lima, Bhatari Sri, Bhataril Mahadewi, Bhatara Wisnu, Bhatara Siwa Sanghyang Indra, Bhatara Brahma, Bhatara Gana, Sanghyang Dharma, Bhatara Guru Sanghyang Kala, Bhatara Parameswara, Sanghyang Ghana, Sanghyang Kurnara, dan sebagainya. Dalam wujud Beliau sebagai Sanghyang Kala, maka Beliau bergelar Sang Bhuta Kedap, Sang Bhutai Gelap, Sang Bhuta Tatit, Sang Bhuta Kilap, Sang Bhuta Dadali, Sang Bhuta Kawanda, Sang Bhuta Syama, Sang Bhuta Semang,, Sang Bhuta Sendu, Sang Bhuta Kubandha, Sang Bhuta Girindi, dan yang lainnya.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 476 September 2006