Namun, pada saat yang bersamaan, Anda sebetulnya sedang memposisikan-diri di atas keduanya, lebih tinggi dari keduanya; baik yang subjektif maupun yang objektif. Kenapa? Sebab bila tidak, Anda tidak akan bisa melihat kalau ia mengambil dua peran-utamanya itu. Dan ini, tentu suatu 'jarak imajiner' juga adanya. Jadi, 'jarak imajiner' ini sebetulnya bada lain dari kesadaran yang berlandaskan pemahaman akan fakta dari keberadaan si aku - berikut peran-perannya - itu sendiri. Inilah yang nantinya akan membuahkan pemahaman-diri yang lebih lengkap dan menyeluruh kepada Anda. Inilah yang menyokong penempatan Anda sebagai 'yang sudah eling'.
Tidak Bisakah Kita Tetap Sepenuhnya Eling....?
Ketika kita sedang berupaya untuk mencapai sesuatu, kita hanyut, kita dimabukkan oleh sesuatu - yang notabene masih ada di luar jangkauan-itu. Apa yang ada di benak kita ketika itu, hanyalah 'bagaimana aku bisa mencapainya?'. Hanya itu. Oleh karenanya, selama itu pula tak hadir keelingan menyeluruh. Apapun yang kita perbuat, ucapkan, serta pikirkan selama itu hanya digerakkan oleh hasrat yang kuat - dalam bentuk daya-upaya-itu saja.
Hanya setelah itu tercapai, dan pergulatan upaya itu mereda, dan kita punya waktu untuk merenung sejenak akan apa yang sebetulnya telah kita perbuat selama ini, barulah kita sadar, barulah kita eling kalau ketika itu demikian adanya. Jadi bukan sebelumnya, dan bukan pada saat atau selama perjuangan itu berlangsung. Makanya, hanya pada mereka yang sudah eling sajalah mungkin timbul pertanyaan : Tidak bisakah kita tetap sepenuhnya eling, tidak hanyut, tidak mabuk, kendati sedang berupaya mencapai sesuatu?
Bagaimana kita akan menjawab pertanyaan ini? Bisakah pertanyaan ini terjawab tuntas hanya dengan menginteleksikannya? Tentu tidak! Kita harus menyelam; dalam ari, kita harus ada dalam kondisi berupaya, dan pada saat yang bersamaan tetap eling, tidak hanyut, tidak mabuk. Disinilah kita akan menemukan betapa sulitnya untuk senantiasa eling.
Sekarang ini misalnya, Anda 'merasa eling' bukan? Tapi apakah memang begitu? Tidakkah Anda sedang terhanyut di dalam tulisan ini? Coba amati diri Anda; tidakkah sekarang ini Anda sedang terhanyut?
Nah...... persis ketika kita sadar kalau kita sebetulnya sedang hanyut, sedang mabuk, dimana kemudian muncul 'Oh ya .... saya lagi-lagi terhanyut....', saat itulah kita benar-benar eling kembali. Makanya, 'eling dari-saat-ke-saat' memang sangat mudah untuk diucapkan, diverbalisasikan, diinteleksikah, namun luar biasa sulit buat diterapkan - apalagi di tengah-tengah hiruk-pikuknya kehidupan duniawi yang penuh daya-upaya, penuh perjuangan dan pergumulan tiada henti ini.
Untuk bisa melihat bagaimana sesuatu terjadi, kita mesti membiarkan sesuatu itu berlangsung tanpa mengganggunya, tanpa menyelanya, tanpa ikut-campur di dalamnya; kita mesti memberinya derajat kebebasan tertentu untuk memungkinkan proses itu berlangsung betapa mestinya, secara alamiah. Bila kebebasan itu tidak diberikan secukupnya, hasil amatan malah akan menipu nantinya, karena ia tidak berlangsung apa adanya. Apapun yang tidak apa adanya, bersifat palsu, berpotensi mengecoh dan menipu.
Demikian juga halnya di dalam mengamati apa yang ada di benak kita. Kita mesti memberi ruang secukupnya bagi berbagai bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul, mengada untuk beberapa saat dan tenggelam. Jangankan mengendalikannya supaya begini atau begitu, menyelanyapun sebaiknya tidak. Persoalan atau kesulitan yang umumnya sering kita hadapi disini adalah : kebiasaan kita yang cenderung mengatur, mengendalikannya supaya begitu atau begitu, menyelanyapun sebaiknya tidak.
Persoalan atau kesulitan yang umumnya sering kita hadapi disini adalah : kebiasaan kita yang cenderung mengatur, mengendalikan agar begini atau begitu, yang kita anggap buruk agar cepat pergi dan' yang baik agar bertahan, atau sebaliknya, cenderung terhanyut di dalam salah satu bentuk pemikiran atau perasaan yang sedang berlangsung. Kalau tidak mengatur, kita malah cenderung terhanyut. Inilah kesulitan kita.
Bagusnya adalah, mengetahuinya demikian, menjadikan kita waspada. Tanpa mengetahuinya demikian, kita tidak tahu apa yang mesti diwaspadai bukan? Mengetahui kalau pikiran cendering menyeleweng pada hal-hal yang berbau sensual, kita menjadi waspada akan dorongan sensualitas itu. Dan dengan memperhatikannya dengan seksama, dengan cermat, kita tahu kekuatannya, kita tahu kapan biasanya ia muncul dan untuk berapa lama biasanya ia bertahan, seberapa besar kekuatannya untuk menggerakkan kita, dan bagaimana ini sirna untuk kemudian diganti dengan yang lainnya. Inilah Meditasi Eling dan Waspada itu.
Keelingan Membawa Disiplin dan Etika-Moralnya Sendiri
Suatu ketika seorang filsuf Yunani pernah berujar "Nothing is easier than self-deceit. For what each man wishes, that he also believes to be true".
Namun yang benar-benar eling tak akan menipu-dirinya sendiri, tidak akan berkata atau berbuat tidak jujur, tidak akan berpura-pura, tidak akan menyakiti - baik melalui pemikiran, ucapan maupun tindakan, karena di dalamnya ada kemakluman dan kesabaran-tidak akan menginginkan milik orang lain-apalagi sampai mencuri atau korupsi atau sejenisnya, tidak akan iri pada kesuksesan orang lain, tidak akan merasa bersaing dengan siapapun apalagi mendengki, dan yang pasti, yang benar-benar eling tidak akan munafik.
Seperti ketika kita sudah merasa kenyang akan menolak makan, merasa sudah sadar inilah - pada gilirannya - justru yang menjadi penghalang utama dari hadirnya keelingan. Padahal, kebanyakan dari kita baru sekedar 'merasa sadar'; belum benar-benar eling. Irrilah menjadi kesulitan dari mereka yang berhasrat membangkitkan keeiingan orang-orang. Namun, bukanlah suatu pilihan yang mungkin bagi yang benar-benar eling untuk lari dari kesulitan yang dihadapinya.
Keeiingan membawa disiplin dan etika-moralnya sendiri. Kita tak akan mungkin mengharapkan tindakan moral dari mereka yang benar-benar eling, kendati tampaknya mereka kurang mengindahkan etika sosial-yang sangat superfisial dan penuh dengan kepura-puraan itu.
Inilah Meditasi Eling Lan Waspada Itu
Untuk bisa melihat bagaimana sesuatu terjadi, kita mesti membiarkan sesuatu itu berlangsung tanpa mengganggunya, tanpa menyela; tanpa mencampurinya; kita mesti memberinya derajat kebebasan tertentu untuk memungkinkan proses itu berlangsung betapa mestinya, secara alamiah. Bila kebebasan itu tidak diberikan secukupnya, hasil amatan malah akan menipu nantinya, karena ia tidak berlangsung apa adanya. Apapun yang tidak apa adanya bersifat palsu, berpotensi mengecoh dan menipu.
Demikian juga halnya di dalam mengamati apa yang ada di benak kita. Kita mesti memberi ruang secukupnva oagi berbagai bentuk pemikiran dan perasaan yang muncul, mengada untuk beberapa saat dan tenggelam. Jangankan mengendalikannya supaya begitu atau begitu, menyelanyapun sebaiknva tidak.
Persoalan atau kesulitan yang umumnya sering kita hadapi disini adalah : kebiasaan kita yang cenderung mengatur, mengendalikan agar begini atau begitu, yang kita anggap buruk agar cepat pergi dan yang baik agar bertahan, atau sebaliknya, cenderung terhanyut di dalam salah satu bentuk pemikiran atau perasaan yang sedang berlangsung. Kalau tidak mengatur, kita malah cenderung terhanyut. Inilah kesulitan kita.
Bagusnya adalah, mengetahuinya demikian, kita tidak tahu apa yang mesti diwaspadai bukan? Mengetahui kalau pikiran cenderung menyeleweng pada hal-hal yang berbau sensual, kita menjadi waspada akan dorongan sensualitas itu. Dan dengan memperhatikannya dengan seksama, dengan cermat, kita tahu kekuatannya, kita tahu kapan biasanya ia muncul dan unttik berapa lama dan bagaimana ia sirna untuk kemudian diganti dengan yang lainnya. Inilah Meditasi Eling lan Waspada itu.
Saat Eling.......
Saat eling ada kepwaspadaan;
dan dalam kewaspadaan ada kesiap-siagaan.
Saat eling, dimungkinkan pengarahan
perhatian dalam intensitas yang dibutuhkan.
Dalam eling, kecil kemungkin-annya seorang melakukan hal-hal yang tidak baik,
yang bertentangan ataupun menyimpang dari prinsip-prinsip kebenaran.
Dalam eling-lah Kebenaran Universal menampakkan diri untuk mencerahi.
Upayakanlah agar selalu elingl Eling bukan sekedar sadar, bukan juga sekedar ingat.
Eling tidak mencerap pun bukannya tidak mencerap.
Sesungguhnya, eling itu terang; sebaliknya, lupa itu gelap.
Hanya dalam teranglah ada Kecerahan.
Dalam gelap hanya ada kebingungan.... Upayakanlah selalu eling!
Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 516 Desember 2009