Kesempurnaan Maharesi Krsna-Dvaipayana Vyasa

"Yajne bahujnanam paramabhyudaram yam dvipa-madhye suta-matmabhavat
Parasarat satyavati maharsih tasmai namo'jnanatamonudaya"
(Sarasamuccaya, Bhumika 1)

"Hana sira maharsi, tan hana kapinggingnira, kinativangan ing triloka, rumantasaken petengning ajnananing sarwabhawa, anak sang Satyavati, patemwan lawan Bhagavan Parasara, prasuta ri tengahnikang Krsna-dvipa, Bhagavan Byasa ngaranira, sira ta sembahen, kamnan inghulun mujarakena saraning gawenira aji."

Tersebutlah seorang Maharesi; tidak ada sesuatu pun yang beliau tidak ketahui, dipuja-puja oleh Triloka, mempunyai kemampuan untuk melenyapkan kegelapan pikiran seluruh makhluk. Beliau adalah putra Dewi Satyavati, dari pertemuannya dengan Bhagavan Parasara, yang terlahirkan di tengah-tengah (pulau kecil) Krsna-dvipa. Nama beliau adalah Bhagavan Byasa, yang sangat patut disembah, sebelum hamba memulai menyampaikan sari-sari ajaran suci karya beliau.

Kebanggaan tidak terbantahkan bahwa kita mempunyai seorang Maharesi yang mahaterpelajar, menguasai seluruh ajaran Veda, beliau adalah Maharesi Krsnad-vaipayana Veda Vyasa. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan perihal adanya banyak nama Vyasa (29 Vyasa termasuk Vyasa Parasaraputra). Akan tetapi, Vyasa yang disebutkan di sini sebagai yang "mengurai" Veda adalah Vyasa, putra dari Matsyakanya Dewi Satyavati dengan Maharesi Parasara, yang dilahirkan di sebuah pulau kecil "krsnaa" di tengah Sungai Suci Yamuna.

Maharesi Parasara dengan menggunakan kesaktiannya membuat pulau kecil itu tertutupi oleh awan gelap. Oleh karena itulah pulau tersebut dinamakan Krsna-dvipa. Krsna berarti hitam atau gelap, dan dvipa berarti pulau. Dengan demikian, tidak akan ada kekacauan tafsir mengenai Vyasa yang mana yang dimaksudkan di dalam penulisan Mahabharata ini. sebab sudah sangat jelas disampaikan melalui "anak sang Satyavati, patemwan lawan Bhagavan Parasara, prasuta ri tengahnikang Krsna-dvipa, Bhagavan Byasa ngaranira," bahwa Vyasa yang dimaksudkan di sini adalah putra Maharesi Parasara dengan Dewi Satyavati yang mempunyai putra dengan kemampuan agama spiritual mahatinggi bernama Sukadeva. dari istrinya bernama Pinjala putri Maharesi Jabali.

Menariknya, kitab suci Sarasamuccaya menyebutkan perihal keagungan, keutamaan atau kemampuan Maharesi Vyasa dengan sangat menarik sebagai berikut:

"Tan hana kapingging nira: bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui oleh beliau. Kalimat ini mempertegas level kemaharesian yang sudah dicapai oleh beliau. Tan hana kapingging nira - tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang lepas dari tangkapan pengetahuan beliau. Kalimat ini sangat sesuai dengan definisi kata Resi (rsi) itu sendiri, yaitu beliau yang melihat mantram (mantra drstarah), beliau yang melihat segala hal-hal yang spiritual, beliau yang melihat kebenaran secara menyeluruh, itulah yang dinamakan rsi (Resi) atau Maharsi. (perihal rsi, maharsi dan Iain-lain bisa dilihat pada buku Studi Ringkas Catur Veda).

Seorang Maharesi di dalam ajaran Dharma Sanatana adalah beliau yang sudah mencapai kesempurnaan maha sempurna, yang sudah melihat kebenaran dengan gamblang. Orang suci seperti itu dinamakan Trikalajhani, yaitu beliau yang mengetahui masa lalu, masa sekarang. dan masa yang akan datang. Orang-orang suci seperti itulah yang menulis kitab-kitab suci Veda, dan orang-orang suci seperti itu sudah sangat jauh dari sentuhan kebohongan. Oleh karena itulah, orang-orang suci seperti beliau-beliau itulah yang berhak dan layak menulis kitab-kitab suci, akan memberikan penerangan sangat jelas dan pasti kepada seluruh dunia, bagaikan sinar terang benderang matahari yang menghalau kegelapan malam, menyebabkan segala sesuatu menjadi sangat jelas terang benderang, kecuali jika orang yang membaca kitab suci itu yang masih belum siap meninggalkan rasa iri hati, dengki, amarah, dan lain-lain, yang menyebabkan kitab suci itu akan "diterjemahkan" ke dalam kalimat-kalimat kecil dan dimanfaatkan untuk pencapaian kepentingan-kepentingan duniawi.

Kinatwanganing ing tri loka: beliau dipuja-puja oleh bukan hanya para penduduk bumi ini tetapi juga oleh seluruh penduduk Triloka, termasuk para dewa/malaikat. Jika para pengagum Maharesi Krsna-dvaipayana Vyasa juga termasuk para resi, muni, yogi dan bahkan para dewa, maka dapat dibayangkan siapa dan bagaimana Maharesi Vyasa tersebut. Dan... itulah orang suci "Nabi" dari agama Sanatana, agama kekal abadi. Kebanggaan "mengenai" dan mendapat karunia "tetesan amerta" dari kitab-kitab suci Veda yang ditulis oleh beliau, sepantasnya dimiliki oleh insan manusia di atas muka bumi ini, baik yang sudah lahir dahulu, oleh kita-kita yang lahir pada zaman sekarang ini, dan termasuk oleh mereka yang akan hadir lahir di dunia ini pada masa yang akan datang.

Sebagaimana Omkara adalah avatara Tuhan dalam bentuk aksara suci, dalam bentuk kitab suci adalah Bhagavad Gita, dalam bentuk mantram adalah Gayatri, demikian pula Maharesi Vyasa adalah avatara Tuhan YME dalam rupa seorang Maharesi. Barangkali itulah yang menyebabkan Ganesa berkenan menjadi "sekretaris"nya, sampai mengorbankan satu taringnya yang dipergunakan untuk menuliskan amerta Veda yang disampaikan oleh Maharesi Vyasa.

Bagi mereka yang ingin menyampaikan sembah sujudnya kepada Maharesi Vyasa, dapat melakukan pemujian setiap pagi mengawali sembahyangnya, atau sebelum memulai membaca kitab suci dengan doa pujian berikut: Namos'u te vyasa visala-budhir, phullaravindayata patra-netram, yena tvaya bharata-taila purnah, prajvalito-jnana-mayah pradipah.

Rumentasaken petengning aj-nananing sarva-bhawa: Maharesi Vyasa juga memiliki kemampuan untuk menghalau kegelapan atau kebodohan seluruh makhluk hidup. Kata sarwa-bhawa menunjukkan seluruh makhluk hidup, dan bukan hanya manusia (lihat cerita "Sang Ulat dan Maharesi Vyasa"). Kadang, pada teks lain penulisan petengning ajnananing tertulis petengning jnananing. Dalam petengning ajnananing dimaksudkan penegasan kata kegelapan/kebodohan, dan hal ini merupakan hal yang sangat biasa dalam penulisan sastra. Namun, penulisan petengning jnananing juga tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab ia berarti kegelapan pengetahuan, yaitu kebodohan. Rumentasaken, bahwa beliau mampu menghilangkan, petengning jnananing, kegelapan pengetahuan alias kebodohan. Namun, jika kita kembali kepada teks, maka kemungkinan besar teks sumber adalah petengning ajnananing.

Sering kita melihat orang disembah-sembah di dunia ini. Memang kecenderungan orang-orang yang sifat rajas-nya masih cukup dominan adalah suka memuji atau menyembah manusia terkenal atau sakti. Ada yang memuja bintang film Hollywood atau Bollywood, ada yang memuja pemain sepak bola, pembalap, atau kalau di India publik sangat mudah mengagung-agungkan dan memuja bintang olahraga kriket, bahkan memasang foto pemain kriket di altar pemujaan, lalu memujanya. Demikian pula di belahan lain dunia, pemujaan manusia dilakukan dalam bentuk lain. Tidak ada salahnya senang pada keterkenalan atau kesaktian, namun, orang hendaknya belajar menempatkannya dengan baik dan tepat sasaran.

Dalam bait di atas diberikan persyaratan yang indah perihal siapa yang patut "disembah". Tasmai namah, sembah sujud kepada beliau, atau dalam Jawa Kunanya sira ta sembahen, artinya beliaulah yang hendaknya disembah, beliau yang patut disembah. Beliau siapakah yang dimaksud? Apakah beliau-beliau yang mampu memberikan segala kehebatan duniawi seperti uang, rumah, pekerjaan, jabatan? Ataukah mereka yang mampu memberikan keris sakti, batu-batu berharga, cincin atau jimat-jimat yang berbau kesaktian?

Oleh: Darmayasa
Source: Bali Post Minggu Wage, 29 November 2016