MITOLOGI KELAHIRAN Kala bisa dibaca dengan cara berbeda. Bacaannya kurang lebih seperti berikut ini.
Shiwa adalah manusia biasa yang disibukkan oleh urusan batin yang kedalamannya tanpa dasar, dan keluasannya tanpa tepi. Shiwa-manusia itu juga akan marah kalau keasyikannya diganggu. Ia juga bisa membiarkan pikirannya teringat dan kemudian mengenang-ngenang kenangan indah. Ia juga tergoda untuk mengulangi peristiwa yang memberinya perasaan indah dan perasaan manis itu.
Ia juga seperti kebanyakan orang yang merasa sakit aneh di dalam hatinya ketika sedang sangat merindukan lawan jenisnya. Seperti orang kebanyakan, ia menjunjung libidonya ke mana-mana. Menurut cerita lobido itu dibawa serta ke gunung, ke laut, ke sungai, ke jurang, ke kali. Menurut kesaksian libido itu dibawa ke sekolah, ke kantor, ke pasar, ke pertemuan-pertemuan dan bahkan di bawa ke pura.
Ia juga bisa salah menanamkan benihnya. Ada benih yang ditanam di karang suwung, di karang anyar, di karang daha. di karang buncing, di karang bajang. Banyak orang yang tanpa sadar menciptakan bayi Kala untuk dilawannya sendiri di kemudian hari.
Begitulah Shiwa dan begitulah orang. Seperti yang diajarkan oleh tradisi, godaan tidaklah kita terima begitu saja. Kita sudah dilatih untuk mencurigai setiap godaan. Secara naluriah kita sudah terbiasa melakukan perlawanan terhadap godaan. Godaan itu kita sebut setan atau bhuta.
Hanya saja, tradisi mungkin lupa memberitahu kita, bahwa godaan adalah awal penciptaan baru. Godaan adalah awal peristiwa yang segera akan terjadi. Dan ternyata peristiwa-peristiwa itulah yang menyebabkan terjadinya perubahan. Baik perubahan diri, perubahan alam, maupun perubahan sosial. Barangkali juga perubahan-perubahan lainnya. Peristiwa itu terjadi bermula dan godaan.
Lalu apa artinya menolak godaan? Sesuai perkataan di atas, menolak godaan berarti mencegah terjadinya peristiwa yang akan membawa perubahan-perubahan. Perubahan sering menakutkan di awal. Namun demikian, menolak godaan bisa juga diartikan menolak satu godaan tapi memilih godaan yang lain.
Contohnya, menolak godaan badan, akhirnya mendapat godaan batin. Seperti pertapa ekstrem yang mematikan godaan badannya, lalu sibuk dengan godaan batinnya. Kita jarang mematikan godaan batin, karena berpikir bahwa hidup ini adalah batin. Tapi sebaliknya, yang diajarkan adalah mematikan godaan badan.
Seperti itukah, pembacaan lain dari mitologi Kama dan Kala? Itu baru salah satu, atau salah dua, dari model-model pembacaan. Contoh pembacaan lainnya masih banyak. Apalagi setiap orang boleh membaca dengan caranya sendiri-sendiri untuk kepentingannya sendiri pula. Sebuah model pembacaan yang dilembagakan dan dipaksakan lama kelamaan akan mengikat pikiran orang-orang. Ikatan itulah salah satu ciri tradisi yang mengikat.
Membaca adalah godaan. Mengikatkan pikiran adalah peristiwa. Pengertian adalah perubahan dari dalam. Perubahan perilaku muncul dengan sendirinya dibelakang hari, cepat atau lambat. Maka nasehat agar rajin membaca adalah nasihat untuk menerima godaan. Dengan sendirinya, pesan agar menyongsong peristiwa yang akan membawa perubahan.
Akankan pembacaan berbeda dari mitologi-mitologi akan menyebabkan perubahan pada perilaku agama orang-orang?
Pertanyaan ini klasik. Sudah dari dulu kita mendengar pertanyaan seperti itu. Kenyataannya, jangankan orang-orang yang ditanyai, orang-orang yang bertanya itu pun tidak membuat pembacaan berbeda. Mereka tidak membuat pembacaan berbeda untuk dirinya. Tidak juga mereka membuat pembacaan berbeda untuk orang banyak. Jadi, janganlah terlalu mencurigai godaan. Pilih-pilih dan pilah-pilahlah. Karena penciptaan dan penghancuran dimulai dari godaan.
Shiwa menghancurkan tapanya sendiri dengan sarana Kama sehingga lahir Kala. Shiwa sendiri kemudian sibuk mengalahkan Kala agar dirinya kembali menjadi Mahakala. Tentang apa peristiwa-peristiwa itu? Berputar mengelilingi bulatan sendiri itukah inti meditasinya?
Oleh: IBM. Dharmapalguna
Source: Balipost Minggu, 17 April 2011