Ibu dan Tahun Baru

...Ribuan kilo jalan yang kau tempuh// lewati rintang untuk aku anakmu// ibu ku sayang masih terus berjalan// walau tapak kaki// penuh darah...// penuh nanah...// seperti udara ...// kasih yang engkau berikan// tak mampu ku membalas//ibu... //ibu...//
Ingin ku dekap dan menangis di pangkuanmu// sampai aku tertidur// bagai masa kecil dulu// lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku// dengan apa membalas// ibu...//ibu....//

Demikian penggalan lirik lagu "Ibu" yang dinyanyikan Iwan Fals. Lirik ini seperti menyamun jiwa. Membongkar ingatan kita pada kisah tulus tanpa keluh kesah makhluk bernama ibu. Doa dan jerih payahnya menyertai perjalanan hidup seorang anak manusia dalam membuka dan menyelami aneka wama momentum kehidupan sepanjang tahun, sehingga setiap langkah mengarungi tahun berikutnya seperti tahun baru yang memberi harapan haru.

Ibu secara biologis ialah perempuan yang mampu melahirkan anak. Karena ibu memiliki rahim kuat menampung benih kehidupan. Pada ruang rahim yang nyaman benih kehidupan bersemayam menunggu waktu lahir untuk menunaikan tugas kelahiran di dunia yang diterangi mentari. Tergantung harapan seorang ibu agar kelak anaknya menjadi suputra 'anak yang berbudi dan beperilaku luhur'. Itulah keistimewaan ibu dibanding ayah yang menyemai benih di dalam rahim ibu. Ibu pun sabar, tahan banting, halau rintangan dalam menjaga titipan ayah dalam rahimnya yang suci.

Seorang ibu tatkala melahirkan bertaruh nyawa dengan dewa kematian. Pengorbanan itu seperti megantung bok akatih, 'tergantung pada sehelai rambut, menguras energi, keringat, cairan, dan darah. Setelah kelahiran anak, ibu pun bergegas iklas menyusui, sampai-sampai tubuh indahnya tidak terurus, kemudian mendidik anaknya dengan sebaik mungkin hingga dewasa mengenal hitam-putih kehidupan.

Seorang ibu rela melepas keperawanan dalam kodratnya meneruskan keberlangsungan kehidupan dan peradaban di muka bumi. Tak memandang manusia berstatus apapun, ia lahir dari rahim ibu. Begitu juga seperti manusia memperingati tahun baru sebagai peringatan bahwa rahim tahun dapat melahirkan perputaran waktu yang lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.

Waktu tak berakhir seperti kelahiran manusia yang berlangsung terus menerus. Dalam Hinduisme kelahiran manusia ke dunia adalah proses singkat dalam perputaran waktu tanpa batas. Di dalam susastra Hindu disebutkan hidup ini seperti kilatan petir yang menyambar kemudian sirna dalam suatu ruang. Segala yang dilahirkan mengalami proses punarbhawa 'reinkarnasi', begitu juga dengan waktu tanpa batas. Waktu tak berbatas, kemudian dibatasi manusia dengan tradisi dan keyakinan yang dibangunnya, sehingga perputaran waktu memberikan kesan tersendiri, seperti perayaan hari lahir dan perayaan tahun baru bagi masyarakat di beberapa pelosok dunia.

Tahun Baru masehi diperingati sebagai kelahiran tahun, dirayakan sangat meriah setiap tahun di beberapa belahan dunia. Bahkan dengan tema tersendiri, disambut sorak sorai berimbuh pesta kembang api yang membuat mata takjub. Tahun baru pun dijadikan momentum meramalkan aneka aspek kehidupan dan perkembangan kehidupan, bisnis, karir, jodoh, dan aneka hal yang dilakukan kedepan selama satu tahun. Sedangkan Umat Hindu merayakan tahun baru Saka saat Hari Raya Nyepi bukan dengan hingar-bingar berimbuh pesta pora, namun dengan hening selama sehari penuh beserta aneka pantangan dan pengendalian diri.

Ketika tahun baru apa pun juga, banyak tradisi menyambutnya dengan doa pujian, berharap spirit kelahiran tahun baru mampu membawa pengaruh positif dalam kehidupan manusia dan keberlangsungan alam. Begitu juga seperti doa seorang ibu tersemai harapan bahwa anak yang dilahirkannya menjadi anak kebanggaan orang tua dan masyarakat, anak berprestasi, berbudi luhur. Pada intinya harapan seorang ibu serta tatkala datangnya tahun baru tergantung suatu harapan positif demi berlangsungnya kehidupan yang lebih baik. Untuk itu banyak tradisi dan ritual untuk memuliakan kelahiran dan menyambut tahun baru di beberapa belahan dunia dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan keberlangsungan kehidupan yang lebih baik.

Ibu berkedudukan mulia dalam Hinduisme. Menduduki posisi penting dalam ritual seperti sebagai tapeni, sarati (konseptor dan perancang sesajen) yang tidak dapat digantikan oleh lelaki, walaupun ada lelaki sebagai tukang banten. Begitu juga dimana wanita atau ibu dihina dan disakiti, maka di sana diyakini muncul suatu malapetaka dan kehancuran. Dalam teologi Hindu ketika Bhatara dalam aspek maskulin semesta dalam fungsinya selalu memerlukan peran sakti sebagai aspek feminin semesta yang dipersonifikasikan sebagai Bhatari, Dewi.

Aspek maskulin memerlukan aspek feminin dalam proses melahirkan atau menciptakan semesta beserta isinya. Apa jadinya Dewa Brahma, personifikasi Hyang Widhi sebagai dewa pencipta, tanpa adanya ilmu pengetahuan yang dipersonifikasikan sebagai Dewi Saraswati. Atau apa gunanya manusia jika membuat sesuatu tanpa memiliki kemampuan.

Kedudukan seorang ibu sejatinya sama dengan ayah. Mereka saling melengkapi kekurangan dan perbedaan. Keduanya diyakini sebagai pasangan setia yang rwabhineda 'dua yang berbeda namun saling melengkapi'. Begitu juga dengan Dewa-Dewi, Ardhanareswari, Lingga-Yoni. Jika lebih melihat keutamaan aspek feminin, apa gunanya lingga tanpa ditopang yoni. Begitu juga apa gunanya dewa tanpa memiliki sakti dari Dewi. Begitu juga apa gunanya ayah tanpa ibu. Dapat dikatakan ibu adalah jiwa dari rumah tangga.

Begitu juga dalam momentum tahun baru, perlu merenungkan apa yang kita lakukan kedepan dan merenungkan kembali jasa-jasa ibu yang tak akan dapat ditebus dalam kelahiran ini. Mari kita tengok kembali teologi Hindu dan susastra Hindu yang memuliakan perempuan dan ibu, serta kembali tanyakan diri kita sendiri, apa yang telah kita lakukan kepada ibu selama ini. Kini sudah seharusnya bagaimana kita sebagai insan-insan lebih memuliakan ibu dan tidak memposisikannya sebagai kaum tertindas.

Semoga tahun-tahun berikutnya semakin membuka mata kita akan peran serta ibu yang telah menjadikan kita berkelangsungan hidup. Jangan sampai ibu mengeluarkan kutuk karena kita durhaka kepadanya, kutuk ibu konon tak bisa dihapuskan oleh dewata.

Atas jasa ibu yang sangat mulia, manusia selalu bisa menikmati spirit tahun baru yang diharapkan dapat mendatangkan vibrasi positif dalam melangsungkan kehidupan. Begitu pula tanpa adanya hambatan berarti dalam menjalankan swadarwa mengisi kehidupan. Demikianlah jerih payah dan doa Ibu membawa harapan baru bagi keluarga dan anak-anaknya. Begitu juga tahun baru membawa harapan baru bagi perputaran tahun dan perkembangan suatu peradaban.

Oleh: I Made Arista
Source: Wartam, Edisi 22, Desember 2016