Sakuni adalah patih Negara Astina. Badannya kurus, mukanya pucat kebiru-biruan seperti pemadat candu. Caranya berbicara "klemak-klemek" menjengkelkan (Mulyono, 1989). Orang yang mempunyai ciri fisik seperti itu cenderung berbuat tidak suci, senang menipu, munafik, senang memfitnah, senang menghasut, senang mencelakakan orang lain, dan iri hari. Walaupun Sakuni kelihatannya membantu Kurawa, tetapi sebetulnya tidak. Dapat dipastikan selama berada di Astina, ia selalu mempunyai pikiran yang tidak baik (amanachika). Dibagian gelap jiwa Sakuni selalu menyimpan suatu dorongan sadis, yaitu "biarlah orang lain menderita". Shrii Shrii Anandamurti mengatakan: Di setiap desa dimana juga, kita akan menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan kasar yaitu ingin mempertahankan dirinya, tetapi orang lain yang harus dikorbankan.
Menurut silsilah keluarganya, ia sebenarnya dapat mewarisi tahta kerajaan ayahnya di negara kecil Gandara. Tetapi kemungkinan sangat tipis. Sebab di atas Sakuni saudara laki-lakinya ada dua orang. Walaupun bisa tetapi negara yang kecil itu harus dibagi. Keadaan inilah yang menyebabkan Sakuni lebih senang mengikuti kakaknya Gandari-Permaisuri Drestaresta, raja Astina. Disamping itu ada pertimbangan beberapa yang menyebabkan Sakuni tetap mengikuti kakaknya adalah karena ada rasa dendam tidak mendapatkan Kunti, bagi Sakuni, hal ini dapat dibenarkan, karena Astina itu negara yang besar dan sangat terkenal dari jaman sebelum perang Baratayudha. Mungkin kalau Sakuni berbuat yang sama di negerinya, ia tidak akan dikenal sangat memungkinkan yaitu dengan kebutaan Drestarastra. Orang buta tentu terbatas kemampuannya dibandingkan dengan orang yang normal. Orang yang buta sangat mudah tersinggung karena tidak dapat menyaksikan yang sebenarnya.
Atas kebutaan itu Sakuni berusaha menciptakan agar Drestaresta menjadi orang yang tidak tahu apa, siapa dan bagaimana keadaan di sekitarnya. Sebab, sebelum Sakuni berada di Astina, Drestarastra adalah orang baik-baik. Kenyataan ini dapat dibaca pada waktu Drestaresta sebelum menikah dengan Gandari termasuk orang yang bijak dan selalu disayang dan menjadi harapan untuk ikut memikirkan negara. Dan memang demikian yang diciptakan oleh Abiyasa. Sikap baik Drestaresta masih dapat dibaca pada waktu Duryodana dan Sakuni melaporkan tentang mengundang main dadu, tentang istana kardus, menghina Pendawa dalam masa pembuangan di hutan. Semua dari peristiwa ini pada prinsipnya tidak mendapat restu. Namun karena kepintaran Sakuni untuk meyakinkan Drestaresta semua pemikirannya terlaksana.
Sakuni Pengasuh Yang Serba Tamak, Jahat, Cengeng
Setelah Drestaresta menikah dengan Gandari, tabiatnya menjadi berubah. Semua ide Sakuni direstui oleh Drestaresta. Hal ini dapat dimaklumi, karena Sakuni adalah ipar. Tentu pandangan Drestaresta terhadap ipar selalu istimewa. Tetapi Drestaresta tidak tahu bahwa semua ide yang diciptakan itu hanya untuk membalas sakit hatinya. Sakuni sakit hati dengan Pandu dan keturunannya, karena kalah tanding memperebutkan Kunti. Atas dasar Pandu kakaknya Gandari yang normal harus mengorbankan diri seperti orang buta. Walaupun pada waktu standar moral yang lebih dominan dianut masyarakat adalah standar moral yang sederhana seperti apa yang dilakukan Gandari dengan membuka mata setelah kawin hanya dua kali, pertama atas perintah suaminya pada saat anak-anaknya menghadap dan mohon berkah agar menang dalam perang Beratayuda, kedua untuk memandang Sri Kresna setelah perang Beratayuda berakhir.
Seratus Kurawa pinter berpikir licik itu akibat asuhan Sakuni. Mungkin kalau diasuh oleh drona, Kripa dan Bhisma, tabiat para Kurawa akan berbeda. Setelah akal Sakuni habis menyingkirkan Pandawa pada waktu menjadi murid, maka untuk kelangsungan hidup Kurawa, Sakuni harus memutar otak dengan ilmu fitnahnya. Untuk menyingkirkan Pandawa yang sebenarnya pewaris tahta kerjaan Astina. Dalam peristiwa "Bale Sigala-gala" Pandawa dibakar hidup-hidup. Tetapi Tuhan masih melindungi Pandawa dan mereka terhindar. Dari Astina Pendawa berhasil membangun Indraprasta, yang konon indahnya seperdelapan kerajaan Dewa Indra.
Keberhasilan Pendawa tersebut membuat Sakuni terpaksa menjalankan ilmu asutnya lagi dengan menghasut Duryodana dan Gandari. Kali ini siasat licik yang dijalankan adalah mengadakan permainan judi dengan dadu. Sakuni tahu bahwa Yudistira senang main dadu, Pendawa kalah.
Sakuni di dalam lubuk hatinya mengetahui bahwa hanya mereka yang dilindungi Tuhan yang akan mendapat kemenangan. Dan itulah sebabnya dengan mempertentangkan Kurawa dengan Pendawa, sebenarnya tidak menolong Kurawa. Karena kejahatan-kejahatannya, sampai kini tak seorangpun yang mau disamakan dengan tokoh Sakuni. Di Jawa, walaupun ia berupa kulit, bagi yang percaya, kalau pagelaran dibungkus dengan kain putih kemudian "dilabuh" diserahkan kepada Nyai Rara Kidul. Di Bali satu orang pun masyarakat tidak mau menyamakan dirinya dengan Sakuni, tetapi masyarakat tidak semua sepakat kalau Sakuni terlalu diremehkan dalam adegan Sendratari. Sebab Sakuni bukan orang sembarangan, ia adalah keturunan raja, yang juga mempunyai dan dihormati oleh rakyatnya.
Source: I Made Purna l Warta Hindu Dharma NO. 411 Mei 2001