Menanamkan ajaran kepemimpinan sesuai sumber suci agama Hindu kepada para generasi muda (sekati teruna) atau kelompok muda-mudi bangsa Indonesia, para pemimpin dalam bidang kependidikan seperti kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para pengawas ataupun komponen kependidikan yang lainnya dalam bidang pendidikan dari berbagai jenjang adalah upaya positif dan terpuji untuk meningkatkan pemahaman serta praktek kepemimpinan Hindu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Generasi muda merupakan kader penerus bangsa dan para kepala sekolah, wakasek dan para pengawas adalah para pemimpin yang handal di bidang kependidikan yang secara teori dan praktek masih perlu dibekali materi serta pemahaman kepemimpinan sejak dini dan berkesinambungan tanpa pernah mandeg.
Upaya memberikan pembekalan melalui pelatihan maupun pelaksanaan orientasi yang bersifat rutin sangat diperlukan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk selalu mengupayakannya. Pihak pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk memantapkan jiwa kepemimpinan Hindu dari para pemimpin Hindu. Komponen manapun sudah sewajarnya turut serta dan ikut meningkatkan upaya ke arah positif, agar para pemimpin Hindu di Bali pada masa kini dan di masa depan dapat lebih berperan secara nyata dalam berkontribusi kepada bangsa dan negara Indonesia.
Untuk terwujudnya hal itu, maka upaya dan perhatian terhadap para pemimpin Hindu perlu ditingkatkan lagi oleh berbagai pihak, baik pemerintah daerah kalangan pendidikan formal termasuk pihak diknas seperti kali ini dimotori oleh dewan pendidikan nasional kota Denpasar, para tokoh agama dan masyarakat, maupun oleh para orang tua di masing-masing keluarga. Kemudian dalam realitas di lapangan, terutama dalam penerapan pola kepemimpinan Hindu dalam dunia pendidikan, apakah telah mengacu pada sumber susastra agama Hindu yang ada. Atau apakah ada keterlibatan yang nampak oleh para pemimpin Hindu, khususnya para pendidik yang berbekalkan ajaran agama Hindu dapat berimplikasi pada kesuksesan/keberhasilan pendidikan formal.
Harapannya adalah dapat memberikan manfaat positif dari adanya kategori para pemimpin Hindu (Guru agama Hindu, guru kelas, dosen, kepala sekolah, wakasek, pengawas, ketua, direktur, rektor, perbekel, camat, bupati, gubernur atau yang lainnya yang beragama Hindu pada khususnya), sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan pendidikan agama Hindu serta mengenai hakikat pendidikan pada umumnya dalam pendidikan formal. Juga bagaimana para pemimpin Hindu (para kasek, wakasek, pengawas) dalam mengantisipasi dilema pendidikan dewasa ini serta bagaimana strategi yang ditempuh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi guna menemukan kesuksesan pelaksanaan pendidikan dalam pendidikan formal.
Selanjutnya dalam realita di masyarakat, bahwa pembinaan dan perhatian terhadap pendidikan merupakan tanggung jawab bersama-sama. Pihak kasek, wakasek, dan pengawas adalah pembina dan pengarah pertama kepada para peserta didik untuk dapat menjadi anak sebagai kader keluarga, kader bangga, kader negara ini yang berkualitas (suputra ca suputri). Lembaga keluarga sebagai tempat penggembleng rutin dan pertama bagi generasi muda Hindu dan dilanjutkan ke jenjang pendidikan formal di sekolah menengah atas, sekolah kejuruan dan sekolah lainnya di wilavah kota Denpasar. Keberhasilan yang dimiliki oleh peserta didik dalam tingkat keluarga dan pendidikan formal merupakan modal utama untuk dibawa serta dijadikan bekal dalam menapak aktivitas dan kreativitas di tingkat selanjutnya, apakah itu di tengah-tengah masyarakat maupun dalam jenjang pendidikan formal yang dimulai dari tingkat prasekolah sampai pada jenjang pendidikan tinggi.
Maka dari itu, sesungguhnya berkenaan dengan upaya peningkatan kualitas SDM Hindu ke depan merupakan tanggung jawab serta kewajiban bersama-sama dari semua lini. Kalau di keluarga ada orang tua yang bertanggung jawab, jika di masyarakat ada tokoh masvarakat, tokoh agama, para intelektual Hindu, para praktisi kepemudaan yang turut serta membidani peserta didik untuk dapat menjadi kader bangsa yang berkualitas. Selain itu, bahwa pihak lembaga swadaya masyarakat, pihak pemerintah, dan pihak lainnya yang terkait untuk ikut kerja bareng saling melengkapi dalam mewujudkan kader Hindu menuju kepada kualitas pemimpin Hindu yang mumpuni dan siap berkompetisi di segala bidang di masa depan.
Leadership Dalam Agama Hindu
Bagaimana bentuk kepemimpinan (leadership) sesuai sumber sastra agama Hindu? Berikut ini akan dipaparkan berdasarkan sumber dalam pustaka suci Manawadharmasastra, Niti Sastra, Itihasa, dan dalam pustaka suci Weda. Beberapa sumber suci Hindu seperti tersebut di atas diharapkan dapat diacu serta dijadikan sumber tuntunan oleh para pemimpin Hindu maupun oleh para kader muda Hindu dalam menunaikan swadharmanya dalam memberikan pelayanan kepada umat Hindu, terlebih lagi dalam kaitannya dengan dunia pendidikan formal dan dalam upaya untuk melakukan pembinaan kepada generasi muda Hindu, kepada para sekaa teruna, kepada para peserta didik di berbagai jenjang pendidikan yang ada di masing-masing daerah di Bali, terutama sekali yang saat ini kepada para kasek, wakasek, dan pengawas kependidikan di wilayah kota Denpasar.
1. Kepemimpinan dalam Manawadharmasastra
Dalam pustaka suci Manawadharmasastra terutama dalam Saptamodhyaya, sloka empat ada ditegaskan mengenai bentuk kepemimpinan Hindu yang terdiri atas delapan bentuk atau tipe yang disebut asta brata. Untuk jelasnya dapat diperhatikan kutipan begikut ini.
Indranilayamarkanam agnesca warunasya
ca candrawittescaiwa matra nirhrtya saswatih
Untuk memenuhi maksud tujuan itu (raja) harus memiliki sifat-sifat partikel yang kekal dari pada Dewa Indra, Wayu, Yama, Surya, Agni, Waruna, Candra, dan Kubera (Pudja dan Tjok Rai Sudharta, 2003; 353).
Apa makna yang dikandung dari kutipan sloka di atas? Secara sederhana dapat dijadikan renungan suci bagi para pemimpin Hindu dalam menjalankan kewajibannya (rajadharma), sehingga segala upaya yang dilakukan dapat bermakna dan memberikan kontribusi positif dan dinamis terhadap obyek yang dipimpinnya, dalam hal ini bagi para kasek, wakasek, dan pengawas di tingkat pendidikan formal di kota Denpasar dalam rangka untuk memajukan serta meningkatkan kualitas pendidikan formal di wilayahnya kota Denpasar pada khususnya dan di Bali pada umumnya.
Secara lebih rinci bahwa pemimpin Hindu hendaknya memiliki sifat atau karakter kepemimpinan yang alami dan berkarisma sesuai dengan prabhawa Dewa Indra yakni adanya perlakuan yang sama dalam bertindak serta tidak memihak. Pemimpin Hindu juga memiliki sifat yang mampu memahami semua aspek dan lapisan warga yang dipimpinnya, seperti prabhawa Dewa Wayu atau dewa angin, yang bersifat memberikan perhatian yang merata dari berbagai lini. Juga memiliki sifat atau prabhawa Dewa Yama atau dewa maut, bahwa pemimpin Hindu agar memiliki perlakuan adil tanpa pandang bulu, bila benar dibenarkan dan dipuji, bila salah disa-lahkan dan diberi sangsi. Selain itu juga bahwa pemimpin Hindu agar memiliki prabhawa Dewa Surya, yakni dapat berlaku tegas dalam memberikan pelayanan serta tuntunan, tidak lantas berlaku kabur terhadap obyek dan subyek yang tidak disukainya. Dalam hal ini tidak dibenarkan berlaku atas dasar suka dan tidak suka dan hendaknya tetap berpenampilan tegas dan lugas terhadap semua hal dalam konteks kepemimpinannya.
Pemimpin Hindu juga berlaku sebagai pendorong semangat bagi yang dibinanya, tidak saja itu diharapkan juga sebagai pembangkit gairah kerja, belajar, berusaha, serta aktivitas lainnya ke arah peningkatan dengan memaknai sifat atau prabhawa Dewa Agni atau dewa api. Selanjutnya pemimpin Hindu agar memiliki sifat atau prabhawa Dewa Waruna atau dewa air/dewa laut, yang berlaku untuk memberikan perhatian dan pelayanan menuju kesejahteraan, kesuburan, kemakmuran secara merata kepada semua pihak. Pada bagian lain agar memiliki sifat atau prabhawa seperti Dewa Candra atau dewa bulan, yakni dapat memberikan pelayanan serta penerangan yang lembut, sopan, ramah, simpati, serta dapat merangkul hati nurani setiap warga yang dipimpinnya. Tidak dibenarkan berlaku congkak, kasar, kejam, sadis, dan menyakiti hati insan yang dipimpinnya. Satu sifat yang penting lagi adalah agar pemimpin Hindu agar memiliki sifat seperti Dewa Kubera yaitu untuk memberikan ganjaran, upah, serta kekayaan yang layak kepada rakyatnya. Jadi kedelapan bentuk atau sifat kepemimpinan Hindu itu dinamai astra brata, yakni Indra Brata, Wayu Brata, Yama Brata, Surya Brata, Agni Brata, Waruna Brata, Candra Brata dan Kubera Brata.
2. Kepemimpinan dalam Niti Sastra
Salah satu sumber ajaran kepemimpinan dalam agama Hindu adalah bersumber pada niti sastra. Apa yang dimaksud dengan Niti Sastra ? Kata Niti artinya ilmu tata negara atau politik, taktik, rencana (Tim Penyusun, 2005: 64). Sedangkan Sastra artinya 1. alat mengajar, buku, agama; 2. tulisan, huruf, sastra, bahasa (Tim Penyusun, 2005 : 101). Jadi Niti Sastra merupakan sastra atau ilmu yang berkenaan dengan kepemimpinan, tata politik, tata negara, dan yang sejenisnya dalam pandangan agama Hindu. Singkatnya bahwa Niti Sastra adalah ilmu tentang kepemimpinan dalam agama Hindu.
Menurut Wiana bahwa pada mulanya Niti Sastra sebagai ilmu bangun masyarakat sejahtera dikenal dengan berbagai istilah. Niti Sastra dikenal pula sebagai Raja Dharma, Dandaniti, Raja Niti, dan istilah yang paling tua adalah Artha Sastra. Memperhatikan beberapa istilah yang memiliki makna dan maksud yang sama tersebut di atas, bahwa Niti Sastra yang lebih dikenal sebagai ilmu kepemimpinan dalam Hindu. Jadi merupakan pengetahuan secara khusus dalam pandangan Hindu yang mengajarkan bagaimana seorang pemimpin dalam menerapkan cara atau taktik untuk mengendalikan rakyatnya ataupun warganya.
Hal-hal apa saja yang bisa dijadikan panutan dalam kepemimpinan sesuai ajaran Niti Sastra? Secara sederhana bahwa materi kepemimpinan tersebut sesuai ajaran Niti Sastra adalah materi kepemimpinan yang diterapkan dalam memimpin suatu negara, terutama saat sistem pemerintahan Hindu adalah dengan sistem kerajaan (rajya). Sebagai pemimpinnya adalah seorang raja yang didampingi oleh seorang permaisuri atau ratu. Pemimpin Hindu yang ideal adalah adanya seorang raja dan seorang ratu. Itulah sebagai pola yang nampak dalam sistem kepemimpinan Hindu yang dinamai Niti Sastra.
Saat modern ini apakah masih relevan? Hal itu dapat dikatakan sangat relevan walaupun telah mengalami perubahan dalam tatanan pemerintahan. Tetapi pola ilmu kepemimpinan Hindu tersebut masih banyak diterapkan oleh para pemimpin kita, apalagi untuk dipahami dan dipedomani oleh para generasi muda Hindu, termasuk di dalamnya adalah para krama sekaa teruna, prajuru banjar pakraman, prajuru desa pakraman. tokoh agama, tokoh masyarakat, pemimpin di bidang kependidikan termasuk juga para kasek, wakasek, dan pengawas, dan sebagainya.
Hal yang menarik bahwa sistem kepemimpinan Hindu yang dinamai Niti Sastra telah banyak digunakan oleh para pemimpin dewasa ini, terutama dalam hubungan dengan sosial kemasyarakatan, ketatanegaraan, keagamaan, adat-istiadat, hukum, ekonomi, politik, tata pemerintahan modern, juga oleh kalangan generasi muda Hindu (Sekaa teruna), kalangan bidang pendidikan (kadek, wakasek, pengawas) dan sebagainya. Itu berarti bahwa nilai kepemimpinan Hindu yang tersohor dengan nama Niti Sastra itu masih cocok dan efektif dijadikan pola, model, tipe, maupun metode dalam memimpin warganya atau kramanya. Terlebih lagi dalam kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan dalam jenjang formal, pendidikan informal, maupun nonformal.
Dalam Niti Sastra ada dikenal pola kepemimpinan Catur Widya, antara lain : 1) anwiksaki (memperhatikan kondisi disekitarnya), 2) weda trayi (tiga jenis weda sebagai pedoman pemimpin yakni rgveda sebagai pedoman doa, samaveda sebagai pedoman dalam lagu pujaan, dan yajurveda sebagai pedoman pemimpin dalam melakukan persembahan, 3) varta (cara dalam mengupayakan kemakmuran serta kesuburan dalam kaitan pertanian), yang maksudnya bahwa pemimpin juga memerlukan upaya nyata untuk memajukan pertanian masyarakat agar tercapainya kesejahteraan masyarakat itu sendiri; dan 4) dandaniti (yang berkenaan dengan ilmu pemerintahan).
Jadi ada empat hal prinsip bagi pemimpin, yakni memimpin sesuai kondisi sekitar, berdasar tiga sumber pustaka suci Hindu, memajukan pertanian atau ekonomi kerakyatan, serta memahami ilmu pemerintahan, mungkin saat sekarang relevan dengan ilmu pemerintahan yang dipelajari di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri. (Lanjutan)
Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 491 November 2007