Revitalisasi Kearifan Lokal Untuk Pelestarian Lingkungan Hidup

Berbicara tentang kearifan lokal, tidak bisa lepas dari berbicara kebudayaan, karena kearifan lokal merupakan salah satu bagian dari kebudyaaan. Kearifan lokal di Bali mempunyai keunggulan yang disebut lokal genious - merupakan puncak kebudayaan Bali yang dapat dibanggakan baik oleh masyarakat Bali maupun masyarakat Indonesia dan dunia. Macam-macam kearifan lokal yang terdapat dalam legenda, foklore (satua), sastra, hukum adat, upacara tradisional, dan terejawantahkan melalui media ritual, perkataan yang disebut sebagai living culture yang juga tersirat dalam prilaku yang bijak. Kearifan lokal juga merupakan energi kebudayaan mencakup etika, estetika, logika, spiritualità, solidarita, dan praktika. Kehilangan kearifan lokal merupakan bencana sosial bagi kehidupan masyarakat dan bencana bagi lingkungan hidup.

Maka dari itu kearifan lokal sangat bermanfaat untuk pelestarian lingkungan hidup. Pelestarian vang dimaksud adalah lestari yang dinamis, untuk bergerak menuju terciptanva keharmonisan hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya. Pernyataan di atas diperkuat oleh sastra agama Hindu yang tersurat pada mantram Atharvaveda XVIII.17 yang menyatakan bahwa : manusia harus melindungi Tri Chandra seperti air, tumbuh-tumbuhan dan udara yang merupakan sumber yang dapat menumbuhkan kehidupan manusia. Pemujaan ini ada pada pura Luhur Batukaru, pemujaan sang Tumu-wuh.

Aplikasi dari manfaat kearifan lokal masyarakat Bali untuk pelestarian lingkungan hidup adalah sebagai berikut:

1. Kearifan lokal Bali yang mengandung nilai-nilai luhur budaya Bali, nilai religius, nilai bhakti pada sang Pencipta dapat dilihat dalam pelak-sanaan berbagai upacara tradisional. Upacara tradisional itu antara lain : Tumpek uduh yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tepatnya pada hari Saniscara Kliwon Wariga, pemujaan terhadap Dewa Sangkara. Dewa Sangkara adalah salah satu sinar suci Tuhan sebagai pencipta mahluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan. Aplikasi pelaksanaan masyarakat Bali yang sangat yakin akan Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan agar dapat dimanfaatkan oleh manusia. Sebaliknya secara resiprositas, manusia harus menjaga kelestarian dari tumbuh-tumbuhan tersebut. Adapun upakara yang dipersembahkan pada saat itu bermakna ganda : (1) sebagai ungkapan rasa terima kasih terhadap sesama mahluk hidup, bagi tumbuh-tumbuhan. Kearifan lokal yang terkandung dalam upacara Tumpek Kandang yang dilaksanakan setiap hari Saniscara Kliwon Uye, ini juga memiliki makna yang sama dengan yang di atas, sasaran keharmonisan, dan ungkapan rasa terima kasih terhadap binatang. Binatang itu sangat bermanfaat bagi manusia. Keharmonisan dijaga agar tidak sembarang orang memburu binatang, lebih-lebih yang langka. Satua, upakara, maupun tumbuh-tumbuhan untuk upakara juga bermakna sebagai pelestarian.

2. Upacara Nyepi yang juga mengandung nilai sunia atau keheningan dengan pengendalian diri dan penyucian pikiran merupakan salah satu unsur budaya yang termasuk dalam kearifan lokal Bali yang sangat dikagumi baik lokal, nasional, dan dunia, mi juga merupakan puncak kebudayaan Bali global dan sangat bermanfaat bagi keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit. Upacara lainnya seperti upacara siklus hidup pada penanaman padi di sawah; baru menanam; mebiu kukung, mengetam padi; membuat simbol dewa Nini; dan lain-lain. Upacara yang lain pun terimplisit kearifan lokal, maknanya pengabdian pada Ida Sang Hyang Widi/Tuhan, sebaliknya Tuhan akan melimpahkan anugrah dan karuani-Nya untuk kesejahteraan, kemakmuran, kejayaan, dan lain-lain. Keseluruhan makna tersebut bersifat universal bagi seluruh umat.

3. Kearifan lokal yang mempunyai nilai sosial untuk pemeliharaan lingkungan hidup, seperti terdapat dalam satua (cerita), mitologi dalam aplikasi pelestarian hutan. Salah satu contoh satua lelipi Selem Bukit di desa Tenganan Pegringsingan; nilai luhur yang terkandung dalam satua itu, nilai kejujuran, nilai kesetiaan diperankan oleh I Tundung dalam hal ini sudah disimbolkan Lelipi, sangat setia untuk menjaga kebun/ hutan di desa Tenganan agar tidak menebang pohon sembarangan, itu bermakna pelestarian hutan.

4. Satua Tantri, seperti Kedis Cangak Mati Baan Lobane, Pedanda Baka, Bawang Kesuna,  I  Belog  dan  lain-lain merupakan contoh cerita yang mengandung nilai-nilai luhur agar tetap menjadi orang yang tidak loba, saling menghargai, berbuat jujur sehingga dapat menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan sesamanya. Kearifan lokal juga terdapat ungkapan tradisional perlu digali dan dikembangkan bahkan diusulkan agar mendapatkan HAKI, karena ada keunggulan lokabyang perlu dilestarikan.

Pemikiran di atas juga mengandung makna bahwa untuk mendapatkan hidup harmonis, sejahtera laksanakanlah beberapa hal seperti : dharma (kesucian agama); dhana (aset publik, Dhanyam (bahan makanan); guru wacana (kata-kata bijak dari guru suci); ausada (sistem kesehatan) (chanakya niti sastra XIV : 18).

Demikianlah beberapa ilustrasi tentang kearifan lokal yang perlu digali dan dikembangkan serta ditransforma-sikan pada generasi penerus untuk menambah khasanah budaya bangsa, sehingga bermanfaat untuk pelestarian lingkungan hidup.