Pendidikan dalam bahasanya Freire (2002) merupakan alat pembebasan, yakni membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, kemiskinan, sampai pada ketertinggalan. Oleh karena itu, sebagai pusat pendidikan, manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi mahluk yang bermartabat. Namun, dengan meminjam gagasan Piliang (2004:355) dapat dipahami bahwa masuknya sistem kapitalisme ke dalam dunia pendidikan, telah menciptakan sebuah kondisi bertautnya logika pendidikan dengan logika kap-itaisme (logics of capitalism).
Dengan kondisi demikian pendidikan kemudian menjelma menjadi mesin kapitalisme (capitalist machine) yang dalam praktiknya tunduk pada ideologi kapitalisme (ideologi pasar). Padahal dunia pendidikan seharusnya dibangun berdasarkan nilai-nilai objektivitas, keilmuan (scientific), nilai-nilai sosial, moral, dan kebijakan (virtue), sebagai dasar dalam pencaharian pengetahuan, tetapi kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai refleksi keberpihakan kebijakan pendidikan pada kekua-saan kapital.
Berangkat dari gambaran tersebut dapat dibangun sebuah pemahaman bahwa sistem pendidikan dewasa ini telah melenceng jauh dari hakikat (ontologis) pendidikan yang sesungguhnya, yakni sebagai alat pencerahan yang dapat mencerdaskan kehi-dupan anak manusia. Dalam arti pendidikan dewasa ini tidak lagi menekankan keseimbangan antara pengetahuan intelektual dengan pengetahuan spiritual, melainkan lebih menekankan pada pembentukan kecerdasan intelektual (IQ) para peserta didiknya. Sementara kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), cenderung diabaikan. Untuk mengartikulasi berbagai persoalan tentang carut-marutnya dunia pendidikan dewasa ini, menurut hemat penulis pendidikan Hindu tampaknya dapat dijadikan sebagai role model.
Hal ini terlihat jelas dari isi kitab suci Veda, yang merupakan sumber dari segala sumber pengetahuan, baik pengetahuan aparavidya (pengetahuan sains) maupun pengetahuan paravidya (pengetahuan spiritual). Selain pengetahuan tentang paravidya dan aparavidya, sistem pendidikan Hindu juga mengenal berbagai bentuk ajaran tentang kehidupan. Salah satunya adalah ajaran tentang tahapan kehidupan yang pasti akan dilalui setiap insan manusia yang dapat menjalani kehidupannya sampai memasuki usia tua, kecuali mereka yang tidak mau menjalani kehidupan grehasta, baik karena memang direncanakan maupun tidak.
Adapun ajaran dimaksud, adalah ajaran tentang Catur Asrama, yang mengandung arti empat tahapan kehidupan manusia, yang terdiri atas Brahmacari, yakni tahap kehidupan manusia paling awal, yang disebut juga tahap belajar di mana pada masa ini tugas utama manusia adalah menjalani aktivitas belajar. Tahap yang kedua disebut tahap Grehastha, atau disebut pula dengan tahap kehidupan berumah tangga. Pada tahap ini sudah saatnya manusia membangun kehidupan berumah tangga, yang ditandai dengan pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang perem-puan, untuk menjalin kehidupan bersama yang harmonis dan bahagia. Tahap ketiga adalah tahap Wanaprastha, yakni tahap kehidupan untuk mulai mengurangi keterikatan dengan segala kenikmatan duniawi, yang dalam konsep Veda, harus melakukan pertapaan ke tengah hutan. Sementara tahap yang paling akhir adalah tahap Sanyasa yang sering juga disebut tahap penyangkalan atau Bhiksuka.
Jika dicermati secara lebih seksama keempat ajaran tentang asrama ini, sesungguhnya mengandung makna tentang konsep pendidikan yang sangat ideal. Dikatakan demikian sebab setiap tahapan mengandung ajaran tentang hak dan kewajiban serta tugas yang harus dijalankan oleh masing-masing individu, yang jika hal ini dilakoni dengan sebaik-baiknya oleh setiap insan manusia, maka niscaya tujuan hidup yang disebut moksartham jagaditha, akan dapat diwujudkan. Dalam pustaka suci Veda dijelaskan pada saat seseorang menuntut ilmu atau menjadi seorang pelajar, ia harus tinggal di rumah gurunya dan mempelajari segalajenis kitab Veda dan ilmu pengetahuan lainnya yang disebut gurukula.
Di dalam sistem pendidikan gurukula inilah para sisya (para siswa) berkewajiban untuk melayani gurunya, dan para siswa mendapatkan perlakuan yang sama, dalam arti tidak ada perbedaan antara siswa yang kaya dengan siswa miskin. Tahapan dalam kehidupan Brahmacarya ini, ditandai dengan sebuah prosesi upacara yang disebut upacara Upanayana. Upacara ini secara filosofi mengandung makna bahwa begitu anak-anak memasuki dunia sekolah (masa belajar), berarti mereka telah mengalami kelahirannya yang kedua, oleh karena itu perlu diupacarai sebagai pertanda mereka telah siap dan tabah untuk menerima segala macam ilmu pengetahuan yang akan diberikan oleh gurunya, baik menyangkut pengetahuan sains maupun pengetahuan spiritual.
Kemudian dalam proses pembelajarannya, anak-anak tidak hanya diberikan pengetahuan yang bersifat saintific (ilmu pengetahuan ilmiah) tetapi berbagai bentuk pengalaman hidup, seperti tatakrama dalam pergaulan, pengetahuan tentang Ketuhanan, moralitas, serta berbagai ilmu pengetahuan sosial-humaniora lainnya. Jadi, dengan model pendidikan seperti itu, niscaya keseimbangan dalam menjalani kehidupan bagi anak-anak di dunia ini akan mudah tercapai atau dengan bahasa lainnya sistem pendidikan Hindu dapat dijadikan Role Model dalam proses penyelanggaraan pendidikan di abad modern ini. Jika hal ini dipadankan dengan konsep pembelajaran dewasa ini, tampaknya sepadan dengan asas pembelajaran Quantum Teaching. Di mana asas pembelajaran Quantum Teaching menekankan ''bawalah dunia mereka ke dunia kita", dan antarkan ''dunia kita ke dunia mereka".
Artinya, dalam konsep pendidikan seperti ini, apa yang ada dalam diri kita harus mampu membawa anak didik untuk memahami dan mempraktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Selain itu, dengan pembelajaran Quantum Teaching, guru dapat mengajar dengan memfungsikan kedua belahan otak manusia, yakni otak kiri dan otak kanan. Sebuah penelitian di Universitas California (AS), mengungkapkan bahwa masing-masing belahan otak manusia mengendalikan aktivitas intelektual yang berbeda-beda. Otak kiri misalnya, menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan angka-angka, logika, organisasi, dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, dengan pertimbangan dedutif, sehingga memungkinkan manusia berpikir secara lebih kritis dan analitis.
Sementara otak kanan lebih mengurusi persoalan-persoalan yang bersifat abstrak dan penuh imajinasi. Misalnya, masalah warna, rhytme, music, dan proses pemikiran lain, yang memerlukan kreativitas, orisinalitas, daya cipta, dan bakat artististik. Jadi, kerja otak kanan lebih santai dibandingkan kerja otak kiri, sebab tidak terikat pada parameter ilmiah dan matematis. Jadi, model pembelajaran Quantum Teaching pada dasarnya menyeimbangkan antara kerja otak kanan dengan kerja otak kiri manusia, sehingga dalam hidupnya bisa mencapai titik equilibrium. Demikian halnya dengan sistem pendidikan Hindu yanag dalam konsepnya selalu mengutamakan keseimbangan antara pendidikan spintual dengan pendidikan intelektual, antara pendidikan moral dengan pendidikan material, dan antara pendidikan sosial dengan pendidikan individual. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan Hindu dapat dikatakan sebagai role model pendidikan, di tengah-tengah carut-marutnya dunia pendidikan dewasa ini.
Oleh: I Ketut Suda
(Penulis, Guru Besar bidang Sosiologi Pendidikan UNHI)
Source: Majalah Wartam Edisi 21, Nopember 2016