Sarameya Menonton Yajna

Posisinya cukup jauh ia hanya menonton upacara yajna yang dilaksanakan oleh Sang Srutasena atas perintah Maharaja Janamejaya. Ia menyadari dirinya kotor, tak patut mendekat ke kancah upacara besar itu, upacara yajna yang dilaksanakan di Kuruksetra.

Namun demikian sang Srutasena memukulnya juga, tanpa alasan. Sungguh sakit terasa pukulan itu, pukulan keras dengan kayu. Maka Sarameya mengadukannya kepada ibunya yang bernama Sang Sarama. Sungguh sedih sang ibu melihat anaknya dipukul tanpa dosa (Pinalu tanpa dosa). Sang Sarama yang sesungguhnya istri dari Bhagawan Pulaha itu lalu pergi menuju Kuruksetra tempat diselenggarakannya upacara yadnya itu.

Setibanya di tempat upacara Sang Sarama mengutuk Maharaja Janamejaya : Ike anak ning ngulun maharaja Janamejaya, atyanta susilanya, wruh yang campur awaknya, tatan ulat ring sajinta, ngunhoeh andilata drewya. Tuhun pwa yan anonton sakeng kadohan si sirameya juga, pinalu pwa mangkana prawretinya nirdosa: Tasmad adrstabhayam agamisyate. Hana ta baya purwa kapanggiha denya, apan dumenda ring tan yogya dendanya. " Hai maharaja Janamejaya, ini adalah anakku, sangat baik tingkah lakunya, ia tahu ketidaksucian dirinya, maka ia tidak mendekat pada sesajenmu terlebih lagi menjilatnya. Sungguh ia hanya menonton dari kejauhan, namun ia toh dipukul juga, perbuatannya sungguh tidak berdosa: Adalah bahaya yang akan maharaja temui nantinya, karena telah menghukum ia yang tak patut di hukum."

Kutukan Sang Sarama terdengar menggelegar, Maharaja Janamejaya merasa ketakutan. Sambil menghilang Sang Sarama mengatakan : "korban yang anda lakukan tidak dapat menghalangi kutukan itu." Mendengar hal itu Maharaja Janamejaya menjadi pucat, sedih, seraya menyuruh orang-orang menghentikan korbannya itu.

Maharaja Janamejaya terus dirundung kesedihan, akibat dosa yang dilakukannya memukul Sang Sarameya yang berujud seekor anjing putra Sang Sarama yang lalu marah dan mengutuknya. Maharaja merasa terus dikejar-kejar rasa takut terhadap bahaya yang akan menimpa dirinya. Maka Maharaja Janamejaya ingin menyucikan pikiran melakukan prayascita.

"Barangkali saya harus mencari seorang Brahmana untuk melakukan upacara penyucian sehingga kutuk Sang Sarama tidak terjadi." demikian Maraja Janamejaya. Maka Sang maharajapun lalu pergi ke hutan akhirnya beliau bertemu dengan Bhagawan Sruta Srawa. Kepada Sang Bhagawan, Maharaja Janamejaya meminta perlindungan dan perkenan untuk melakukan penyucian pikirannya dan menghindarkan kutukan itu (mangkanakena prayascita kahilangnya nikangsapa).

Demikian cukilan cerita yang kita ambil dari kitab Adiparwa, kitab pertama dari 18 kitab yang membangun Mahabharata. Ada nilai-nilai moral dan spiritual yang dikandung dalam cerita tersebut. Bahwa betapa seharusnya sikap kita terhadap binatang, terlebih lagi ketika kita melaksanakan upacara yajna. Dasar kesusilaan Hindu yaitu ahimsa hendaknya menjadi landasan dalam setiap bertindak. Ahimsa berarti tidak menyakiti adalah sila pertama dari sepuluh sila (dasa sila) yang menjadi pokok kesusilaan Hindu dan landasan utama jalan yoga.

Cerita penuh makna ini menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Hindu. Maka masyarakat Hindu tidak akan sembarangan memukul anjing, apalagi membunuh-nya. Binatang yang memiliki sensitivitas itu memang dihadirkan sebagai penggoda manusia terutama bagi mereka yang menegakkan nilai-nilai kesucian.

Oleh: KI Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 516 Desember 2009