Pertunjukan wayang menyimpan makna yang senantiasa berguna untuk direnungkan. Mpu Kanwa pun secara khusus menuliskan sebuah perumpamaan yang menarik tentang wayang. Sang kawi ingin menerangkan kepada kita suatu ajaran (lewat tokoh Hyang Indra yang menyamar sebagai pandita tua), bahwa duma yang nampak ini hanya sebuah pertunjukan yang dapat menyesatkan, tetapi tidak dapat menipu orang bijak, orang yang suci.
Dunia dengan segala yang menarik dan memberi kenikmatan indrawi, sesungguhnya adalah maya yang menimbulkan mala Oleh karena itu dalam konteks pembicaraan tentang wayang, Mpu Kanwa menulis : Hananonton ringgit manangis asekel mudha hidepan/ huwus wnih towin yan wawulang inukir molah angucap/hatur ning wwang tresneng wisaya malaha tar wihikana/ ri tattwanyan maya sahana hana ning Hawa siluman// (Ada orang menonton wayang kulit dengan lakon yang menenyedihkan, ia ikut menangis karena dungunya/ ia sudah mengetahui bahwa wayang itu adalah belulang yang diukir, menari dan berucap/ Seperti itulah orang yang dibelenggu oleh obyek indria, karena benar-benar tidak menyadarinya/ tentang maya-tattwa (filsafat kepalsuan), tentang apa yang ada ini adalah tipuan belaka//).
Lain lagi bahasa puitis Mpu Panuluh di dalam Hariwangsa ketika melukiskan keindahan alam : Ri hiring-hiring ing wukir sawahnya/ sawayang kaywan ikelir himawra/akidung surak ing kuwong tan asrak/asalunding ketuging taluktak ing gron// (Di pinggir sawah-sawah dan disepanjang lereng gunung, pohon-pohon menyerupai wayang-wayang yang nampak dalam kabut tipis yang meliputi segalanya. Lagu-lagu diperdengarkan oleh suara burung kuwong yang lembut, sedangkan suara derak-derik bambu didalam jurang menggantikan gambelan selonding). Disini Mpu Panuluh mengingatkan kita dengan burung kuwong vang juga disebut sebagai burung tuhu-tuhu. Tuhu artinya kebenaran, maka apabila ada orang yang diumpamakan sebagai kuwong maka ia sebenarnya adalah orang yang senantiasa menyuarakan kebenaran.
Di dalam kakawin Ramayana ada sebuah perumpamaan yang menyatakan bahwa burung kuwong adalah bagaikan seorang widu atau dalang (widu nawayang), yang tidak memiliki rumah sendiri dan tidak pula mempunyai ikatan keluarga tetap, maka ia pun adalah seorang pengembara. Namun dalam teks ini sang burung sering disindir dan dicemooh dengan ucapan: kong kasmala kuwong (engkau adalah burung kuwong yang kotor).
Begitulah burung-burung saling mencela, dan burung kuwong si burung yang senantiasa mengucapkan tuhu-tuhu pun tak luput dari cela. Namun sang pengarang sesungguhnya ingin menegaskan bahwa seorang dalang haruslah mengajarkan kebenaran, dan menyampaikannya dengan penuh keindahan. Dan pertunjukan wayang haruslah juga menjadi sarana menyampaikan ajaran kebenaran. Seperti halnya burung kuwong yang menyanyi merdu di pagi hari, menyanyikan pohon-pohon yang diselumuri kabut bagaikan wayang-wayang dibalik kelir, tersinar sinar matahari yang baru terbit, seperti itulah seharusnya pertunjukan wayang tersebut. Yaitu menyuarakan keindahan suara kuwong atau tuhu, burung yang menyuarakan "kebenaran".
Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 504 Desember 2008