Suddha bhumi gantam toyam, Suddha naari pativrata. Sucih ksemakaro raaja. Samtusto brahmana sucih
(Canakya Nitisastra VIII.17)
Artinya: Air yang meresap ke dalam, tanah menjadi bersih, istri yang setia pada suami manjadi suci, pejabat pemerintahan menjadi suci dengan mensejahterakan rakyatnya, Brahmana menjadi suci apabila senantiasa puas secara rohani (Samtusta).
Sloka Canakya Nitisastra itu memberikan gambaran bahwa kesucian itu dicapai melalui proses hidup yang berdasarkan dharma yaitu proses yang benar, baik dan tepat. Seperti air akan bersih apabila meresap dalam tanah yang bersih juga. Istri suci apabila mengabdi dengan setia pada suami. Pejabat pemerintahan akan suci dengan berhasil mensejahterakan rakyatnya. Demikian juga Nitisastra 18 menyatakan: Narinam busanam pati. Artinya, suami yang baik memperindah kecantikan istri. Pertiwinam busanam pati. Artinya, kewajiban pemerintah memperindah bumi pertiwi. Demikian juga seseorang yang disebut brahmana apabila mampu hidup samtusta, artinya tidak ikut terjerembab secara negatif pada dinamika duniawi yang sering fluktuatif.
Pura Besakih dalam Lontar Padma Bhuwana disebut sebagai: Huluning Bali Rajya. Artinya, Pura Besakih adalah hulunya Pulau Bali. Pura Besakih juga sebagai Pura Rwa Bhineda yaitu sebagai Pura Purusa dan Pura Batur sebagai Pura Pradana. Artinya, sebagai Pura Purusa Pura Besakih sebagai jiwa spiritualnya daerah Bali. Pura Besakih juga sebagai Pura Sad Winayaka atau salah satu dari Sad Kahyangan yang paling utama. Pura Sad Winayaka itu sebagai jiwa dalam menggerakkan unsur-unsur Sad kerti menjaga di terpadusecara sinergis harmonis. Pura Besakih juga sebagai Pura Padma Buana yang terletak di Airsania Bali yaitu arah yang paling hulu yaitu arah matahari terbit dan arah gunung dengan hutannya. Arah matahari terbit dan gunung itu adalah arah kehidupan. Semua sistem kehidupan harus digerakkan sejak awal dari kesucian dengan landasan dharma.
Demikianlah nilai-nilai kesucian di Pura Besakih itu dijadikan acuan mengembangkan kehidupan untuk mensublimasi kehidupan itu sendiri terutama di Bali ini dari zaman ke zaman sesuai dengan kebutuhan zaman dalam membangun Bali. Di Pura Besakih terkandung nilai-nilai untuk membangun kehidupan manusia seutuhnya lahir batin dan menyeluruh menyentuh semua lapisan masyarakat. Apa itu anak-anak, pemuda, yang dewasa, yang tua, demikian juga masyarakat pedesaan, perkotaan, petani, pedagang nelayan, pendidik, rohaniawan termasuk mereka yang berposisi sebagai pemimpin.
Pura Besakih adalah pura y'ang tergolong Kahyangan Jagat yang termasuk dilindungi oleh Bisama Kesucian Pura yang dikeluarkan oleh PHDI Pusat dan telah dikuatkan dengan Perda Nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali. Ini artinya, di kawasan Besakih dalam radius lima kilometer itu tidaklah mungkin dapat dibangun fasilitas pariwisata selain yang menyangkut penguatan Pura Besakih dengan lingkungannya sebagai kawasan suci dan sebagai daya tarik pariwisata. Untuk mengeksistensikan kesucian Pura Besakih dengan kawasan sucinya tersebut, tentu dapat dibantu oleh siapa saja sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan ajaran agama Hindu. Dalam radius Kesucian Pura Besakih dalam lingkup lima kilometer tentunya bisa dibangun hal-hal yang dibolehkan dan dibenarkan oleh Bisama Kesucian Pura dan Perda Nomor 16 RTRWP Bali. Misalnya, dibangun pasraman lengkap dengan dharmasalanya dengan program yang menyangkut kegiatan spiritualnya Hindunya yang akan dilakukan.
Misalnya, adanya program dharma wacana, dharma tula, dharma gita, dharma sadana, ada kegiatan berjapa, ada yoga asana dan lain-lain. Kegiatan itu yang menyangkut penguatan eksistensi nilai spiritual Pura Besakih. Dengan demikian Pura Besakih sebagai daya tarik pariwisata spiritual akan lebih meningkat vibrasi spiritualnya pada berbagai aspek kehidupan. Kalau hal ini dapat dieksisten-sikan dengan benar, baik dan tepat, justru akan membuat Bali menjadi tujuan pariwisata spiritual yang lebih handal. Tidak seperti dewasa ini, pariwisata spiritualnya masih belum begitu menonjol. Yang ada sepertinya lebih banyak pariwisata yang menonjolkan aspek hedonisnya berhura-hura.
Untuk lebih mengeksistensikan nilai spiritual Pura Besakih itu, tentunya perlu ada program yang aktual untuk menguatkan eksistensi alam di sekitar Gunung. Agung, membangun fasilitas spiritual di areal kawasan suci Pura Besakih. Karena kesucian itu bukan sesuatu yang didiamkan tidak ada apa-apa seperti Sloka Canakya Niti Sastra VIII. 17 di atas. Pejabat publik akan suci bila pejabat, itu berhasil mensejahterakan masyarakatnya. Demikian juga halnya dalam mengeksistensikan kesucian Pura Besakih agar mampu memancarkan vibrasi kesucian sehingga berbagai aspek kehidupan minimal di Bali ini diarahkan oleh nilai kesucian spiritual itu. Karena itu berbagai kementerian pemerintah pusat dapat menyalurkan APBN yang ada di kementeriannya untuk ikut mengeksistensikan kesucian Pura Besakih. APBN itu dana milik rakyat termasuk milik rakyat Bah. Apalagi Bali banyak menghasilkan pemasukan bagi pemerintah pusat terutama dari sektor pariwisata.
Setelah masuk ke pusat tentunya ada yang disalurkan ke daerah Bali sesuai dengan usulan yang ada. Misalnya, Kementerian Kehutanan dapat membantu menguatkan eksistensi hutan di Gunung Agung tempat keberadaan Pura Besakih. Kementerian PU dapat menyalurkan APBN memperbaiki jalan yang ada dan yang menuju Pura Besakih. Demikian juga Kementerian Agama dapat menyalurkan anggarannya dalam membantu rehabilitasi bangunan suci yang ada di dalam Pura Besakih tentunya atas permohonan. Demikian juga tidak salah kalau Kementerian Pariwisata melalui anggaran yang ada padanya untuk ikut menguatkan eksistensi Pura Besakih yang memiliki daya tarik pariwisata.
Tentunya, semuanya itu melalui prosedur hukum yang ada. Demikian juga anggaran itu disalurkan lewat program yang disusun matang melalui kajian mendalam sehingga tidak ada norma agama dan norma hukum yang dilanggar. Hendaknya dihindari mendiko-tomikan keberadaan Pura Besakih dengan aspek kehidupan yang lainnya seperti ekonomi, pariwisata, politik dan lain-lain. Mengeksistensikan kesucian. Pura Besakih itu untuk menjiwai berbagai aspek kehidupan ini melalui kajian yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidang yang direncanakan. Dengan demikian, kesucian Pura Besakih itulah sebagai jiwa berbagai aspek kehidupan ini di Bali.
Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Pos, Minggu Wage, 23 Agustus 2015