Samudra dan Mudra

Samudra senantiasa mendapat perhatian dan renungan pada Kawi dan Wiku. Samudra - raya, lautan yang luas, tempat bermuaranya semua sungai dijadikan perumpamaan bagaimana arah pemikiran spiritual yang beraneka akhirnya menuju satu tujuan.

Tradisi sastra dan filsafat Hindu mengulang-ulang ucapan ini: "Sebagaimana sungai-sungai memiliki sumber yang berbeda-beda tempatnya, namun semua airnya berbaur menjadi satu di samudra, demikian pula, oh Tuhan, jalan-jalan yang berbeda yang ditempuh oleh manusia melalui keinginan-keinginan yang berbeda, walaupun tampak beragam, berbelok atau lurus, semuanya menuju kepada-Nya jua". Ya, samudra menjadi tujuan semua sungai, atau semua air yang mengalir tujuan itu ternyata satu.

Di sisi lain diingatkan pula kepada berbagai aliran pemikiran atau sekte-sekte yang muncul di berbagai tempat dan kesempatan tentang kemungkinan terjadinya "tsunami". "Seperti halnya air di tepi samudra ketika terjadinya gempa bumi dahsyat menjadi surut dalam sekejap, Hanya untuk muncul kembali sebagai banjir yang menghanyutkan segala-galanya dalam sekejap pula, seribu kali lebih dahsyat, dan bila arus banjir itu telah berlalu, sekte-sekte itu semua tersedot dan membaur kedalam samudra, ke dalam tubuh ibu agamanya.

Demikianlah semudra senantiasa memberi inspirasi kepada kawi dan wiku. Seorang kawi - wiku yang begitu gemar berada di tepi samudra, Dang Hyang Nirartha mencatat makna samudra sebagai tempat memuja Dewa Keindahan : Saya naik ke punggung bukit; setibanya di puncak bukit saya duduk di bawah pohon kamalaka yang rimbun dan memayungi : Sungguh indah pemandangan samudra yang ombaknya menyembur membentur batu karang yang kukuh, bagaikan asap putih api pemujaan, dan bukitnya yang kukuh bagaikan sang pandita. Di puncak bukit tumbuh pohon sawo yang besar, bagaikan rambut sang pandita yang diikat; burung walik yang terbang berwarna putih bagaikan abu yang dioleskan di antara alis. Puja mantra yang diuncarkan berada di antara suara guruh di kejauhan, yang terdengar halus menawan hati. Dentingan suara genta sang pandita tiada lain adalah kokokan suara ayam hutan yang mempesona...

Sebuah pengandaian yang menarik, sebuah gambaran bahwa di tepi P^mudra senantiasa terjadi pemujaan dan upacara abadi. Seorang pandita beryoga, inemuja, menguncarkan mantra, tentu juga melakukan mudra.

Mudra berasal dari urat kata "mud" dalam bahasa Sanskerta, berarti "membuat senang". Oleh karenanya mudra bagian dari proses pemujaan, seperti halnya mantra, kuta mantra dan pranawa mantra. Mudra adalah sikap-sikap sang pandita ketika memuja atau beryoga, dilakukan dengan posisi tangan dan jari jemari sedemikian rupa. Matsya mudra sebagai mudra dilakukan ketika mempersembahkan arghya (air pemujaan), digambarkan sebagaimana gerak ikan, didalam samudra. Maka di sini sang pandita kembali berkonsentrasi kepada sumber air atau samudra, Artinya berkonsentrasi pula pada amreta, air kehidupan yang memberi kerahayuan.

Samudra sungguh penuh makna, demikian pula mudra sang pandita. Makna bagi manusia yang menyadari dirinya sebagai mahluk yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta, sumber pemberi Amreta, atau kerahayuan.

Oleh: Ki Nirdon

Source: Warta Hindu Dharma NO. 515 Nopember 2009