Brahmavidya dalam Bhuana Kosa [3]

(Sebelumnya)

Bhatara Siwa sebagai Tuhan Yang Maha Esa dalam alam Brahma dijelaskan dalam Buana Kosa. 11.14, yaitu "Na rupam (ia yang tanpa rupa), na warnnam (tanpa warna), na rasam (tanpa rasa), na gandham (tanpa bau), na sabdam (tanpa suara), asparam (tak teraba), na mayam (tak terkena sakit), ucintyam (tak terpikirkan), anadi madhyantam (tanpa awal, tanpa pertengahan, tanpa akhir, tanpa batas), asangkirnnan (tak tercampur), agatham (tanpa wujud), aracanam (tanpa rupa dan warna), adioityam (tak ada yang melebihi dalam hal keunggulan), na calitam (tak goyah), alinggakam (tanpa lingga), acyutam (tak susut), aksayam (tidak berkurang), anirgatam (tanpa perbuatan), aspreham (tanpa keinginan), agarbbha janma maranam (tidak lahir dari kandungan dan tanpa kematian), arogani (tanpa sakit), asokam (tanpa susah), awedhanam (tanpa penderitaan), asangsaram (tanpa sangsara), nirmalam (tanpa noda), na kalam (tanpa waktu), na kasam (tanpa angkasa), na samwatsara (tanpa tahun, tanpa musim, tanpa bulan, tanpa siang, dan malam), asandhyangsam (tanpa senja kala), na muhurta (tanpa kurun waktu), na welakastam (tanpa matahari berjalan kearah utara, tanpa matahari berjalan di tengah-tengah), na daksinayanam (tanpa matahari berjalan di garis Khatulistiwa), animepyam (tanpa kerdip, tenang), sunyam (sepi), dhyawan (selalu ingat), waran (utama), satyam (setia) witam (sangat sepi dan hampa), sivaccam (bersih), kewalyam (hampa), nirasrayam (tanpa bantuan atau perlindungan), Siwam (ia juga disebut Siwa), moksam (ia itu kebebasan yang sejati), nirasradham (tanpa iri hati), nirbanam (ih; nirwana), Param Brahma (ia adalah Brahma tertinggi), nirakaram (tidak dapat diumpamakan), na bhaya (tidak terkena bahaya), amrelam (tanpa kematian), etam brahmani (demikian wujud alam Brahma).

Bhatara Siwa berada dimana-mana, sangat halus, tak terjangkau, dan tak terpikirkan oleh panca indriya dan pikiran manusia. Hal ini diuraikan dalam Buana Kosa, 11.17, yaitu "Bhatara Siwa wyapaka, sira suksma tar keneng angen-angen, kadyangga ning akasd, tan kagrehita dening manah, mwang indriya". (Sang Hyang Siwa ada di mana-mana, tetapi sangat halus tidak dapat dibayangkan atau dipikirkan. Beliau bagaikan angkasa tidak terjangkau oleh pikiran dan panca indriya).

Bhatara Siwa, juga dikatakan menguasai pengetahuan, dan tanpa akhir seperti diuraikan dalam Buana Kosa, IV:40, yaitu "Tan padi tan pamaddhya tan panta, wihikan la sireng sarwwijnana kabeh, nitya ta sira haneng tapo loka, tan kena ring tuhapati", (Tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir, Beliau menguasai semua pengetahuan, selalu tinggal di Tapa Loka, terhindar dari ketuaan dan kematian). Ia tak terbatas digambarkan secara terbatas. Oleh karena itu Ia sering disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti Brahma, Wisnu, Iswara atau Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bhawa, Pasupati, Sarwajna, sesuai dengan yang ditempatinya Dalam Buana Kosa, III : 9 ditegaskan bahwa "Nihan wibhaga munggwirika tattwa kabeh, Sarwajnana ngaranya ya andel ing prethiwi, Bhawa ngaranira yan andel ing toya. Pasupati ngaranir yan andel ing Sang Hyang Agni, Isana ngaranira yan umandel ing bayu", (Itulah perincian Bhatara yang berada pada semua tati Sarwajna namanya bila Ia berada pada tanah, Bhawa namanya ia Ia berada pada air, Pasupati namanya bila Ia berada pada api, Isana namanya bila Ia berada pada angin).

Sadyojata, Bhamadewa, Taipurusa Aghora, dan Isana dalam Panca Brahma. Dalam Rg. Veda I. 164. 46 disebutkan bahwa "Indram mitram Varuna agnim, ahur atho dvyah sasuparno garutman, ekam sd vipra bahudha vadanty agnim yaman matarisvanam ahuh". (Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan Dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan).

Nama-nama Bhatara Siwa diuraikan secara lebih terperinci dalam Buana Kosa. 111:10, yaitu "Bhima ngaranira yang haneng akasa, kinahanan ta sira de ning asta guna. Mahadewa ngaranira yan haneng manah, ian pawak, Ugra ngaranira yan haneng panca tanmatra, Rudra ngaranira yan haneng teja, makawak ahangkara" (Bhima namanya, bila ia berada pada angka, Ia ditempati oleh asta guna. Mahadewa namanya bila Ia berada pada pikiran. Ia tanpa badan, Ugra namanya bila Ia berada pada panca tanmatra, Rudra namanya bila Ia berada pada sinar, Ia berbadankan ahangkara).

Ia bersifat immanent dan transcedent, artinya Ia meresapi segala, hadir pada segala termasuk pada pikiran dan indriya (sira wyapaka). Transcedent, artinya Ia meliputi  segala, tetapi Ia berada di luar batas pikiran dan indriya. Immanent, artinya hadir di mana-mana. Dalam Buana Kosa, 1 : 10 ditegaskan bahwa "Lwir Bhatara Siwa hane ri ya, wyapaka nitya, menget sira tan cala, maweh sira kawruhana dening nina jnana, sira tamar cala irikang jagat kabeh, sthawara janggamarawaknya". (Keberadaan Sang Hyang Siwa di sana, selalu menyusupi segala, selalu sadar dan tak bergerak, sulit diketahui oleh orang yang tidak berilmu pengetahuan, Beliaulah menggerakkan seluruh dunia, baik tumbuh-tumbuhan maupun binatang). Dalam Buana Kosa. III.8 dinyatakan bahwa "Ika ta kapasangan ikan tattwa rudradi, ya ta pinaka sarira jagat kabeh, wypaka ring rat, sira wisesa, sira mungguh ring tattwa akabeh". (Itulah rangkaian tattwa Rudra dan sebagainya. Itulah dijadikan badannya bumi seluruhnya. Adapun Bhatara Siwa, Ia meresapi seluruh dunia. Ia amat utama, berada pada semua tattwa (unsur).

Meskipun Ia ini immanent dan transendent pada semua makhluk, tetapi Ia tidak dapat dilihat dengan kasat mata karena Ia bersifat sangat rahasia, abstrak. Oleh karena kerahasiannya dalam kakawin Arjuna Wiwaha Ia digambarkan bagaikan api dalam kayu, minyak dalam santan. Dalam Buana Kosa, II. 18 juga dinyatakan bahwa "Sang hyang Apuy hanerikang kayu-kayu, andatan katon, makanimitra suksmanira yatha, kadyangganing aksa, mangkaning Bhatara Mahadewam an hana ring sarwa mawak, ndatar kapangguh sira, makanimitta ng suksmanira". (Api itu ada pada kayu, namun tidak kelihatan, karena halusnya, ibarat angkasa. Demikianlah Sanghyang Mahadewa, hadir pada semua yang berwujud, tetapi tidak tampak, karena halusnya). Ia ada di mana-mana, pada semua yang ada ini.

Ia tidak tampak, tetapi Ia ada. Sungguh sangat rahasia adanya. Dalam Buana Kosa II. 16 diuraikan bahwa "Bhatara Siwa sira wyapaka, sire suksma tar kneng angen-angen, kadyangga ning akasa de ning manah mwang indriyn". (Bhatara Siwa meresapi segala. Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa, tak terjangkau oleh pikiran dan indriya). Ia adalah asal dari semua yang ada ini (sangkeng bhatara Siwa sangkanya). Alam semesta (bhuwana agung) dengan segala isinya, dan juga manusia (bhuwana alit) adalah ciptaan-Nya. Hal ini diuraikan dalam Buana Kosa, 111:67 bahwa "Matangnyan mangkana, ayan itong satwa kabeh linging tatwa, sangkeng Bhatara Sizva sangkanya, sira pinaka sarira tatwaning dadi kabeh, yata katuturana de sang weruh ring tatwa", (Apa sebab demikian, karena semua anazir-anazir atau unsur pada hakikat-nya bersumber dari Sang Hyang Siwa. Beliaulah menjadi inti jasad anazir-anazir atau unsur, dan Beliau pula yang menyebabkan adanya semua yang ada. Hal itulah yang patut dihayati oleh orang yang tahu akan hakikat hidup).

Penampakan Bhatara Siwa dalam menciptakan dunia disebutkan dalam Buana Kosa, 111:76 bahwa "Lwir Bhatara Siwa magawe jagat, Wisnu rupa siran pangraksa jagat, Rudra rupa sira mralayaken rat, nahan tawak nira, bheda nama", (Brahma wujud-Nya waktu ,enciptakan dunia ini, Wisnu wujud-Nya waktu memelihara dunia ini, Rudra wujud-Nya waktu mepralina dunia ini, Demikianlah tiga wujud-Nya (Trimurti) hanya beda nama). Bhatara Siwa sebagai Brahma, Wisnu dan Rudra, dalam aksara dilambangkan sebagai Am Um Mam, kesatuan ketiganya adalah Om.

Aktivitas Bhatara Siwa pada waktu mencipta dunia disebut utpatti, pada waktu menjaga dan memeliharanya disebut sthiti, dan pada waktu mengembalikan kepada asalnva disebut pralina. Dalam Buana Kosa, disebutkan bahwa "Bhatara Brahma sirotpatti, Bhatara Wisnu sira sthiti, Bhatara Rudra sira pralina, nahan tang tiga pinaka sarana ring loka", (Bhatara Brahma adalah pencipta, Bhatara Wisnu adalah yang memelihara, Rudra adalah pamralina. Demikianlah Dewa yang tiga itu sebagai pelindung). Hal ini diuraikan pula dalam Buana Kosa, yaitu "Sang Hyang Brahma sira magawe jagat, Sang Hyang Hyang Wisnu sira rumakseng praja, Bhatara Rudra sira mralayaken rat, ikang rat mwang athawara janggama, yeka pinralinaken de sang Hyang Rudra", (Sang Brahma menciptakan dunia, Sang Hyang Wisnu melindungi dunia, Sang Hyang Rudra melebur dunia dengan segala isinya, baik yang tidak bergerak maupun yang bergerak. Itu semua diatur oleh Sang Hyang Rudra).

Semua ciptaan-Nya itu merupakan wujud mayanya yang bersifat tidak kekal. Dikatakan demikian karena segala wujud ciptaan-Nya itu dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaan-Nya itu akan kembali kepada-Nya. Mengingat Ia adalah asal dan tujuan semua yang ada ini (mijil sakeng sira, lina ri sira muivah). Dalam Buana Kosa, 111:80 disebutkan bahwa "Sakweh ning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siwa ika, lina ring Bhatara Siwa ya", (Seluruh alam ini muncul dari Bhatara Siwa, lenyap kembali kepada Bhatara Siwa juga). Hal ini, dijelaskan pula dalam Buana Kosa, III : 69 bahwa "Mangkana pwa Bhatara Siwa, irikang tattwa kabeh, ri wekasan lina ri sira muwah, nihan dretopamanya, kadyanggining wereh makiveh wijilnya, tunggal ya sakeng wway". (Demikianlah Sang Hyang Siwa pada semua unsur, pada akhirnya semuanya itu akan lenyap kembali pada Beliau. Begini ibaratnya, seperti buih banyak sekali muncul, tetapi sumbernya satu yaitu air).

Mengenai peleburan dunia ini diuraikan pula dalam Buana Kosa. III, (2) 71, yaitu "Sira Bhatara Rudra, nga, sira ta tumaksa ikang rat kabeh, yawat irikalaniran pangraksa, tawat irika ta ya hartanya nitya, anglinaken pwa sira wekdsan, umantuk ta ya kabeh ri sira juga", (Beliau Sang liyang Rudra, Beliau menjaga seluruh dunia. Pada saat Beliau menjaga, pada saat itulah keadaannya kekal. Akhirnya, juga melebur dan akhirnya semua itu akan kembali juga pada Beliau).

Berdasarkan paparan tersebut di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

(1) Buana Kosa merupakan salah satu lontar tattwa yang bercorak siwaistik berisi percakapan antara Srimuni Bhargawa dengan Bhatara Siwa tentang Brahmarahasyam, yaitu percakapan antara Bhatara Siwa dengan Bhatari Uma dan Sang Kumara tentang Jnanarahsyam.

(2) Dalam kitab-suci Hindu, ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dinamakan brahma vidya atau brahma tattva jnana. Brahma diartikan Tuhan, yaitu gelar yang diberikan kepada Tuhan sebagai unsur yang. memberikan kehidupan pada semua ciptaan-Nya, Yang Maha Kuasa. Dalam Upanisad Tuhan disebut Brahman, yaitu Nirguna Brahman dan Saguna Brahman.

(3) Dalam Buana Kosa Tuhan Yang Maha Esa disebut Bhatara Siwa. Beliau tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, tak terbatas, tak termusnahkan, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam manifestasinya sebagai Trimurti Bhatara Siwa adalah Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Rudra/ Iswara sebagai pelebur.

Oleh: I Wayan Sukarma

Source: Warta Hindu Dharma NO. 514 Oktober 2009