Saha-yajnah prajah sratva, purovaca prajapatih, anena prasavisyadhvam, esavo’stv ista-kama-dhuk
(Bhagawad Gita Bab III.10.)
Sloka di atas adalah petikan Bhagawad Gita Bab III.10. Artinya: Pada masa yang lalu, Prajapati, Sang Pencipta, telah menciptakan alam semesta beserta makhluknya melalui persembahan suci yadnya dan bersabda: "Dengan pengorbanan ini engkau akan sejahtera. Melaksanakan perbuatan sebagai pengorbanan suci akan dapat memenuhi segala sesuatu yang engkau inginkan.”
Kamaduk dalam sloka ini seringkali diartikan sebagai alam lingkungan yang ada di bumi. Kamaduk juga sering diibaratkan “sapi kemakmuran” yang akan beranak-pinak menghasilkan berbagai kesejahtraan.
Dengan demikian ada tiga hal yang berhubungan dengan yadnya atau pengorbanan suci. Yakni Prajapati yaitu Tuhan itu sendiri, Praja yaitu manusia, dan Kamadhuk yaitu alam semesta. Manusia (Praja) harus berbhakti kepada Tuhan (Prajapati), manusia harus mengabdi dan saling memberikan pengorbanan (yadnya) kepada sesama manusia dan manusia pun harus memberikan yadnya untuk kelestarian alam (Kamadhuk). Tiga pengabdian berdasarkan yadnya ini kemudian dikelompokkan dalam suatu istilah Tri Hita Karana. Munculah penjabaran yang lebih sederhana, yakni berbhakti kepada Tuhan (parahyangan), berbhakti kepada sesama manusia (pawongan), memelihara lingkungan alam dengan harmonis (palemahan).
Konsep persembahan dan yadnya ini juga sinkron dengan tiga tujuan dalam mengamalkan ajaran agama. Pertama, untuk meningkatkan kualitas diri pribadi. Kualitas diri ini adalah sehat jasmani dan rohani, tenang dalam menghadapi berbagai gejolak hidup, memiliki ilmu pengetahuan yang cukup lewat pendidikan yang memadai. Ini disebut Swa Artha. Yang kedua disebut Para Artha, yaitu mengabdi kepada sesama manusia ciptaan Tuhan. Tolong menolong berdasarkan kasih dan dilandasi dengan punia yang tulus ikhlas (lascarya). Tujuan yang ketiga disebut Parama Artha. Inilah tujuan pengamalan agama yang tertinggi, menyerahkan diri kepada Tuhan melalui bhakti dan pengabdian. Ketiganya ini tetap berlandaskan yadnya yang ikhlas dan pengorbanan yang suci.
Setiap manusia dalam kesehariannya harus bekerja keras bukan untuk kepentingan diri semata, tetapi ada kepentingan yang lebih mulia meski seperti tersembunyi. Kepentingan itu adalah pengorbanan yang tulus untuk kesejahtraan bersama dan menyerahkan pengorbanan ini kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap pengorbanan yang tulus akan membersihkan jiwa-raga kita, dan hal ini merupakan suatu tindakan spiritual yang bisa jadi tidak disadari oleh pelakunya. Secara pelanpelaku yadnya ini akan dijauhkan dari segala mara-bahaya dan hal-hal yang bersifat negatif.
Lalu, bagaimana kita menerapkan yadnya itu agar benar-benar menjadi pengorbanan suci untuk kesejahtraan semua orang? Yadnya itu ada yang berwujud tapa brata, lebih kepada mencari kesejatian diri sendiri. Lewat perenungan ini kemudian digali hal-hal yang positif untuk kemudian disalurkan lewat pencerahan ke masyarakat. Yadnya ada yang berbentuk dana, yakni lebih banyak memberikan pertolongan atau bantuan kepada sesama makhluk. Bukan cuma makhluk hidup sesama manusia, juga binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dan bentuk lain yadnya, seperti yang lebih banyak dilakukan masyarakat Hindu di Bali, lewat ritual keagamaan. Ketiganya ini bisa terpisah tetapi lebih baik jika menjadi kesambungan yang padu. Orang tak bisa tenang melaksanakan upacara agama, apalagi yang besar, kalau di sekitar upacara itu banyak ada orang miskin. Harus diimbangi dengan dana.
Dalam ritual keagamaan inilah muncul adat kebiasaan setempat yang biasanya merupakan warisan para leluhur terdahulu. Maka pelaksanaan upacara keagamaan itu pun berbeda-beda di beberapa wilayah, apalagi di berbagai suku. Seperti di Bali dikenal dengan banten yang rumit-rumit yang sangat berbeda dengan di tempat lain, meski pun sama-sama mengamalkan ajaran agama Hindu.
Namun, betapa pun rumitnya ritual keagamaan itu, hendaknya selalu mengacu kepada tujuan pengamalan agama, yakni pengorbanan suci untuk kesejahtraan masyarakat. Jadi, banten yang rumit-rumit di Bali jangan sampai menjadikan orang Bali miskin, justru harus membuat orang Bali sejahtra. Ada pergerakan ekonomi di balik upacara keagamaan ini. Itulah harapan kita.
Source: Source: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda l http://www.mpujayaprema.com