Mewujudkan Kebangkitan Spiritual Melalui Yoga

Tantraikagram manah krtya yata-cittendriya-kriyah, upavisyasane yunjyad yogam atma-visuddhaye

Disana, dengan memusatkan pikiran ke satu titik, mengendalikan kemampuan pikiran dan kerja panca indria, dudukdi atas tempat duduknya, melaksanakan yoga guna menyucikan jiwa (Pudja, 2004:160)

Dalam pustaka suci Bhagavadgita pada adhyaya enam, sloka dua belas, telah ditegaskan tentang yoga sesuai kutipan di atas. Apa makna filosofis yang bisa dijadikan renungan oleh sedharma? Atau juga oleh umat manusia yang ada di dunia ini, guna terwujudnya kebangkitan spiritual.

Mengapa kebangkitan spiritual menjadi fokus uraian dalam wacana ini? Apakah spiritual umat manusia dewasa ini telah ada tanda-tanda kemerosotan? Begitu banyak problem dan pertanyaan yang muncul tatkala Kajian spiritual dalam pandangan Hindu begitu menariknya untuk dikaji yang bersumber dalam berbagai referensi, terutama disini dalam sumber pustaka suci Bhagawadgita.

Berbicara tentang spiritual adalah pembicaraan tentang kerohanian. Spiritual juga menyangkut tentang kejiwaan yang lazimnya juga diistilahkan dengan psikologi atau mano vijnana. Dalam pandangan yang lebih umum, bahwa spiritual menyangkut tentang sumber hidup dan kehidupan bagi manusia. Inti hidup dan kehidupan dari manusia itu sendiri adalah jiva atau atma. Sering juga dikenal dengan nama sukma. Apapun namanya, semua itu merupakan penggerak hidup dan kehidupan manusia dalam gerak dan langkahnya, guna dapat memenuhi kewajiban sebagai manusia di alam nyata itu atau bhuwana.

Spiritual merupakan penyeimbang hidup dan kehidupan. Dengan keberadaan spritiual menjadi manusia dapat hidup dan memenuhi kehiduapan sesuai dengan spirit yang dimiliki. Manusia memerlukan spirit mulia, spirit nirmala, spirit yang bersih, spirit yang seimbang, spirit yang penuh ketetapan dengan kondisi fisikal atau sariram. Spirit tidak bisa tampil hanya dalam kesendirian. Spirit memerlukan kekompakan dan kesatuan dengan jasmani. Tatkala spirit menjadi tenang, nyaman, hening, suci, damai, harmonis, maka saat itulah kebahagiaan tertinggi dirasakan secara seimbang pula di antara jiwa dan raga.

Spirit dapat dikatakan sebagai penyelaras hidup, penyeimbang hidup, penerus hidup, serta mendinamiskan kehidupan manusia. Bagaimana halnya jika spirit atau jiwa itu terlepas dari badan atau raga ini? Dapat dipastikan, bahwa hidup dan kehidupan manusia menjadi tidak berguna, menjadi sia-sia, bahwa hidup dan kehidupan manusia menjadi tidak berguna, menjadi sia-sia, serta sirna dari alam semesta ini alias mrtyu. Dalam hal ini bahwa kehidupanlah (amrtyu atau amrtha) yang dicita-citakan oleh umat manusia di alam raya (jagad). Justru dengan itu, resepnya adalah perlunya spiritual itu dibangkitkan terus-menerus oleh si pemilik jasmani ini. Apa saja yang bisa diupayakan untuk terwujudnya kebangkitan spiritual? Jawabnya sangat sederhana yakni lakukanlah yoga.

Bila dirinci lagi makna filosofis sloka suci di atas, maka ada beberapa upaya mulia yang dapat dilakukan oleh umat manusia untuk membangkitkan spiritualnya. Menyimak makna filosofis yang ada diajarkan dalam pustaka suci Bhagawadgita tersebut, sebagai upaya pertama, yakni dengan melakukan pemusatan pikiran ke satu titik. Titik yang dimaksud adalah pemusatan pikiran pada keberadaan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Ida Hyang Siwa). Dengan pikiran yang terpusat pada titik atau vindu, itu berarti segala kekuatan pikiran (manah) tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam kenyataan bisa saja titik itu diwujudkan dalam bentuk simbol (nyasa) yang berupa swastika, arca, pratima, bangunan suci meru, bangunan suci padmasana, bangunan suci gedong, aksara suci om, dan lain-lainnya yang sejenis sesuai kondisi masing-masing, namun secara filosofis bahwa pemusatan pikiran pada titik itu tiada lain adalah tertuju kehadapan Beliau yang bersifat niskala, Beliau yang bersifat sunya atau Beliau yang abstrak.

Cara kedua, yakni dengan melakukan pengendalian pikiran. Mengapa pikiran mesti dikendalikan?. Oleh karena pikiran itu sebagai sumber kendali dalam hidup manusia. Bilamana kehidupan yang harmonis menjadi cita-cita suci, maka cara pengendalian pikiran itu mesti menjadi prioritas untuk menuju kebangkitan spiritual. Pikiran jangan sampai terombang-ambing. Pikiran tidak lobeh kacau, buyar, terpengaruh dengan yang ada di sekitarnya, pikiran sedapat mungkin tidak berubah kepada fokus yang lainnya yang menggoda konsentrasi itu sendiri.

Pikiran yang runyam mengakibatkan kegagalan dari upaya untuk membangkitkan spiritual diri. Maka dari itu, yang dipikirkan hanyalah satu yang titik itu sendiri, yang mana titik tersebut tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Itu artinya bahwa untuk mengupayakan kebangkitan spiritual kuncinya ada pada pikiran yang terkonsentrasi kepada Beliau.

Sebagai upaya ketika, yakni melakukan pengendalian diri pada kerja panca indria. Mengapa kerja panca indria sangat ditekankan untuk dikendalikan? Kebangkitan spiritual menjadi yoga terletak pada ketenangan pikiran tadi. Pikiran yang terkonsentrasi bisa diwujudkan bila kondisi fisik sudah bersih, suci, damai, tenang, dan terkendali. Bagian mana saja dari fisik ini yang perlu dikendalikan? Dalam ajaran suci di atas, telah ditegaskan bahwa panca indria itu yang perlu dikendalikan. Ada indria untuk melihat (caksu indria), ada indria mencium (granendriya), ada indria pengecap (zuakindria), ada indria sentuhan (tvak indria), ada indria pendengar (statendria). Kelima jenis indria tersebut yang perlu dikendalikan.

Itu maksudnya bahwa tatkala melakukan yoga atau komunikasi rohani, kelima bagian dari indria yang melekat pada jasmani sedapat mungkin untuk dikekang (tapa), berpantang (brata), tidak henti-hentinya melakukan kontak batin (yoga) dan tidak goyah dalam konsentrasi (samadhi). Panca indria sesungguhnya sumber gerak jasmani yang diawali dari gerak pikiran. Bila pikiran terfokus pada gerak panca indria, maka kegagalan dalam yoga akan terjadi. Itulah sebabnya dalam pustaka suci ada diajarkan, lakukan pengendalian panca indria yang rutin dan penuh ketulusan.

Beberapa upaya di atas memberikan jalan mulia menuju kebangkitan spiritual umat manusia. Tantu dalam penerapannya sangat diperlukan untuk melakukan sikap badan (asana) dengan baik dan benar. Sikap badan itu berupa sikap-sikap yoga yakni silasana, sukhasana, padmasana, suastikasana, vajrasana, savasaria, dan sikap yoga yang lainnya. Dapat dipilah sikap duduk yang nyaman, tenang, dan yang dapat mendukung kelancaran, ketertiban, kemantapan, dan kesuksesan diri menuju kesucian jiwa (nirmala ri manah). Begitu pula cita-cita suci berupa ketenangan kehidupan (santha jagadhita) pada masyarakat heterogen di era global ini, baik secara individual dan komunal akan dapat diwujudkan.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 497 Mei 2008