Kutukan Ekalaya

Konon, sekian deret waktu berlalu, sampaiiah negeri Nishada diperinlah oleh seorang Raja yang bernama Hiranyadanu. Rakyat negeri ini, sangat gemar berjudi. Hiranyadanu menyadari, semua ini akibat kebodohan masyarakat yang mengabaikan pendidikan. Namun, berbagai langkah pencegahan dilakukan selalu saja gagal. Karena kegemaran itu, sudah mengakar dari sejak ribuan tahun lalu. Sulit diberantas. Ia mulai frustasi.

Hiranyadanu mempunyai putra bernama Ekalaya. Seperti pemuda kebanyakan, kesehariannya berpenampilan sederhana. Kendati berkulit sedikit gelap, ia sosok lelaki remaja tampan dengan wajah bersih, dagu lembut dan tubuh yang tegap.

Ekalaya memiliki otak cerdas. Berbagai ilmu dipelajarinya. Sehingga takayal, dahinya bersinar. Suatu hari, ia berpamitan pada orangtuanya. "Rama, aku akan berguru ke Negeri Hastina. Konon, disanalah turun kitab-kitab sastra termasyur. Sejak Parasara menorehkan tinta emas pengetahuan abadi, negeri itu bermandi cahaya..."
"Baiklah, Ananda. Demi ilmu, bila perlu pergi lah engkau ke batas langit. Namun ingatlah, setelah engkau kembali nanti, bangunlah negeri Nishada ini menjadi wilayah yang makmur dan sejahtera.

Ekalaya pergi ke Hastina. Mendaki gunung, menuruni lembali dilaluinya. Akhirnya, sampailah ia pada kota tujuan. Menurut cerita penduduk. Hastina mempunyai seratus lebih pangeran. Mereka semuanya cerdas dan pandai berkat didikan Rsi Drona. Terutama Arjuna. dialah di antara pangeran-pangeran Hastina yang paling hebat. Hampir seluruh kemampuan gurunya dikuasainya. Ekalaya hanya bisa mengangguk terkagum-kagum pada Guru Drona. Dan kemudian membayangkan, andaikata saja, ia diterima sebagai murid Drona.

Obsesi menjadi salah satu murid Drona menyiksa batin Ekalaya. Akhirnya, diputuskannya, untuk menemui Rsi Drona. Petang itu, Drona lagi melepas lelah, karena mulai pagi hingga petang, ia mengajar di istana. Saat keasyikan melantunkan syair kitab suci. Seorang pemuda, sekonyong-konyong muncul mengejutkannya. Rsi Drona menatap tajam mimik pemuda tampan penuh santun yang bersila di depannya. "Anak muda, bangunlah. Ada keperluan apa menemuiku ?".Ekalaya memperkenalkan diri. Lalu menjawab lugu,"aku ingin di angkat menjadi muridmu..."

Rsi Drona terpaku. Ia sangat terpesona oleh penampilan Ekalaya. Kalau saja ia tak bersumpah tidak mengangkat murid selain ksatria Hastina. Barangkali saja, Ekalaya bisa menjadi andalannya untuk mengimbangi kemampuan Arjuna.

Menurut kata hatinya, potensi tersembunyi yang dimiliki Ekalaya luar biasa. Pancaran aura tubuhnya sungguh sangat menyita perhatian. Seperti, tatkala ia berjumpa Arjuna tempo hari. Putranya, Aswatama yang diharapkan,ternyata masih dibawah kemampuan Arjuna. la sangat labil dalam emosi, sehingga akan mempengarahi intelektual dan spritualnya menuju tatanan stabil. Namun, Ekalaya tidak. la cukup sempurna. Hal ini terlihatjelas dari sorot matanya, kalau saja ia yang membimbing, sudah pasti Ekalaya menjadi ksatria pilih tanding, melebihi Arjuna.

"Jikalau berat memutuskan hari ini, esok atau kapanpun hamba siap menunggu jawaban Tuan..."
Drona tersentak. Lamunannya buyar.
"Tidak demikian, Anak muda. Aku tak bisa menerima dirimu sebagai murid karena engkau bukan ksatria Hastina. Dan itu, bagian dari sumpahkufkata Drona lembut.
"Baiklah, kalau begitu. Izinkan hamba memanggilmu Guru...'"
Drona bengong. "Betapa kuat tekad pemuda itu ?"pikirnya membatin.

Ekalaya yang kecewa,lalu pergi.Pikirannya kalut.Ia berusaha memaafkan Drona, karena telah bersumpah tidak mengambil murid selain ksatria Hastina. Pada sebuah bukit eadas, langkahnya terhenti. Tanpa sengaja matanya terpaku pada segumpal padas yang terkikis angin, sehingga menyerupai bentuk tubuh seseorang."Andaikan kuukir batu ini menyerupai patung Drona, alangkah indahnya. Dan, kubawakan padanya sebagai cenderamata,mungkin saja beliau luluh dan mcnerimaku menjadi muridnya..."

Ekalaya pun mencabut belati. perlahan tangannya menoreh garis merabentuk sketsa. Penuh kesabaran ia mengukir areanam Drona. Sekian purnama, barulah patung itu sempurna. Tatahan mengagumkan. Persis seperti aslinya. Baru saja ia hendak membawa patung ke rumah Drona. Melintas kembali pernyataan Drona, bahwa ia tak akan mengangkat murid selain ksatria Hastina. Ekalaya ragu. Akhirnya, diurungkan niatnya membawa patung Drona. "Baiknya. kustanakan areanam guru di tempatku berlatih ilmu." Sejak saat itu, Ekalaya berguru pada batu. Ia sering bercakap dengan areanam gurunya. Seolah dibimbing sang guru.

Suatu hari, para Pangeran Kurawa dan Pandawa berburu. Ia membangun kemah di pinggiran hutan. Tatkala mereka istrirahat. Anjing-anjing pemburu dilepas liar, dengan harapan salah satu dari mereka,mencium tempat persembunyian kumpulan rusa.

Salah seekor keluar jauh dari lokasi perkemahan. Dan, mengendus sesuatu di sekitar pondok Ekalaya. Kebetulan Ekalaya berada di sana. Dan mengejutkan anjing pemburu. Percuma Ekalaya memberi isyarat agar anjing itu berhenti menggonggong. Malahan sebaliknya menyalak sejadi-jadinya Ekalaya jengkel, diraihnya beberapa anak panah. Dan, plaaas....! Anak-anak panah itu meluncur ke arah anjing yang sedang menyalak santer. Luar biasa panah itu, tidak membunuh. Namun, terjalin rapi di mulut anjing yang sedang menganga. Keruan saja anjing itu ngacir ketakutan menuju perkemahan tuannya.

Semua siswa Drona terkejut. Mereka tak menduga ada seseorang yang mampu menandingi kemampuan Drona dalam membidik panah. Begitu pula Arjuna, mulutnya ternganga takjub.
"Guru, siapa gerangan yang mampu menandingi kehebatanmu ?" tanya Arjuna.

Drona yang melamun tersentak kaget. Jangan-jangan Bhargawa turun gunung. Selain dirinya, hanya Bhargawa yang mampu memanah sehebat itu.
"Arjuna, ayo kita cari si pemilik panah, pasti tidak jauh dari sini...aku curiga hanya Bhargawa yang mampu melakukannya..."

Arjuna dan Drona menemui si pemilik panah. Setelah setengah hari mencari, barulah mereka bertemu. Betapa terkejut Drona, ternyata yang dijumpainya hanyalah pemuda berkulit gelap dan begitu asing baginya. Ia lupa pernah bersua dengannya tempohari.
"Wahai Anak muda, engkau sangat hebat. Aku kagum akan kemampuamu..."
"Terimakasih..."sahut Ekalaya tenang.
"Bisakah engkau menunjukkan kepadaku, kebolehanmu yang lain?"

Wajah Ekalaya berbinar. Inilah ujian sesungguhnya, sudah lama ia berguru pada Areanam Drona. Sekarang, ya sekaranglah Dewata mengutus gurunya datang memberikan ujian.
"Baiklah, Guru..."kata Ekalaya.

Mendengar sebutan guru pada Drona. Arjuna cemberut. Kentara sekali perasaannya iri oleh kemampuan Ekalaya. Bisik hatinya, gurunya telah berbohong. Janjinya akan memberi ilmu utama padanya hanyalah sekedar janji, bukan sesungguhnya. Buktinya, ada muridnya yang lain.

Di pihak Drona, justru dengan panggilan guru membuatnya terperanjat. Ingatannya yang melamur tadi, perlahan terang. Ya, pemuda di hadapannya tidak lain pemuda yang pernah mendatanginya tempohari. "Benar, ia ksatriaNishada yang bernama Ekalaya..." katanya membatin.

Ekalaya mematung, ia meditasi. Lalu mengeluarkan panah Brahmastra dan merentang busur. Panah meluncur mengeluarkan desing. Kecepatannya luar biasa, lalu berubah menjadi seekor naga yang siap memagut lawan. Pada saat panah menemui sasaran, bumi pun bergoncang. Pohon bertumbangan. Rumput terbakar.Hangus.Sebelum sempat menghancurkan lebih lanjut, Ekalaya memanggil panah itu dan masuk ke tempatnya.

Drona bertepuk tangan. Kagum. Arjuna cemberut, lalu menghujat gurunya. "Sekarang, tampaknya engkau memberikan janjimu pada orang lain... "pek i knya.
Drona tertampar malu. Lantas menoleh ke Ekalaya.
"Rasanya, aku tak pernah mengajarimu. Dari mana kamu berguru ?"
Ekalaya tersenyum, lalu membuka penutup areanam gurunya.
"Akh...?!" Mereka serentak terpekik kaget.Memandangi wajah patung yang persis wajah Rsi Drona.

Di balik rasa kagum,ia berusaha menutupi gejolak perasaannya. Drona punmemutarotak.Andaikata, Ekalaya dibiarkan terus melaksanakan hasratnya. Sudah tentu, dialah yang akan menjadi pemanah hebat bukan Arjuna. "Hal ini tak boleh terjadi! !"tegas hatinya."Ekalaya, kamu keliru. Sangat keliru! Aku tak pernah menganggapmu menjadi murid. Ini namanya mencuri, ya meneuri ilmu. Inilah yang mendasari aku tak mau mengangkatmu menjadi murid. Ingatkah engkau, sejarah leluhurmu yang gemar judi ? fabiat judi, tidak jauh dari mencuri. Hukumannya sangat berat..."
"Maafkan aku guru...."
"Kamu bisa menjadi muridku, hanya dengan satu syarat..."
"Syarat apapun akan kuterima, asal aku sah menjadi muridmu."
"Karena mencuri, aku minta ibu jari tangan kananmu..."
"Akh... ["Ekalaya terkejut. Namun ia tersenyum, lalu mencabut belati dan memotong ibu-jarinya sendiri dengan tangannya sendiri. Drona menerima ibu-jari yang berlumuran darah dengan harapan Ekalaya tak mampu menggunakan ilmu panah saktinya.

Mereka pun pergi meninggalkan Ekalaya. Sembari mengelus dada, Ekalaya menarik nafas panjang. "Engkaulah penyebab semua ini. Egoisme yang engkau miliki merugikan orang Iain. Aku tak akan memaafkanmu. Memang leluhurku penjudi. Sedang aku tidak. Aku tak terima, perbuatan leluhurku dibawa-bawa. Ingatlah, pada waktunya nanti seluruh keluargamu akan mendapat bencana seperti apa yang pernah terjadi pada keluargaku...wahai, Arjuna !"teriak Ekalaya.

Tiba-tiba petirmenyambardi siang bolong. Kutukan Ekalaya diterima Dewata. Benar, pada saat pertarungan dadu. Pandawa dikalahkan Kurawa. Parahnya, selain istana, permaisurinya Drupadi pun dipertaruhkan.
Penulis tinggal di Mataram, NTB.

Oleh: Putu Sugih Arta
Source: Media Hindu