Pikiran Hindu dan Keharmonisan Dunia

Sumber sumber dasar bagi pikiran Hlindu adalah Weda-Weda dan Upanishad-Upanishad. Pengetahuan Wedic melambangkan keharmonisan yang meliputi seluruh semesta. Ia menunjukkan prinsip kebersatuan dalam kebhinekaan wujud fisik alam dan semesta raya.

Dua buah mantra dalam Upanishad menyatakan : "Ia pergi dari kematian ke kematian siapa melihat-perbedaan disini." Sesungguhnya seluruh tujuan Upanishad-Upanishad adalah untuk menekankan bahwa manusia, alam dan Energi Absolut terikat bersama-sama dalam keharmonisan mistik.

Ravindranath Tagore mengatakan : "Saya selalu melihat India berjuang untuk persatuan di tengah perbedaan-perbedaan, membuat jalan-jalan mengarahkan pada satu tujuan." Sejarah India juga membenarkan kenyataan bahwa dalam hal inilah terletak kebesaran India.

Upanishad menyatakan: "Ekasthitah sarva bhutantaratma", "hanya satu jiwa berumah dalam semua makluk". Oleh karena itu "Mitrasya chakshusha samiksha mahe" (Weda) -"Semoga semuanya memandang satu sama lainnya dengan mata bersahabat".

Ada ratusan ajaran-ajaran mulia seperti itu dalam kitab-kitab suci Hindu yang berabad-abad telah menyaring kehidupan dan pikiran Hindu melalui kesenian, sastra dan musik. Tulsidasji, dalam Ramayana-nya mengatakan" Siyaram maya sab jag jani, Karahun pranam jori yug pani" - "Seluruh dunia adalah manifestasi Tuhan dan oleh karena itu saya haturkan sembah saya yang sederhana kepada-Nya".

Ajaran-ajaran ini cocok diterapkan secara universal untuk menciptakan keharmonisan di dunia. Hindu belum pernah hingga saat ini memaksakan seseorang untuk menerima ajaran-ajaran tersebut. Karena tujuan filsafat Hindu adalah untuk menciptakan keharmonisan dan niat-niat baik antara semua agama, sebagaimana Hindu yakin pada hidup berdampigannya agama-agama dan saling menukar pandangan sebagai alternatif dari pengubahan agama-agama.

Rig Weda menyatakan : "Ano bhadrah kratavo yantu vishvatah". "Biarlah pikiran-pikiran mulia datang kepada kita dari segala arah." Mengubah yang lainnya untuk menjadi agamanya sendiri serta menghancurkan tempat-tempat sembahyang mereka adalah bertentangan dengan pikiran Hindu karena agama Hindu adalah Ibu semua agama-agama dan secara sendiri ia mampu menciptakan keharmonisan diantara agama-agama tersebut. Satu dari prinsip dasarnya adalah "Sarva dharma samabhav" - "penghormatan yang sama untuk semua agama", dan prinsip ini telah selalu menolong agama-agama lain untuk berkembang di India.

Sejarah telah memberikan kesaksian bahwa dimanapun agama Hindu berkembang, disana ia membawa keharmonisan, kedamaian dan kemakmuran sebagai pengganti dari kematian dan kehancuran. Dua ribu tahun terdahulu India mempromosikan agama Buddha di China, Jepang, Timur Jauh dan Timur Tengah dengan cara persuasif, dan tidak seperti  agama-agama lainnya, ia menciptakan kedamaian dan kemakmuran di daerah-daerah tersebut.

Ajaran-ajaran luhur Weda-Weda yang diturunkan melalui Upanishad, Cita, Ramayana, Jainagama, Tripitaka, Gurugranath Sahib dan kemudian dalam puisi-puisi orang suci dan orang-orang berjiwa besar, telah memberikan ilham pada orang-orang besar hingga karya-karya yang tak henti-hentinya menyerukan toleransi beragama, tanpa kekerasan dan kedamaian dunia.

Mahatma Gandhi telah berhasil memenangkan kemerdekaan India dengan jalan tanpa kekerasan hanya dengan umat Hindu memahami credo tanpa kekerasan dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurut Gandhi ; "Agama Hindu adalah pencarian kebenaran tanpa kekerasan." Gandhi adalah universal karena ia seorang Hindu. Kebiasaan jiwa Hindu membuat agama Hindu sebagai agama kedamaian.

Vinobha Bhava, murid Mahatma Gandhi yang terkemuka, mengatakan : "jika ilmu pengetahuan dan kekerasan diperkenankan hidup bersama-sama, maka keduanya terjalin untuk menghancurkan dunia cepat atau lambat". Oleh karena itu, tanpa kekerasan, pesan abadi agama Hindu, harus dijadikan agama seluruh dunia. Jika Rusia dan Amerika telah meneguk dasar-dasar agama Hindu, tentulah perlombaan senjata tidak dimulai.

Marilah kita mengingat apa yang dikatakan Arnold Toynbee ; "Dalam keadaan paling berbahaya dalam sejarah ini, satu-satunya jalan penyelamatan bagi kemanusiaan adalah jalan India, jalannya Ashoka, Ramakrishna dan Gandhi. Disini kita memiliki sikap dan jiwa yang mampu membuat manusia mungkiri berkembang menjadi satu keluarga dan ini, dalam jaman atom ini, adalah satu-satunya pencegah kehancuran diri kita sendiri.

Eksploitasi kelemahan adalah bagian melekat dari kebudayaan material, yang meyakini filsafat "kemenangan yang ada pada yang terkuat". Satu-satunya tujuan hidup dalam budaya ini hanyalah untuk menikmati kenikmatan-kenikmatan sensual dunia yang tidak kekal dan merupakan akar penyebab ketamakan, penderitaan dan ketidak harmonisan di dunia.

Agama Hindu pada sisi yang lain, percaya pada doktrin - Jccvastha Jivvsyasam". "hidup dan biarlah hidup" dan "Kamaye duhka taptanam praninam artinashnam". Satu-satunya tujuan hidup adalah menghilangkan penderitaan dari kehidupan makluk.

Para Rsi Hindu telah merealisasikan kebahagiaan abadi melalui realisasi dari jiwa. Filsafat Hindu adalah keseimbangan antara materialisme dan spiritualisme. Penderitaan dan bahkan ketakharmonisan di dunia akan sirna segera setelah keseimbangan ini dipulihkan.

Agama Hindu tidak percaya pada menciptakan masalah terlebih dahulu kemudian mencoba memecahkannya. Ciri agama Hindu ini adalah bukti dalam semua perjalanan hidup, dan bersama-sama dengan tradisi-tradisi purbanya, membentuk dasar prilaku sehari-hari umat Hindu. Sebagai contoh, agama Hindu tidak percaya pada pengabaian orang tua seseorang terlebih dulu kemudian membangun lembaga-lembaga untuk perawatannya. Juga tidak percaya pada kemunafikan yang menyerbu negara-negara lebih lemah terlebih dahulu kemudian membangun rumah sakit, pengiriman obat-obatan, meyumbangkan bentuk-bentuk bantuan yang lain bagi korban-korban agresi atau mula-mula membuat bom atom kemudian menyelenggarakan konfrensi-konfrensi perlucutan senjata.

Agama Hindu bangga tidak pernah menyerang sebuah negara pun selama sejarahnya yang panjang, sejarah yang agung. Umat Hindu tidak pernah pertama-tama mengeksploitasi bangsa-bangsa miskn dan kemudian mencoba mengapus dosa-dosa dengan cara memberi mereka apa yang disebut bantuan. Mereka tidak pernah mencip-takan suhu-suhu untuk kriminal dan pemisahan, dan kemudian membangun lembaga-lembaga untuk korban-korbannya. Kemana pun orang-orang Hindu pergi, mereka hidup dengan gembira, harmonis dan bekerja-sama dengan penduduk negara-negara tersebut disebabkan karena budaya tradisional mereka. Umat Hindu sejak ribuan tahun telah hidup dalam keharmonisan dengan alam.

Weda-Weda menyatakan : "Swasti gabhyo jagate purushcbhay" - Semoga semua manusia, binatang buas dan burung-burung dirahmati keharmonisan dan kebahagiaan." Dengan demikian pesan-pesan modern lingkungan hidup seutuhnya sesuai dengan pikiran Hindu.

Seperti halnya seni klasik Hindu, sastra dan musik semuanya memancarkan suatu pesan keharmonisan. Lata Mangeshkar mengatakan, "suatu rasa keharmonisan tersirat dalam agama Hindu. Saya berterimakasih pada agama saya atas rahmatnya yang besar pada musik.

Umat Hindu mengaitkan banyak kepentingan terhadap keharmonisan antara anggota masyarakat. Rigweda menyatakan : "Samanomastu vo mano yatha vah susahati". "Semoga hatimu ada dalam kemanunggalan. Semoga pikiranmu harmonis, sehingga kamu hidup bersama dengan kebahagiaan."

Pikiran Hindu memiliki perhatian terbesar pada kesucian dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga. Hal ini dipertimbangkan sebagai landasan semua kebahagiaan dan keharmonisan dalam masyarakat manusia. Maka dari itu Weda mentakdirkan : "Jaya patye madhumatim vacham vadatu shantivani" - "Semoga hatimu ada dalam kemanunggalan. Semoga pikiranmu harmonis, sehingga kamu hidup bersama dengan kebahagiaan."

Pikiran Hindu memiliki perhatian terbesar pada kesucian dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga. Hal ini dipertimbangkan sebagai landasan semua kebahagiaan dan keharmonisan dalam masyararakat manusia. Maka dari itu Weda mentakdirkan : "Jaya patye madhumatim vacham vadatu shantivani" - "Semoga anak lelaki mengikuti jejak ayahnya, semoga ia memiliki kemanunggalan pikiran dengan ibunya, semoga isteri berbicara pada suaminya dengan kata-kata lembut manis laksana madu".

Ada banyak ajaran-ajaran seperti itu dalam kitab suci Hindu. Sebagai hasilnya bahwa, bahkan hari ini, ada banyak ikatan kasih sayang yang dalam dan tulus hati diantara anggota keluarga. Tuan Curmo, gubernur New York, di dalam amanatnya pada Konfrensi Hindu ke-10 di New York tahun 1984, menghargai keharmonisan keluarga Hindu yang mana merupakan dasar bagi keharmonisan dalam keluarga dunia.

Dasar keharmonisan dalam suatu kehidupan keluarga adalah hubungan yang harmonis antara laki dan perempuan secara umum, dan suami dan istri pada khususnya. Gagasan "Ardhanari-shwari" - Tuhan adalah setengah lelaki dan setengah perempuan, adalah sangat khas dalam pikiran Hindu, yang mana memberikan rasa kedamaian yang dalam antara laki dan perempuan.

Pada akhirnya resi-resi Hindu mengetahui bahwa tidak akan ada keharmonisan di dunia sebelum manusia ada dalam keharmonisan dengan dirinya sendiri. Untuk mencapai keberhasilan manusia yang terpenting ini, kitab-kitab suci Hindu penuh dengan ajaran-ajaran yang dapat bertindak sebagai pembimbing manusia untuk mengakhiri kontradiksi-kontradiksi internal mereka dengan mengontrol "kama, kroda dan lobha" mereka. Seluruh pengetahuan yoga dimaksudkan untuk membawa keharmonisan internal kepada umat manusia.

Dengan demikian agama Hindu sinonim dengan keharmonisan. Agama Hindu adalah keharmonisan yang dipersonifikasikan. Terakhir saya ingin mengutip sebuah mantra dari Yajur Weda : " .... Dhyau shanti rantariksha shanti, sarvam shanti, shantireva shanti. Semoga air, sayuran dan bumbu-bumbu memberi kita kedamaian; semoga alam semesta yang tak terbatas memberi kita kedamaian; semoga ada kedamaian, hanya kedamaian yang boleh mempertinggi kedamaianku.

Source: Warta Hindu Dharma NO. 515 Nopember 2009