Mantra Suci Rg Veda Mengawali Rekaman Suara "Gramophone"

"Agnimile purohitam yajnasya devam rtvijam hotaram ratnadhatamam"
(Rg Veda Mandala I Sukta 1 Mantra 1)

"Hamba mengagungkan Hyang Agni, Sang Purohita Pendeta Penasihat, yang Maha Agung, pemimpin upacara suci, Sang Ritvik Pendeta Utama Rg Veda, dan yang terbaik yang melimpahkan kekayaan"

Mantra di atas adalah mantra sangat terkenal dari Veda khususnya Rg Veda. Ia merupakan Mantra Pertama, Sukta Pertama, Mandala Pertama dari Rg Veda yang menjelaskan perihal keutamaan api (Agni) khususnya dalam upacara-upacara suci.

Agni menempati kedudukan sangat penting di dalam mantra-mantra Veda khususnya Rg Veda, memiliki 7 lidah, yaitu Kali, Karali, Manojava, Sulohita, Sudhumravarma, Visvaruci, dan Sphuhngini. Selain untuk keperluan normal sehari-hari, dalam tradisi Veda Agni berperan sebagai Jataveda (penyampai persembahan-persembahan kepada Tuhan) dan Krauyada (sebagai pembakar Saua/mayat). Tradisi agama Hindu di Bali sangat sejalan dengan peran Agni yang terdepan dalam Veda. Penggunaan Agni atau api sebagai simbol kehadiran Sang Hyang Agni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan upacara. Bahkan lebih jauh praktik agama spiritual Bah juga mengenal berbagai jenis Agni di dalam badan sarira, seperti Agni Panca Warna (ngamedalang agni panca warna ring sariranta).

Terdapat beberapa jenis penggunaan api suci yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula dalam praktik-praktik keagamaan di Bali, antara lain:

Dupa (Dhupa), penggunaan api suci yang paling umum bisa dilihat, dipergunakan dalam setiap ritual mulai yang paling sederhana hingga yang sangat besar; Dipa atau Dipaka, dinyalakan dengan sarana kapas sebagai sumbu dan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya; Pasepan, bara api terbuat dari kayu cendana, majegau dan lain-lain yang memberi aroma harum religius;

Api Takep, dibuat dengan menggunakan dua keping sabut kelapa kering, posisi kedua keping serabut kelapa ini membentuk tanda + yang disebut sebagai "Tapak Dara" yang merupakan bentuk dasar dari Swastika. Api Takep digunakan dalam "Segehan Agung" yang berfungsi untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dan lingkungannya; Tetimpug, pembakaran ruas bambu hingga meledak, digunakan dalam upacara Byakala/Byakaon. Bunyi ledakan 3 kali menandai upacara segera dimulai;

Damar Kurung, bentuknya seperti lampion. Secara tradisional, api di dalam Damar Kurung dinyalakan menggunakan sumbu kapas dan minyak kelapa dengan wadah dari kelapa yang dibelah dua dan yang dipakai adalah bagian bawahnya. Belakangan ini mulai digunakan lilin. Damar Kurung adalah simbol lampu penuntun bagi Sang Atma/Roh melintasi Margin Sanga dalam perjalanannya menuju alam sesudah kematian badan kasarnya;

Prakpak, dibuat dari daun kelapa kering (Bali: danyuh) yang dibakar. Digunakan dalam ritual "ngrupuk" yang dilakukan pada Tilem Kasanga, sehari sebelum hari raya Nyepi; Tombrog, dalam bahasa Indonesia disebut obor. Terbuat dari ruas bambu yang diisi minyak dan sabut kelapa sebagai sumbunya. Fungsinya sama dengan Prakpak; Sundih, berupa pelita sebagai penerang jalan bagi sang Atma ketika jenazahnya dibawa ke kuburan; Sambe Layar, seperti Dipa yang digunakan oleh pawang hujan untuk "Nerang", menolak datangnya hujan;

Api Tabunan, berbentuk api unggun untuk menyucikan suatu tempat yang kotor akibat adanya darah yang tercecer kare-na kecelakaan atau sebab lainnya; Api Ganjreng, ini juga berbentuk pelita/dipa, tetapi ditempatkan di tempat menanam ari-ari bayi; Api hinting, terbuat dari lidi yang diliht kapas kemudian dicelupkan ke dalam minyak kelapa dan digunakan untuk memilih nama bayi: Blencong, digunakan oleh Dalang wayang kulit sebagai simbol Dewa Surya.

Sehubungan dengan Agni, terdapat informasi yang "lepas" dari perhatian kebanyakan dari kita, sehubungan dengan perkembangan teknologi rekam suara, yang umat se-Dharma pasti sangat berbangga mengetahuinya.

Gramophone merupakan alat untuk memutar lagu pada zaman dulu, digunakan untuk menyetel musik lewat piringan hitam. Penemunya adalah Thomas Alva Edison pada abad ke-19-an (tahun 1877). Pada awalnya lebih dikenal dengan nama Phonograph. Alexander Graham Bell menyempurnakan Phonograph menjadi lebih baik dengan nama Graphophone. Akan tetapi, kemudian seorang warga Jerman kelahiran Amerika bernama Emile Berhner (1887) mengembangkannya dalam bentuk piringan hitam dan lebih dikenal dengan nama Gramophone. Ia patenkan hasil karyanya dalam label Berhner Gramophone.

Ada hal yang selama ini tidak banyak diungkap sehubungan dengan mesin rekam suara tersebut, bahwasanya sang penemu, Thomas Alva Edison sangat berbangga dengan penemuannya tersebut. Ia lalu berkeinginan agar orang yang pertama kali suaranya direkam dengan mesin rekam suara tersebut hendaknya seorang sarjana terpelajar tingkat dunia, yang memiliki keterpelajaran sangat tinggi.

Thomas Alva Edison menemukan nama seorang sarjana hebat asal Jerman bernama Prof. Max Muller. Ia menulis surat kepada Max Muller dan direspons langsung oleh Max Muller. Thomas Alva Edison diberitahukan oleh Max Muller bahwa dalam waktu dekat akan ada pertemuan para sarjana hebat Eropa di Inggris. Maka pergilah Thomas Alva Edison ke Inggris menaiki Kapal Laut.

Pada pertemuan tersebut, ternyata ribuan sarjana hebat berkumpul. Thomas Alva Edison sangat gembira akan hal ini. Ia pun diperkenalkan di hadapan ribuan sarjana tersebut. Seluruh sarjana yang hadir sangat tertarik dan terkagum-kagum akan berita penemuan Thomas Alva Edison tersebut.

Setelah sambutan tepuk tangan riuh dari para sarjana, akhirnya Thomas Alva Edison meminta Prof. Max Muller datang ke atas podium dan meminta agar berkenan suaranya direkam. Rekaman pun dilakukan dan suara Max Muller direkam.

Selesai rekaman suara. Thomas Alva Edison meluncur ke studionya dan kembali lagi ke tempat pertemuan di sore hari. Ia lalu memutar dan memperdengarkan hasil rekaman suara Max Muller tersebut pada seluruh hadirin. Disk diputarkan dan suara yang keluar dari Gramophone tersebut yaitu suara Max Muller didengarkan kembali oleh seluruh sarjana yang hadir. Untuk pertama kalinya orang-orang mendengar langsung bahwa suara dapat diabadikan. Mereka sangat terkagum-kagum akan penemuan tersebut, yang bagi kita yang lahir pada zaman sudah sangat maju seperti sekarang ini dimana alat perekam suara sudah sedemikian canggihnya sampai handphone pun bisa merekam suara, bagi kita barangkali hal ini tidak begitu berkesan. Akan tetapi, pada waktu itu, bagi mereka yang pertama kali mendengar suara bisa diabadikan dalam alat mesin tentu saja menjadi sangat keheranan dan tiada hentinya memuji kehebatan Thomas Alva Edison.

Setelah pujian-pujian hampir terhenti, Max Muller kembali naik ke podium, lalu berkata, "You heard my original voice in the morning. Then you heard the same voice coming out from this instrument in the afternoon. Did you understand what I said in the morning or what you heard this afternoon? Tadi pagi Anda semua mendengar suara asli saya. Sore ini Anda mendengarkan suara saya yang sama keluar dari alat ini. Apakah Anda semua mengerti apa yang saya ucapkan tadi pagi itu atau apa yang Anda dengarkan sore ini"

Terhadap pertanyaan Max Muller tersebut, tidak ada satu pun yang menjawab bahwa mereka mengerti apa yang diucapkan oleh Max Muller dalam rekaman suara tadi. Kebanyakan dari mereka mengertinya kalimat-kalimat "aneh" seperti itu pastilah dari bahasa Latin atau Yunani. Max Muller selanjutnya mengatakan bahwa apa yang diucapkan tadi itu adalah kalimat-kalimat dalam bahasa Sanskerta. Ia adalah mantra pertama dari Rg Veda Mandala Pertama, Sukta Pertama dan Mantra Pertama (Rg Veda I, Sukta 001, Mantra 01).

Mantra Agnimile purohitam kembali diperdengarkan, dan seluruh hadirin pada berdiri memberikan rasa hormatnya kepada Mantra Suci I, Sukta I, Mandala I dari Rg Veda tersebut. Kali ini mereka tidak berdiri sambil vertepuk tangan melainkan hanya "sepi hormat" pada suci yang menganugerahkan rasa sepi spiritual, sepi dari "hiruk pikuk dunia" selagi hidup di dunia. Karunia maha karunia seperti itulah yang di-"hujan"-kan oleh ajaran-ajaran suci Veda, yang kita kebanyakan sedang "berbangga" mengabaikannya.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Paing 31 Juli 2016