Bagi agamawan, persoalan Yang Ada itu jamak atau tunggal adanya bukanlah menjadi persoalan. Persoalan Tuhan sebagai Yang Ada telah selesai menurut keyakinan yang dite-rima melalui masing-masing kitab sucinya. Juga melalui otoritas orang suci yang dipercayai kebenaran pandangannya. Tidak demikian dengan para filsuf yang sejak dahulu kala senantiasa memusatkan perhatiannya pada persoalan hubungan antara yang tunggal dan yang jamak itu, persoalan hubungan kawula yang jamak itu dengan gusti yang tunggal. Para filsuf sungguh-sungguh meneliti persoalan itu, entah melalui permenungannya ingin memberikan dasar rasional bagi pandangan-pandangan relegiusnya, entah karena mereka melepaskan diri dari suatu kaitan langsung dengan agama untuk menerangkan kausa Yang Ada dalam kaitan hubungan antara yang tunggal dan yang jamak.
Menurut Zoetmulder (1987) bagi para filsuf Yunani Kuna seperti Thales, Anaximandar, dan Parmenides di belahan dunia Barat, kausa yang ada merupakan masalah utama, bahkan masalah satu-satunya yang bah-kan sampai sekarang masih tetap aktual. Para filsuf terus menerus bermaksud menggali sampai menemukan dasar terdalam yang menopang segala sesuatu, menemukan prinsip yang menerangkan Adanya segala sesuatu itu atau sintesa yang menghubungkan kejamakan dalam gejala-gejala sehingga dijadikan ketunggalan. Demikianlah hakikat filsafat itu, scientia rerum per causa ultimas, pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab musabab yang paling dalam.
Pada sisi yang berbeda filsuf agama Hindu Rsi Shang-karacarya (788-820 SM), menjelaskan doktrin advaita wedanta berdasarkan teks-teks Sanskerta yang membahas adanya yang satu dengan yang jamak pada hakikatnya berasal dari benih yang sama, yaitu Nirguna Brahman (Brahman: Tuhan tanpa atribut) sebagai paramatman. Oleh karena itu, atman yang Ada di dalam diri manusia, pada waktunya kembali kepada paramatman atau Nirguna Brahman.
Rsi Shangkaracarya yang diyakini telah menguasai Kitab Suci Weda saat muda belia berumur 8 tahun, menggunakan kitab-kitab Brahmasutra, Upanisad, dan Bhagawagita untuk mendukung tesisnya bahwa yang membedakan agama Hindu dengan agama lain terletak pada kebenaran advaita wedanta. Paham nondualitas antara Yang Ada dengan Yang Jamak. Beroposisi dengan paham dvaita (dualisme) yang memisahkan antara Yang Ada dengan Yang Jamak.
Paham dvaita merefer premis tattvapada atau bheda-vada yang menjelaskan Yang Ada tiada dalam Yang Jamak. Oleh karena itu tidak akan pernah melesam menjadi satu seperti doktrin yang dibangun oleh Shangkaracarya melalui doktrin advaita wedanta.
Segera setelah Adi Shangkaryacarya yang juga disebut Shangkara Bhagavada atau Shangkara Bhagavad-padacarya, advaita wedanta menjadi pegangan seluruh pemeluk Agama Hindu. Advaita wedantai kemudian dikenal sebagai ajaran monistik yang segera menyebar ke seluruh dunia.
Secara sederhana, paham monisme yang dikemukakan olah Adi Shangkaracharya yang mendirikan empat monasteri di India, yaitu Badri-natha di Himalaya, Dwarika di pantai Barat, Puri di Pantai Timur, dan Sringeri di daerah Mysore merupakan pemahaman revolusioner di tengah tuduhan tak berdasar terhadap agama Hindu yang disebut sebagai ajaran politeisme.
Advaita menjelaskan eksistensi Yang Ada sebagai nondualitas, sebagai yang tung-gal. Menurut Adi Shangka-racarya, atman (Yang Jamak itu), sama dengan Brahman (Yang Ada itu). Ini berarti esensi subjektifitas bersatu dengan esensi Yang Jamak, yang berwujud nyata di dunia ini. Yang Jamak terpapar di dunia ini dengan segala isinya, bahkan universe, tergantung pada esensi Yang Ada secara keseluruhan, yaitu Brahman. Namun Brah-man sendiri tidak tergantung pada Yang Jamak yang eksis bersama dunia ini.
Brahman Yang Ada tunggal itu adalah dasar seluruh pengalaman, ia tidak sama dengan Yang Jamak di dunia ini. Akan tetapi juga tidak berbeda dengan dengan Yang Jamak. Ia merupakan fakta mental (menti fact) yang tidak empirik, tidak objektif. Namun bukan tidak ada dan sangat berbeda dari yang lain. Moksa atau "pembebesan" diri dicapai melalui praktek devosi dan mewujudkan nilai-nilai etis. Inilah yang dicapai selama orang hidup.
Segala Yang Ada, semua makhluk, baik yang hidup maupun yang tidak hidup, baik yang nyata, maupun tidak nyata tiada lain adalah Brahman itu sendiri. Brahman adalah realitas mutlak dan tidak ada realitas lain selain brahman itu sendiri. Adi Shangkaracarya menyatakan "Brahman satyam jagan mithyajiwo Brahmaiva naparah" atau "Brahman itu sendiri adalah kebenaran, dalam dunia yang maya (tidak nyata) ini. Atma (jiwa individu) adalah hanya Brahman itu sendiri bukan yang lain. Oleh karena itu pada saatnya atman akan manunggal kepadaNya juga, akan manunggaling kawula lan gusti.
Ajaran advaita atau non dualitas itu ialah monisme yang tidak sama dengan pantheisme yang berpendapat bahwa alam sendiri ialah Tuhan. Karena pemikiran ini menyangkal wujud Yang Maha Tinggi yang transenden dan yang bukan merupakan bagian dari alam. Tergantung akan pemahaman-nya, pandangan ini dapat dibandingkan sepadan dengan atheisme, deisme atau theisme. Bukan pula monitheisme substantive yang berpandangan bahwa Tuhan Yang Jamak itu adalah perwujudan dari substansi Yang Ada dibelakannya itulah Allah. Pandangan ini banyak miripnya dengan pandangan Triniti atau Tritunggal dalam agama Kristen tentang tiga pribadi yang mempunyai hakikat sama.
Dari uraian di atas, frasa manunggaling kawula lan gusti tampaknya berhimpitan dengan teologi advaita atau non dualitas. Alam pikir magis yang melekat di dalam frasa itu sekaligus mencerminkan alam pikir monisme karena kedua alam pikir itu dapat dengan mudah diperpadukan. Menurut Zoetmulder (1987) monisme yang diimpor dari luar (India) dengan mudah memadu dengan alam pikir Jawa asli atau dengan kata lain monisme menentukan sifat monisme di Jawa.
Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam Edisi 21, Nopember 2016