Prakata
Kalimat: "Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya", penulis temukan dalam sebuah naskah di Pura Dalem Sidha Karya, ketika penulis tangkil nunas Tirtha Pura Dalem Sidha Karya, bulan Agustus 1998. Dalam rangka Karya di Sanggah/Pemerajan Keluarga Bajangan Lebah Sumerta Kaja Denpasar Timur-Bali.
Penulis, telah diwinten oleh Ida Pedanda Wayan Sidemen, sebagai penyaji "Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya" di Pura Candra Prabha Jelambar. Atas prakarsa Pimpinan Banjar Jakarta Barat, dalam rangka Ngenteg Linggih Pura Candra Prabha Jelambar-Jakarta Barat, April 1979.
Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya, tergolong jenis seni pertunjukan sakral, disajikan oleh seorang actor penari. Tampil dengan berganti-ganti Topeng. Pertunjukan "Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya, berlangsung berimpitan saat waktu Pedanda, memimpin puncak upacara ritual keagamaan; dalam agama Hindu Dharma tradisi adat Bali.
Latar Belakang
Seminar Seni Pertunjukan "Provant dan Sakral", berlangsung di Denpasar pada tahun 1971, menyimpulkan : Ada tiga jenis kelompok Seni Pertunjukan Bali:
1. Seni Wali, seni pertunjukan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan pelaksanaan puncak upacara keagamaan. Contoh : Rejang Dewa, Baris Gede, Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya, Wayang Lemah/Wayang Wali, dll.
2. Seni Bebali, seni pertunjukan seremonial, menandai telah atau akan berlangsung sebuah upacara keagamaan. Contoh : Barong Calonarang, Gambuh, Wayang Wong, Topeng Perembon, Legong Kraton, dll.
3. Seni Balih-Balihan, seni pertunjukan, tontonan hiburan seni bagi masyarakat, Contoh : Joged Bumbung, Joged Pingitan, Janger, Genjek, Cak dll. dsb.
Gamelan Pengiring "Sesaji Wali Papajegan Topeng Sidha Karya", adalah : Gamelan Gong Kebyar, tercipta tahun 1910 di Bali Utara, lumrah digunakan untuk alat musik pengiring, Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya. Gendhing-Gendhing Mengiringi "Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya" a.l.:
l. Tabuh Telu Buaya Mangap, gen-dhing pembukaan, pertunjukan akan mulai.
2. Gilak Wireng Prebhawa, mengiringi tari Topeng Dedeling Gagah.
3. Gilak Wira Kesari, mengiringi tari Topeng Dedeling Brangasan.
4. Tabuh Telu Wredha Lumaku, mengi¬ringi tari Topeng Tua.
5. Bapang Penasar, mengiringi Topeng Penasar: Menari - Nembang-Narasi-Lawak.
6. Jaran Sirig, mengiringi penampilan tari Raja/Dalem.
7. Kale, mengiringi penampilan bebe¬rapa Topeng Bondres/Bebagrigan. Bondres tertentu, diiringi dengan gendhing pilihannya.
8. Longgor Gede, untuk Topeng Ida Gede.
9. Gendhing Segara, untuk mengiringi penampilan Topeng Sidha Karya.
10. Gilak Bubaran, menutup pertun¬jukan S.W.P. Top Sidha Karya.
NANGLUK MRANA Ceritera Lakon Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya
Diceriterakan raja Dalem Waturenggong di Gelgel Bali, telah berguru dari Dang Hyang Dwijendra, atau Dang Hyang Nirartha, dikenal juga dengan nama Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh. Dang Hyang Dwijendra, tiba di Purancak Bali, pada tahun masehi, dari asal beliau Jawa Timur.
Raja Dalem Waturenggong, memprakarsai sebuah yadnya 'penolak bala' dikenal dengan nama "Karya Nangluk Mrana". Pada saat itu, Raja/Dalem Waturenggong, sedang melaksanakan 'Mauna Brata', tidak berkomunikasi dengan kata-kata, tidak berungkap bahasa lisan. Patih Ngurah Tangkas, ditugaskan raja sebagai Pim. Pel.: Karya Nangluk Mrana itu.
Ke tempat persiapan yadnya Nangluk Mrana di Gelgel berlangsung, datang seorang lain tamu berasal dari Jawa Timur, mengaku bernama Brahmana Keling. Hendak ikut berpartisipasi pada pelaksanaan Karya Nangluk Mrana itu. Ngurah Tangkas setuju. Brahmana Keling, mengusulkan : Agar dirinya diakui sebagai saudara oleh Raja/Dalem. Ngurah Tangkas, tidak menjawab. Brahmana Keling tiba-tiba minggat dari Gelgel. Wabah berjangkit secara mendadak di Gelgel pada saat itu juga. Binatang piaraan, kena wabah, tumbuh-tumbuhan, kena wabah, ikan ditelaga, kena wabah, manusia rakyat Gelgel, banyak yang menderita sakit mendadak, kena wabah.
Ngurah Tangkas, dan masyarakat Gelgel menjadi panik. Raja Dalem Waturenggong, memberi wangsit, untuk melaksanakan puja bersama dimalam hari : Nuwur ! Dalam puja Nuwur itu, Raja Dalem Waturenggong menerima pawisik : "Sang Hyang Paramaatma - Sangkan Paraning Sang Hyang Jiwaatma" terjemahan bebasnya : Tuhan YME - Sumber datang dan kembalinya semua jiwa. Oleh karena itu semua mahluk hidup berjiwa 'bersaudara' adanya. Karena datang dan kembali, dari / ke sumber yang sama, yaitu Tuhan. Sa = satu, udara = perut. Perut yang mengandung seluruh jiwa, adalah perut Tuhan. Jiwa, lahir dari perut Tuhan menghidupi semua mahluk hidup seisi dunia ini. Maka sesama mahluk bersaudara!
Dalam bahasa Indonesia orang berungkap : saudara-saudara sekalin. Maksudnya, mengakui bahwa semua jiwa, pernah dikandung dalam satu perut, yaitu perut Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widdhi Wasa. Dalam bahasa Bali orang berkata : Nyama, braya, semeton, sareng sami. Ungkapan ini, mengakui bahwa setiap jiwa, pernah terendam didalam 'yom nyom', didalam kandungan perut Tuhan. Braya/brayut. setiap jiwa atma. teronce di satu batang yang sama dalam perut Tuhan. Semeton, keluar dari lubang yang sama, dari rahim Tuhan.
Memahami, menghayati makna pendapat diatas, Raja Dalem Waturenggong, memberikan wangsit, agar orang yang datang namu, tiba-tiba minggat, menghilang itu, dicari. Bila ditemukan, agar diuji keampuhannya; akhirnya diterima oleh Dalem sebagai saudara. Orang itu ditugaskan memimpin segala "Gumatat Gumitit" hama wereng, walang sangit, tikus dsb. dll. Diberikan tempat tinggal di desa Sidha Karya, ± 6 km, diselatan Kota Denpasar. Brahmana Keling, diberi gelar Dalem Sidha Karya.
Dalem Waturenggong, lalu menugaskan seorang seniman pembuat topeng asal Klungkung bernama I Pasek. Melestarikan tiga wajah, dalam wujud topeng : Topeng Dalem Waturenggong, Topeng Ida Gede/Dang Hyang Dwijendra, Topeng Dalem Sidha Karya. Seniman Pelaku : Sesaji Wali pepajegan Topeng Sidha Karsa, dalam melaksanakan penampilannya, diutamakannya agar membawakan tiga jenis topeng tersebut diatas, disamping topeng-topeng yang lain, untuk mewujudkan persembahannya.
Menutup pertunjukan : "Sesaji Wali Pepajegan Topeng Sidha Karya", sang penyaji mengakhiri pertunjukannya dengan menampilkan Topeng Dalem Sidhakarya, melaksanakan puja, mengajak seorang anak laki dari penonton ikut melaksanakan puja sakral : Nuwur Tirtha Sidha Karya. Topeng Sidha Karya, bermata sipit, sepertinya ngintip, seorang anak diantara penonton yang "Keselang, Kaselehan" oleh Sang Hyang Daksinapati, yaitu manivestasi Siwa Maha Guru, untuk turut berpartisipasi dalam upacara puja bersama-sama Topeng Dalem Sidha Karya. Tersirat makna bahwa sesungguhnya yang Nyidha Karya adalah Siwa Maha Guru dalam wujud manivestasi Sang Hyang Daksinapati. Sosok wujud anak laki kecil telanjang adalah guru dari orang-orang para manula cendekiawan Hindu. Ungkapan bahasa kawi dalam tembang Cecelantungan berbunyi :
"Dharma tula, dharma agama ginawenaken ri sorning wreksha wandira magung Wit ikang wrekshwandira magungana ri telengning tilaka kandila phala malit!"
Terjemahan bebasnya:
Diskusi agama dilaksanakan berteduh dibawah pohon beringin gede. Pohon beringin gede itu - ada didalam biji buah beringin yang sangat kecil.
Inilah ungkapan Sang Hyang Daksinapati dihadapan para siswa manula cendekiawan Hindu. Menyiratkan pengertian bahwa Dalem Sidha Karya, adan sosok anak laki penonton yang mau diajak oleh Topeng Sidha Karya, melaksanakan puja, karena si anak itu kaselang/kaselehan oleh Sang Hyang Daksinapati manivestasi Sang Hyang Siwa Maha Guru. Lewat mata topeng Sidha Karya yang menyempit, pelaku ngintip anak yang kaselang/kaselehan. Sang Hyang Daksinapati. Anak yang mau diajak Sidha Karya, ya anak yang kaselang/ laselehan Sang Hyang Daksinapati.
Telaah Kajian Pelaksanaan Ritual Hindu - Dalam Budaya Tradisi Bali:
1. Ida Pedanda pemimpin puncak yadnya, menugaskan para sutri mangku, melaksanakan pemercik-kan lis, metabuh sajeng sari dll.
2. Jero Mangku, menugaskan orang lain, ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan puncak ritual puja.
3. Dalem Sidha Karya, menugaskan anak kecil, yang kaselang Sang Hyang Daksinapati, memercikkan Tirtha Sidha Karya ke Seantero tempat Yadnya.
4. Selaku seorang Dalang Wayang Wali/Wayang Lemah, penulis melaksanakan pertunjukan Wayang Wali dekat dengan Ida Pedanda memuja. Sempat memantau ungkapan Ida Pedanda Istro Kebon Jeruk (sampun lebar).
Salah satu hasil pantauan penulis berbunyi antara lain : "Madia Adah Siwa Padma, Madia Sada Siwa Dwaja, Urdah Parama Siwa Cakra, Angkasa Guru Trisulem". Terjemahan bebas: Diporos Bawah Siwa Bersenjata Padma Unteng/Tengah Sada Siwa Bersenjata Cakra Di Angkasa Siwa Maha Guru Bersenjatakan Trisula, Siwa Maha Guru Bermanivestasi menjadi Daksinapati, Wujud Anak Lelaki sebagai Guru Para Orang Dewasa Cendekiawan Hindu.
Ritual dalam agama Hindu dilaksanakan bukan saja oleh pemimpin upacara yadnya. Yang bertugas, ditetapkan oleh panitia; tetapi juga dilaksanakan oleh seluruh masyarakat yang berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan ritual keagamaan yang berlangsung. Kegiatan: 'Mecaru', 'Mepada'/Mekiyis', 'Nyineb'/Nyimpen' dll. dsb. dst. Pemimpin puncak upacara, memberi wangsit, agar khalayak umum, berpartisipasi beramai-ramai, melaksanakan kegiatan upacara yadnya dalam agama Hindu secara tradisi Bali. Tri hita karana Tiga penyebab kebahagiaan manusia :
1. Parhyangan, membina keakraban manusia dengan Tuhan.
2. Pawongan, membina keakraban manusia dengan sesama manusia.
3. Palemahan, membina keakraban manusia dengan alam lingkungan ekologi.
Tersirat terungkap dalam pelaksanaan ritual bergerak lokomotif bersama-sama dalam menunaikan ibadah bersama-sama, sesama pemeluk agama Hindu Dharma. Makna ritual spiritual sacral, tersajikan dalam ceritera lakon : Nangluk Mrana, Sesaji Wali Pepajegang Topeng Sidha karya.
Source: I Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 481 Pebruari 2007