Kaliyuga, bila sama dengan zaman kali dalam Hindu barangkali serupa dengan zaman edan menurut Rangga Warsita. Ciri-ciri zaman edan disebutkan, antara lain benar dan salah, baik dan buruk, dan dualitas lainnya tidak mudah dibedakan. Dalam Serat Kalatidha dalam pupuh sinom disebutkan seperti berikut :”menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikuti gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak ikut gila, tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Tuhan, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada,” kiranya jelas yang dimaksudkan dengan zaman edan dalam pupuh ini.
Bila dikaitkan dengan situasi kehidupan masa kini, tampaknya zaman edan memang sudah mendekati. Seperti pupusnya batas bidang kehidupan, luluhnya sekat kebudayaan tertutama tumpang tindih kehidupan agama dengan politik. Apalagi situasi politik nasional beberapa bulan terakhir nenunjukkan betapa kukuhnya nilai ketuhunan, bahkan mengatasi nilai kemanusiaan. Kisruh tokoh saling lapor ke polisi membuktikan semakin akutnya penyakit sosial. Penyakit sosial pada umumnya didahului oleh penyakit moral yang menguras pasal-pasal hokum dan palu hakim. Tanpa penanganan yang tepat dapat diduga penyakit ini akan merembet ke semua lapisan sosial dalam masyarakat. Bukan hanya lapisan atas dan menengah saja yang uring-uringan, bahkan lapisan sosial di tingkat paling rendah dapat saja bergerak paksa, seperti peristiwa 1998 hingga munculnya masa reformasi.
Saat ini tidak mudah membedakan hal yang benar dan yang salah, sulit menentukan mana pemimpin yang jadi panutan dan mana yang tidak. Manusia hidup hanya berorientasi pada uang, sehingga sering mengabaikan kaidah-kaidah moral. Kenyataannya sulit membedakan mana pemimpin agama mana pemimpin politik. Agama kerap dijadikan tameng untuk memuluskan kekuasaan serta tidak jarang dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan ekonomi. Satir pedas ada yang mengatakan, zaman edan dintadai satu kaki manusia diikat Tuhan, kaki yang satunya sibuk menendang manusia lainnya dan menendang alam.
Dalam teks Kekawin Nitisastra menguatkan pernyataan di atas yang menyebutkan sebagai berikut: Singgih yang tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara. Arti bebasnya: kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai daripada uang. Sudah susah dikatakan para ilmuan, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat semuanya pelayan orang kaya.
Teks kekawin tersebut jelas menyiratkan, bahwa saat ini banyak orang lupa pada tujuan hidupnya. Kepenuhan dan kebahagian hidup tidak lagi menjadi tujuan. Alat berubah menjadi tujuan. Ketika ini terjadi, maka orang bingung akan perbedaan antara alat dan tujuan. Alat berubah menjadi tujuan. Uang berubag menjadi tujuan, dan akhirnya mengacaukan seluruh tatanan hidup, baik hidup pribadi maupun hidup bersama. Ketika uang menjadi tujuan, ia lalu dilihat sebagai kebutuhan utama. Yang menyeramkan adalah, kebutuhan akan uang tidak akan pernah cukup. Berapapun pedapatan seseorang, ia tetap akan merasa tidak cukup, karena hidupnya kehilangan tujuan yang sejati, yakni kepenuhan hidup itu sendiri. Ketika hidup yang baik dan pemikiran yang masuk akal tidak lagi menjadi ukuran, maka kebutuhan akan uang akan menjadi tidak terbatas, dan kerakusan adalah dampak logisnya.
Jauh sebelum masa itu, Sri Aji Joyoboyo telah meramal tantang Zaman Edan yang akan melanda pulau jawa yang dikenal dengan istilah wolak-walik ing zaman (zaman yang terbalik). Dia adalah salah satu raja di Kerajaan Kediri yang memerintah dari tahun 1130 sampai 1157. Pada masa kepemimpinannya sunia sastra Jawa Kuno mengalami masa keemasan. Dia meminta Empu Panuluh dan Empu Sedah menyadur cerita Mahabarata Sansekerta ke dalam kakawin Jawa kuno Bharatayudha. Dia juga meminta Empu Penuluh juga mengubah kakawin Gatotkacasraya dan Hariwamsa. Namun dalam sejumlah karya sastra yang ditulis saat itu, tak disebutkan jejak kepemimpinan Joyoboyo. Sejumlah sumber pustaka menyebut bahwa Ramalan Joyoboyo diyakini baru muncul pada sekitar tahun 1618 saat Sunan Giri Perapan menulis Kitab Musarar (Asrar). Bersumber dari Kitab Musarar (Asrar). Bersumber dari Kitab Musarar inilah Pangeran Wijil I dari Kadilangu menulis Kitab Jangka Jayabaya pertama pada tahun 1741 sampai 1743 Masehi.
Isi ramalan Joyo boyo secara umum menyatakan tentang ramalan perjalanan Negara di Nusantara (Indonesia). Perilaku pemimpin panutan yang seharusnya melakukan tindakan baik, dan tindakan buruk yang pantang dilakukan. Contoh pemimpin yang seharusnya menjadi panutan. Sikap para birokrat dan tingkah laku manusia di masyarakat pada saat tertentu. Gejolak alam yang menampakkan berbagai bencana alam termasuk wabah penyakit, perubahan iklim dan geologis. Ramalan mengenai watak dan tindakan manusia yang mempengaruhi kehidupannya secara umum, baik kehidupan beragama, bernegara dan perilaku alam.
Dikabarkan bahwa, Prabu Joyoboyo merupakan sosok pemimpin yang bijaksana, disiplin melakukan kewajiban dalam mengemban tugas Negara. Konon pada masa pemerintahannya Negara dalam keadaaan aman dan sejahtera, ia mampu memecahkan masalah Negara yang pelik. Ia sering melakukan perenungan di Padepokan Mamenang, memohon petunjuk para Dewata Agung. Perenungan sering berlangsung beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun. Hal ini dilakukan demi mendapatkan petunjuk dari Dewata Agung, mengenai langkah yang harus dilakukan dalam memecahkan permasalahan bangsa dan Negara.
Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo digambarkan suasana Negara yang kacau balau, penuh karut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudiaan digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan yang dikenal dengan Satria Piningit putra Dewa Indra. Sampai di sini kita akan dapat mulai memahami siapakah yang dikatakan oleh Prabu Joyoboyo dengan istilah “Putra Betara Indra” itu?
Bait-bait Joyoboyo itu telah mengurai secara rinci tentang ciri-ciri dan karakter orang yang dimaksud. Putra Betara Indra tidak lain dan tidak bukan adalah Pemimpin yang tertulis di dalam sinom baik 28 pada Serat Musarar Joyoboyo. Perlambang paras Kresna dan watak Baladewa bermakna satria pinandhita. Karena hakekat dua bersudara Kresna dan Baladewa (Krishna Balarama) melambangkan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dimana Kresna melambangkan cipta, sedangkan Baladewa melambangkan potensi kreativitasnya. Dua bersaudara Kresna dan Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagapai pengembala sapi. Dengan hakekat ini setidaknya kita dapat meraba bahwa Putra Betara Indra adalah juga “Budak Angon” (Anak Gembala) yang telah dikatakan oleh Prabu Siliwangi di dalam Uga Wangsit Siliwangi.
Sama halnya yang tertulis di dalam Serat Kalatidha, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Peraya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta mudah-mudahan akan terjadi, baik lambat ataupun cepat. Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil “olah batin” ataupun “perjalanan spiritual” beliau-beliau di dalam menangkap lambing-lambang Dewata Agung di alam nyata maupun gaib. Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat (sastra tanpa wujud, papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang. Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur Nunsantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada. Rahayu
Oleh: Putu Wawan
Source: Majalah Wartam, Edisi 29, Juli 2017