Puri dan Purohita

Puri atau istana seorang raja adalah tempat tinggal seorang pemimpin atau penguasa. Keindahan sebuah puri di dalam kakawin Ramayana, karya sastra tertua dan terindah dalam jenis kakawin dilukiskan sebagai benkut: adalah sebuah puri bagaikan istana Hyang Indra, dipenuhi oleh orang-orang suci dan susila, puri itu bernama Ayodya, begitu termasyur. Keindahan sorga dikalahkan oleh keindahan puri Ayodya, orang-orang yang ada di dalamnya senantiasa bersuka cita, baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau. Segala benda berharga ada di sana, seperti emas, perak dan mutu manikam. Adalah sebuah bangunan emas permata, dikelilingi taman yang indah, gadis-gadis yang cantik bermain-main di sana, bagaikan para bidadari di sorga.

Keindahan puri seperti itu dihuni oleh seorang raja yang berbudi luhur, yang setia terhadap kata-katanya, yang bahasanya menawan hati. Sang raja adalah orang yang menguasai ilmu kepemimpinan (wihikan sireng niti), beliau juga senantiasa berderma kepada orang-orang miskin, cacat, terlebih lagi kepada para pendeta (nguni-nguni danghyang dang acarya). Pikiran sang raja suci bagaikan bulan, senantiasa memperhatikan kepentingan masyarakat luas, yang menyebabkan seluruh rakyatnya menjadi senang.

Semua hal tersebut di atas diuraikan pada bagian awal kekawin atau karya sastra yang begitu populer dalam masyarakat sastra klasik di Bali. Uraian ini dirangkai dengan sebuah penegasan bagaimana hubungan sang raja dengan purohita atau para pendeta kerajaan. Ketika para pendeta mendatangi istana. Ayodya, untuk memohon bantuan pengamanan atas kehendak jahat para raksasa yang senantiasa menghancurkan yadnya para pendeta, terdapat dialog seperti berikut: dharma orang seperti tuanku seorang raja adalah menolong para pertapa dari segala yang menghancurkan, tuanku rajalah yang harus menjaga segala dukanya itu. Dharma seorang seperti kami para pendeta adalah menyampaikan kepada tuan apa yang disebut sebagai dharma, kebajikan tetapi juga kejahatan, kami akan memberitahukan kepada tuan apa yang disebut benar. "Brahmana dan ksatria seiring, dasarnya saling dekat mendekati. Pendeta tanpa raja akan binasa, tanpa pendeta raja pun sirna (wiku tan panatha ya hilang, tanpa wiku kunang ratu wisirna)".

Demikianlah hubungan antara puri dan purohita, tepatnya antara raja atau sang pemimpin dengan para pendeta atau para rohaniawan. Keduanya saling memerlukan, karena tanpa raja yang kuat bukan saja pendeta akan hancur tetapi juga seluruh kerajaan. Demikian juga sebaliknya tanpa pendeta yang memahami ajaran-ajaran suci, yang memiliki pengetahuan tentang masa lalu, masa kini dan mampu melihat masa datang (atita, anagata, wartamana), maka kerajaan akan hancur pula karena kerajaan dipimpin oleh orang yang tidak memiliki wawasan rohani, kerajaan dipimpin oleh orang yang diselimuti oleh pikiran keraksasaan, kesombongan, congkak, culas, dan mementingkan diri sendiri.

Ada yang relevan untuk kita jadikan pelajaran pada saat sekarang dari apa yang disuratkan di dalam kakawin tertua tersebut: bahwa kekuasaan memerlukan dasar-dasar kerohanian yang kuat. Hanya dengan demikian pemimpin dapat memberikan kebahagiaan kepada rakyatnya.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 480 Januari 2007