Revitalisasi Makna Tumpek Landep Dalam Kehidupan Masyarakat Modern [4]

(Sebelumnya)

Pengertian idep dalam konteks TUmpek Landep tampaknya tidak tepat jika disamakan dengan manah (pikiran) yang hanya identik dengan daya tahu manusia. Mengingat manusia dalam dirinya juga memiliki kehendak dan ego yang menyempurnakan hakikat kemanusiaannya. Kata "idep" lebih tepat dijelaskan dalam terminologi "citta" atau alam pikiran menurut ajaran Samkhya-Yoga. Seperti dijelaskan oleh Maharsi Patanjali bahwa:

"Citta atau alam pikiran dibangun atas tiga komponen, yaitu manah, buddhi, dan ahamkara. Manah ialah bagian dari alam pikiran yang mempunyai kemampuan merekam kesan-kesan dunia luar yang diterimanya melalui indriya. Kesan-kesan itu dibedakan dan dianalisa oleh buddhi. Atas kecakapan buddhi inilah orang dapat mengadakan reaksi terhadap kesan-kesan itu. Ahamkara adalah rasa aku, rasa ego yang mengklaim semua kesan-kesan itu sebagai miliknya".

Meskipun manah (pikiran), buddhi (budi), dan ahamkara (ego) seolah-oleh menjadi entitas yang berbeda, tetapi kerja ketiganya menuntut adanya kesatuan. Ketika manah menangkap kesan maka buddhi mengidentifikasi dan menganalisis kesan tersebut, sebelum kemudian ahamkara menyadari bahwa kesan itu adalah rangsang yang ditujukan pada ke-aku-annya. Inilah yang mengakibatkan manusia melakukan berbagai respon atas semua kesan yang ditangkap oleh panca indera.

Dari sekian banyak kesan yang ditangkap panca indera, baik kesan dari dalam diri maupun dari luar diri sebagian daripadanya adalah menyadarkan manusia pada kebutuhan hidupnya. Kebutuhan makan misalnya, lahir dari kesan lapar yang direkam oleh manah, kemudian dianalisis oleh buddhi hingga akhirnya ahamkara menyatakan bahwa "aku sedang lapar sehingga aku harus makan". Demikianlah, melalui kerja idep inilah manusia menyadari bahwa makan adalah kebutuhan hidup untuk mempertahankan eksistensinya.

Dalam pelaksanaannya Tumpek Landep secara empiris ditujukan kepada senjata tajam dan alat-alat tekhnologi. Sejalan dengan upaya manusia untuk mempertahankan eksistensinya maka alat-alat inilah yang digunakan manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa alat-alat ini juga lahir dari kerja manusia itu sendiri yang bersumber dari kemampuan berpikirnya. Artinya, sesungguhnya idep juga yang menjadi penentu dari lahirnya berbagai alat teknologi yang berguna menopang kehidupan manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa senjata tajam dan alat-alat tekhnologi yang diupacarai dalam Tumpek Landep tiada lain adalah simbol dari idep itu sendiri. Kedua-duanya menjadi instrumen penting manusia untuk memper¬tahankan eksistensi kehidupannya sehingga melalui pemujaan kepada Hyang Pasupati keduanya diharapkan dapat memberi lebih banyak manfaat bagi manusia dan kemanusiaannya.

Pemahaman terhadap makna instrumen hidup ini penting juga untuk digali lebih lanjut di tengah-tengah menguatnya pengaruh virus akal budi dalam kehidupan manusia modern. Meluasnya pengaruh virus akal-budi ke seluruh pelosok dunia telah menghimpun sebagain besar manusia dalam komunitas manusia rasional, yakni manusia yang mendewakan rasionalitas sebagai satu-satunya sumber mendapatkan kebenaran. Positivisme dengan klaimnya bahwa pengetahuan yang benar jika dan hanya jika rasional, empiris, dan berlaku umum, semakin mengukuhkan posisi manusia sebagai sumber dari kebenaran, yakni dengan keunggulan akal-budinya yang sekaligus membedakannya dari makhluk lain. Oleh karena itu, pemujaan yang berlebihan terhadap karya cipta ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.

Upaya manusia dalam menemukan pengetahuan benar melalui pikirannya ternyata tidak selamanya berbuah manis. Pengakuan bahwa eksistensi manusia ada pada pikirannya telah membawa manusia modern semakin menjauh dari spiritualitas. Sebagaimana dinyatakan Radhakrisnan bahwa kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Perkembangan sains dan teknologi tidak disertai dengan kemajuan yang sama di bidang spiritualitas, bahkan spiritualitas makin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme peradaban modern. Kondisi ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan pada sisinya yang lain telah menyimpang dari tuntutan aksiologisnya, yakni meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam kemanusiaannya.

Oleh karena itu, upacara Tumpek Landep mengajak manusia untuk kembali memahami hakikat pikirannya sebagai bagian dari tubuh yang menjadi alat bagi sang jiwa sejati (atman) untuk mencapai pembebasan. Dijelaskan dalam Bhagavadgita, 11.22 bahwa:

"Vasamsi jirnani yatha vihaya
Navani grhnati naro parani
Tatha sarinani vihaya jirnany
Anyani samyati navani dehi"

Artinya:
"Seperti halnya seorang mengenakan pakaian baru dan membuka pakaian lama. Bagitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna".

Penegasan bahwa tubuh manusia, termasuk pikiran yang ada di dalamnya adalah pengetahuan rohani yang hendak diajarkan oleh Sri Krishna melalui Bhagavadgita. Menurut Bhagavadgita bahwa tubuh manusia seluruhnya adalah lapangan pengetahuan yang penting dipelajari, dimengerti, dan dipahami sehingga manusia mampu menggunakan tubuhnya (pengetahuannya) menjadi alat yang berguna bagi perjalanan sang atman menuju kebebasan abadi. Disebutkan dalam Bhagavadgita, Adhyaya XIII, sioka 6-7 sebagai berikut:

"Maha bhutany ahankaro buddhir avyaktam eva ca indriyani dasaikam ca panca cendriya gocarah"

"Lecha  dvesah  sukham  duhkam sanghatas cetana dhrtih Etat ksetram samasena sa vikaram udahrtam"

Artinya:
Lima unsur besar (panca mahabhuta), keakuan palsu (ahamkara), kecerdasan (buddhi), yang tidak berwujud (avyaktam), sepuluh indria (dasendriya) dan pikiran, lima objek indria, keinginan, rasa benci, kebahagiaan, duka cita, jumlah gabungan, gejala-gejala hidup, dan keyakinan-keyakinan sebagai ringkasan, semua unsur tersebut merupakan lapangan kegiatan dan hal-hal yang saling mempengaruhi dari lapangan kegiatan.

Upacara Tumpek Landep yang selama ini dipahami sebagai otonan atau paiuedalan semua peralatan dari besi selayaknya direfleksikan untuk memahami hakikat idep atau citta. Artinya, untuk mendapatkan pengetahuan rohani yang benar adalah benar untuk memahami terlebih dahulu seluruh kekuatan materi yang melingkupinya. Manusia yang berkesadaran tentu adalah mereka yang mampu membedakan antara "yang rohani" (hakikat) dan "yang materi" (instrumen/alat). Mengingat kegagalan dalam membedakan kedua aspek ini akan membawa manusia pada belenggu dualisme paradoks yang aKon menghalangi sang atman menuju pembebasan sejati (moksa).

Citta adalah hasil evolusi pertama dari prakerti yang merupakan gabungan dari buddhi, ahamkara, dan. (BERSAMBUNG).

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Warta Hindu Dharma NO. 533 Mei 2011