Parwatha Natha

Parwata Natha artinya "Raja Gunung", sebuah istilah yang banyak kita temui di dalam teks-teks Jawa Kuna. Istilah lain yang bisa dipakai untuk menyebut Raja Gunung adalah : Giri Natha, Giri Pati, Girisa, Girindra, Parwata Raja dan yang lain. Yang dimaksud dengan Raja Gunung tiada lain adalah Hyang Siwa.

Namun demikian ada juga raja yang mengidentifikasikan dirinya dengan Raja Gunung, misalnya Raja Sailendra. (Saila artinya gunung Indra artinya raja) raja yang begitu dikenal di Jawa Tengah, yang memerintah di kaki Gunung Merapi.

Dalam Nagarakertagama, Prapanca menyuratkan menggala kekawin itu sebagai berikut: Om nathaya namostute stuti ning atpada ri pada bhatara nitiyasa/ sang suksmeng teleng ing samadhi Siwa Buddha sira sakala niskalatmaka/ sang Sri Parwatanatha natha ning anatha sira ta pati ning jagatpauV sang hyang ning hyang inisty acintya hana taya temah nireng jagat// (Om sembah pujiku orang yang hina ini hanya ke bawah telapak kakimu Pelindung Jagat/ Engkau yang menyusup di tengah samadhi Siwa Buddha, Engkau nyata dan tidak nyata/ Engkau adalah Pawanatha, Raja Gunung, rajanya orang-orang miskin, dan rajanva seluruh jagat/ Engkau adalah dewanya Para Dewa, dipuja sebagai yang sangat tak terpikirkan, ada dan tiada, kehadiranmu di dunia //). Di sini Prapanca memuja Parwatanatha, ketika sang pujangga menulis karya sastra sejarah yang monumental tersebut.

Selain Prapanca, Mpu Tantular pengarang kakawin Arjunawijaya dan Sutasoma juga memuja Parwatanatha dengan istilah Parwatarajadewa dan Girinatha. Dalam Arjunawijaya disuratkan : Om sri Parwatarajadewa hurip ing sarwa paramaneng Jagat/ sang saksat paramartha-Buddha kinefiep sang sidhiyogiswara/ sang lwir tirtha kiteng mahardika ambekteng mahadurjana/ nirwighnopama suryawimba tumameng way santa tkabeh// (Om Sri Parwatarajadewa, jiwa segala kehidupan di dunia/ yang bagaikan Buddha Paramartha terpatri di dalam hati Sang yogi yang sempurna/ yang bagaikan air suci bagi mereka yang bijaksana, bagaikan racun bagi orang-orang jahat/ tak terhalang, bagaikan matahari masuk ke dalam air yang jernih di seluruh dunia//).

Baik Prapanca maupun Mpu Tantular memuja Parwatanatha, Sang Dewa yang diharapkan juga hadir pada saatnya sebagai seorang raja yang akan memerintah di pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, yang akan memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada seluruh rakyat. Ketika Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas dan laharnya, tentu kita teringat dengan Parwatanatha, dan kita dapat memahami apa yang menjadi rencana Penguasa jagattraya tersebut.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010