Kita sudah membicarakan tentang Panca Yama, yaitu lima aspek pengendalian diri yang merupakan tangga pertama dari Astangga Yoga. Sekarang kita membicarakan tangga kedua yaitu Panca Niyama, lima aspek kedisiplinan yang harus memperkuat jati diri kita. Ini membuktikan bahwa ajaran Rsi Patanjali bukan sekedar untuk yoga dalam pengertian gerak, tetapi jauh dari itu. Yoga dalam pengertian melatih ketahanan untuk kehidupan itu sendiri yang tidak cuma gerak.
Ajaran kedisiplinan dalam Panca Niyama ini terdiri dari saucha (menjaga dan meningkatkan kesucian badan serta pikiran), santosha (menjaga rasa damai dan rasa puas diri), tapa (ketekunan dan usaha keras dalam melakukan suatu pekerjaan), svadhyaya (hasrat untuk menuntut ilmu), dan ishvara panindhana (memuja Tuhan sesuai ajaran agama yang ada).
Pengendalian diri dan disiplin diri adalah dua hal yang berbeda. Pada pengendalian diri kita ditantang untuk tidak melakukan apa-apa secara berlebihan. Sedangkan pada disiplin diri kita sudah tahu apa yang mesti dikerjakan dan sudah pula kita kerjakan. Tetapi apakah hal itu kita lakukan secara disiplin berkesinambungan. Di situ masalahnya.
Ajaran Panca Niyama ini tersurat dalam Patanjali Yoga Sutra II sloka 40 sampai 45. Saucha diletakkan pada bagian pertama karena kita harus mengawali disiplin itu dengan kebersihan lahir dan batin. Setiap hari kita harus melakukan pembersihan diri, baik itu secara phisik maupun secara rohani atau batin. Phisik sudah nyata dengan mandi setiap hari, membersihkan tubuh dari kekotoran. Kedisiplinan ini umumnya sudah dilakukan dalam keseharian. Tetapi akan menjadi lebih berguna kalau displin itu dilakukan pada saat yang tepat. Misalnya, mandi pagi sebelum melakukan aktifitas apapun. Selesai mandi pikiran dan batin dibersihkan dengan doa-doa pendek dan barulah melakukan aktifitas, misalnya, pergi ke tempat kerja, memasak di dapur dan sebagainya. Kitab-kitab purana menyebutkan memasak makanan dalam keadaan badan dan pikiran bersih akan membuat masakan itu menjadi satvika (suci).
Kalau sauca sudah disiplin kita kerjakan maka santosha akan datang. Kita menikmati kepuasan dan perasaan menjadi damai. Bagaimana menjaga rasa puas dan pikiran damai itu tentulah kita membutuhkan kedisiplinan dalam melangkah. Hindari perbuatan yang buruk, selalu bersyukur dengan apa yang ada.
Tapa adalah ketekunan dalam melakukan usaha keras dalam kehidupan ini. Tetua kita di Bali di masa lalu sering menyebutkan “metapa” sebagai ungkapan untuk menjaga disiplin diri dalam melakukan suatu upaya yang besar. Kadangkala kita sering angin-anginan dalam melakukan suatu pekerjaan. Kemarin berusaha dengan keras, hari ini mulai mengendor, esok bisa kita lupakan pekerjaan itu. Untuk mencapai sukses kita harus disiplin, kalau memang tak bisa bekerja keras, ya, kurangi tetapi ajeg setiap hari. Karena itu tapa juga sering diartikan sebagai mengekang diri dengan maksud mencoba menghilangkan segala pantangan yang membuat kita tidak disiplin.
Svadhyaya adalah kedisiplinan untuk menuntut ilmu. Kalau kita seorang pelajar atau mahasiswa, harus disiplin belajar. Tidak bisa kita bermalas-malasan dan hanya belajar menjelang ulangan umum atau jelang ujian nasional. Menuntut ilmu tanpa suatu kedisiplinan bisa sia-sia. Otak manusia tak bisa dijejalkan dalam tempo singkat. Harus bertahap karena ada yang harus dihafal dan diingat sebelum dimasukkan lagi materi yang baru. Apalagi kalau menghafal mantra-mantra suci, tak bisa tanpa ada kedisiplinan.
Terakhir adalah isvara pranindhana memuja Tuhan atau penyerahan diri secara total kepada Tuhan sesuai tuntunan agama kita. Banyak orang hanya ingat kepada Tuhan di kala sakit atau di waktu susah. Pada saat sehat dan banyak uang, memuja Tuhan dilupakan. Banyak orang melakukan Puja Trisandhya seingatnya saja, misalnya, kebetulan ramai-ramai di kantor atau ketika bersembahyang bersama. Atau malah lupa sama sekali. Padahal melantunkan Puja Tri Sandhya membutuhkan kedisiplinan, tiga kali sehari: pagi, siang dan sore. Yang disiplin justru radio dan televisi.
Demikianlah kita dituntut untuk disiplin melakukan “yoga besar” dalam kehidupan ini. Ada pun yoga dalam pengertian yang sempit sebagai olah tubuh, kedisiplinan itu juga dituntut sebelum sampai pada puncaknya, yakni semadhi.
Source: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda l http://www.mpujayaprema.com