Mawas Diri - Menjaga Kesehatan Mental Dan Spiritual

Jika Anda berlatih menyentuh kualitas-kualitas dari Buddha di dalam Anda ini,
Anda menyentuh Buddha yang sejati; bukan
Buddha yang dibuat dari semen, temabag, ataupun jamrud
Buddha bukanlah seorang dewa
Buddha bukanlah seseorang di luar diri kita, di atas angkasa, atau di puncak gunung
Buddha itu hidup dan hidupnya di dalam diri kita
- Thich Naht Hanh -

Melihat Pentingnya arti Mawas - diri

Memeriksa motif dari setiap tindakan dan ucapan-baik sebelum, saat, dan sesudah itu dilangsungkan benar-benar merupakan kewajiban kita sendiri. Tugas ini tak bisa diserahkan kepada orang lain, kalau tak ingin segala sesuatunya jadi'lain'bukan?

Dapat dirasakan kalau sebelum kita mengucapkan atau melakukan sesuatu atau mengambil suatu sikap tertentu, dalam keadaan sadar, muncul impuls atau riak berupa bentuk-bentuk pemikiran atau perasaan di benak kita. Sekali lagi, dalam keadaan sadar, disinilah bermulanya mereka. Nah, bagaimana dengan dalam keadaan tak sadar? Dimanan mereka bermula?

Tindakan atau ucapan tak-sadar dan oleh karenanya juga tak disengaja ternyata bukan saja terjadi saat tubuh ini tidur, mengigau, tidur-berjalan, mabuk, kesurupan, kemasukan, atau yang sejenisnya, namun juga terjadi pada saat terjaga seperti sekarang ini, dimana-seyogyanyalah-kita sepenuhnya sadar. Kenapa? Mengapa ini bisa terjadi?

Refleks dan bentuk-bentuk otomatisasi lainnya-setelah latah misalnya-yang digerakkan oleh tataran bawah - sadar kitalah pemicu dan penggeraknya. Apapun motifnya mereka berpangkal disini, ditataran bawah sadar ini - dimana dorongan dorongan narunilah atau instingtif bersemayam. Bukan saja bertindak dan berbicara secara instingtif ternyata berfikir secara instingtif'bisa terjadi pada seseorang, pada kita. Nah...kalau berpikir saja kita sudah secara instingtif, maka bisa dipastikan yang di hilirnya-bertindak dan berucap-tidak bisa tidak instingtif Disinilah kita diperlihatkan akan pentingnya arti mawas-diri dimana di dalamnya termasuk memeriksa motif dan impuls-impuls yang menggerakkan setiap pemikiran, ucapan dan tindakan.

Mawas-diri dan Kesadaran-diri

Seorang memahami dirinya sendiri menanyakan kepada dirinya sendiri, dengan mengadakan investigasi objektif ke dalam diri sendiri. Semasih ia berharap memperoleh pemahaman itu dari orang lain, ia tak akan memahami dirinya sendiri secara benar-benar mendalam.

Bertanya kepada diri sendiri, walaupun sepintas kelihatannya amat sederhana, ternyata bagi sementara orang tidaklah begitu mudah. Kenapa? Karena banyak sekali kecendrungan-kecendrungan internal yang tidak kondusif, yang menghalangi dan merintangi, yang semuanya mesti dilewati. Beberapa diantaranya adalah: kecendrungan untuk memuji diri sendiri yang bergantung erat dengan kecendrungan mencari alasan pembenar dan tidak berani mempersalahkan diri sendiri, kecendrungan mudah percaya dan cepat merasa puas, dan kecendrungan merasa-diri sudah seperti yang diangan-angankan.

Memahami diri sendiri merupakan salah satu kewajiban mendasar kita terhadap diri sendiri. Di dalamnya ada keiatan investigasi objektif ke dalam, yang umumnya kita kenal dengan istilah mawas-diri. Kegiatan ini bukanlah kegiatan sekali kerja, kegiatan yang bisa dirampungkan hanya dalam sehari-semalam atau setahun-dua tahun; ia merupakan kegiatan berkesinambungan, yang boleh jadi perlu dilakukan seumur hidup.

Mawas-diri secara pasti meningkatkan derajat dan memperkokoh kesadaran-diri Anda. Sebelum kita paham betul akan diri kita sendiri, apapun yang kita perbuat, betapa baikpun itu kita lakukan, itu belum kita lakukan secara optimal. Kenapa? Karena itu belum dilakukan dengan penuh kesadaran-yang di dalamya ada pengerahan segala potensi dan kapasitas yang ada.

Waspadai Motif-motif halus ini!

Mungkin masih banyak juga yang mengartikan pamerih sebatas penghargaan akan sesuatu yang berwujud materi atau yang kasat-indria saja. Itu hanyalah pamerih jenis kasar. Penghargaan atas sesuatu yang nonmateri, seperti: penghormatan, pujian maupun pembentukan citra-publik atas apa yang kita lakukan, merupakan bentuk pamerih yang lebih tinggi kualitasnya, lebih halus, dan karenanya lebih tersamar. Saking tersamarnya, ia bisa sedemikian mengecoh, bahkan si pelakunya sendiri. Yang ini, bisa membuat si pelakunya menyangka kalau apa yang dilakukannya benar-benar merupakan perbuatan yang tanpa-pamerih, tindakan niskama. Mungkin anda ingat sebuah anekdot yang menceritakan seorang yang 'merasa' berkebajikan yang bertanya: "Sorga yang mana akan saya tempati nanti?" kepada seorang malaekat, yang dijawab tegas oleh sang malaekat dengan: "Oh....bukan di Sorga kawan, tapi di Neraka".

Sadar-diri dalam konteks ini berarti sadar akan setiap motif yang melatari setiap pemikiran, ucapan, tindakan, perilaku dan sikap kita. Untuk bida menyadari motif ini, mau-tak-mau kita mesti berpaling dan melihat ke dalam, ke dalam sanubari sendiri.

Oleh karenanya/ untuk bisa menyadari motif, kita juga diharuskan benar-benar jujur. Hati-sanubari akan selalu jujur hanya mengenal 'bahasa kejujuran'. Anda bahkan tak akan pernah berhasil mengadakan kontak dengan sanubari Anda sendiri, tanpa bermodalkan kejujuran.

Bermawas -diri dengan baik

Bisakah Anda memandang diri Anda seolah-olah orang lain yang bukan Anda? Bisakah Anda menempatkan diri Anda di luar sejenak sehingga Anda bisa mengamati diri Anda sendiri dengan lebih seksama, objektif dan jujur?
Bilamana keduanya Anda jawab 'bisa' - bukan karena malu atau dikatakan 'tidak bisa', tapi sejujurnya-maka saya percaya kalau Anda mempu bermawas-diri dengan baik. Bermawas diri adalah pemposisian-diri secara unik seperti itu. Ini sama sekali bukan-fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah 'split personality' atau gejala "Schizophrenia" ataupun "kepribadian ganda', atau sejenisnya; ini masalah pengamatan seksama, objektif dan jujur terhadap diri sendiri.

Ini akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan, kalau kita tak mampu apalagi tidak bersedia-merubah kebiasaan yang senantiasa memperhatikan, menilai dan menghakimi yang di luar, dan atas dasar rasa suka dan tidak suka. Bukanlah kita menilai baik yang kita sukai dan sebaliknya menilai 'buruk' yang tidak kita sukai? Ini merupakan satu kebiasaan yang samasekali tidak kondusif bagi pengamatan ke dalam, pengamatan terhadap diri sendiri, sejauh kita akan cenderung menilainya secara tidak jujur, tidak adil dan berfihak kepada diri kita sendiri.

Kita mengenal ungkapan, keburukan atau kesalahan orang lain sebesar butiran debu sekalipun, terlihat jelas; akan tetapi, keburukan dan kesalahan diri sendiri yang sebesar gunung di depan mata malah tak terlihat" bukan? Kalaupun terlihat secara samar, anda cenderng memalingkan muka, dan membiarkannya saja, bersikap solah-olah tidak pernah ada, tidak pernah terjadi dan bila dirasa perlu malah cenderung menyembunyikannya atau menutup-nutupinya bukan? Tak jarang pula, Anda merasa dipaksa untuk mencari-cari alasan, dalih dan bila mungkin-pembenaran untuk membelanya.

Apakah Anda bisa, dan berani membuka mata lebar-lebar untuk bisa mengamati demikian? Bila Anda bisa, bila Anda berani, maka Andapun mampu bermawas-diri dengan baik: Anda mempu menggemleng dan menempa-diri agar selalu lebih baik dan lebih baik lagi, di dalam menyempurnakan kelahiran Anda ini.

Yang Mampu Bermawas-diri dengan baik

Walaupun mengawali kebiasaan baru tak sesulit melepaskan kebiasaan lama, itu tetap tidak mudah. Apalagi bila kebiasaan baru itu merupakan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan buat dilakukan, walupun kita tahu betul kalau ia merupakan kebiasaan baik.

Mengawali kebiasaan-kebiasaan baru yang baik dan melepas kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk-betapa menyenangkan itu untuk dilakukan-merupakan sebentuk tapa-brata, sebentuk laku spiritual yang melandasi yoga semadi, yang mentransformasikan seseorang yang meningkatkan martabat kemanusiaan seseorang. Dalam Yoga Sutra Patanjali ia disebut dengan Pratipaksha Bhavana.

Ia-sudah barang tentu-diawali dengan mencermati ke dalam, mencermati kebiasaan-kebiasaan buruk yang terlanjur dibiasakan. Dan untuk bisa mencermati ke dalam, seseorang mesti berhasil membalik arah perhatiannya dari kebiasaan sebelumnya yang selalu mengarah ke luar itu. Setidak-tidaknya, ia mesti mampu mengawalinya dengan menutup gerbang-gerbang indriyanya untuk bebrapa lama yang adalah laku brata sebelum memulai membalik arah perhatiannya ke dalam. Hanya sesudahnyalah ia punya kemungkinan untuk mampu mencermati ke dalam. Hanya sesudahnyalah ia punya kemungkinan untuk mampu mencermati ke dalam, mampu bermawas-diri dengan baik yang bukan sekedar berintrospeksi.

Transformasikanlah Pemikiran-pemikiran Instingtif Anda!

Sri Swami Sivananda menganjurkan para penekun di jalan spiritual untuk mentransformasikan pemikira-pemikiran instingtifnya. Tapi apa yang dimaksud dengan pemikiran-pemikiran instingtif itu?

Menurut beliau, berfikir itu ada empat jenis yakni: berfikir simbolis, berfikir instingtif, berfikir impulsif dan berfikir kebiasaan atau berfikir ha-bitual. Berpikir menggunakan kata-kata (di dalam hati) adalah berfikir simbolis. Berfikir instingtif adalah berfikir atas dorongan insting atau naluri, yang merupakan sisi kebinatangan kita. Berpikir yang dilakukan sebagai reaksi atau tanggapan terhadap impuls-impuls yang diterima dari luar disebut berfikir impulsif. Insting lebih kuat dibanding impuls-yang diterima dari luar. Artinya, dorongan untuk berpikir instingtif lebih kuat ketimbang berfikir imfulsif. Sementara itu, berfikir kebiasaan adalah berfikir atas dorongan-dorongan jasmaniah, seperti berfikir tentang makanan, minuman, mandi dan sebagainya. Anda bisa dengan mudah menghentikan berfikir simbolis, namun sulit menghentikan berfikir instingtif dan imfulsif.

Keseimbangan dan ketenangan bisa hadir bersama dengan terkikisnya kekhawatiran dan kemarahan. Ketakutanlah yang sebetulnya melandasi kekhawatiran dan kemarahan itu. Semua kekhawatiran yang tak perlu mesti dihindari, makanya, kita dianjurkan untuk memikirkan hal-hal yang bisa membangkitkan keberanian, kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan dan kedamaian.

Untuk keperluan praktis, beliau juga memberi tips kecil ini:

• Duduklah selama limabelas menit dengan santai dalam posisi nyaman. Untuk ini, Anda juga boleh duduk di kursi malas kesukaan Anda.
• Tutup mata anda
• Tarik atau alihkan pikiran dari objek-objek luarnya.
• Lalu diamkan pikiran. Sepikan dia dari semua jenis gelembung-gelembung pemikiran.

Menjaga Kesehatan Mental dan Spiritual

"Flash disk" yang saya gunakan hanyalah "flash disk" kecil; mungkin yang paling kecil di antara yang sekarang beredar di pasar; hanya berkapasitas 250 Mb. Beberapa bulan lalu, ketika ia diserang virus kapasitasnya jadi menurun drastis di bawah itu. Tapi belakangan ini, ketika ia dalam keadan sehat dan telah didefragmentasi, ia bukan saja pulih, namun kapasitasnya malah menjadi lebih dari 250 Mb.

Batinpun demikian; ketika ia dalam kondisi keruh, kotor, penuh noda dan secara keseluruhan sakit, kapasitasnya bisa menurun drastis. Kapasitas-terpasangnya bisa jauh di bawah kapasitas-rencananya. Namun sebaliknya, ketika ia sehat, dalam kondisi prima, kapasitas bisa tak terbayangkan besarnya. Ia bisa seolah-olah melampaui kondisi kodratinya untuk menjadi adi-kodrati.

Tapi umumnya kebanyakan dari kita tidak menyadari kalau sebetulnya batin ini sedang sakit, malah merasa dan menyayangkan sehat-walafiat. Inilah yang menyebabkan si batin tak kunjung sehat, tak kunjung terobati. Padahal, tak jarang kalau sekedar menyadari saja sudah berarti mengobati setiak-tidaknya kita segera tahu kalau ia ada dalam keadaan sakit sehingga bisa segera mengambil tindakan yang dianggap perlu. Inilah mawas-diri.

Namun, tak seorang bisa bermawas-diri kalau ia senantiasa mengarahkan perhatiannya ke luar, senantiasa memburu objek-objek indriawi, tiada henti-hentinya memikirkan ini dan itu, merancang masa depan keluarga kecil maupun keluarga besarnya, merisaukan per-kembangan situasi politik dan kondisi perekonomian yang terus-menerus merosot, yang tiada henti-hentinya memburu kesejahteraan hidup mulai penimbunan harta-harta dan bentuk-bentuk materi lainnya, mengajar popularitas atau ketenaran, kemasyuran atau yang sejenisnya, yang selalu gelisah.

Mawas-diri hanya dimungkinkan kalau Anda punya derajat ketentraman batin tertentu, kalau anda tenang-sedangkan tiada ketenangan di dalam hiruk-pikuk kehidupan duniawi. Makanya, hanya yang menyadari seluruh fakta ini sajalah yang mungkin bermawas-diri, yang mungkin menjaga kesehatan batinnya sendiri.

Mereka yang rajin bermawas-diri akan segera mengetahui kalau terjadi ketidakberesan pada tataran mental dan batinniah, oleh karenanya, pun peluang besar untuk tetap menjaga batinnya tetap dalam keadaan sehat. Batin yang sedang bermawas-diri, adalah batin yang ada dalam status mediatif. Ia dalam keadaan "eling lan waspada"

Semoga cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan keba-hagiann menghuni kalnu insan.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 517 Januari 2010