Siwa Nataraja: Filsafat dan Estetikanya [2]

(Sebelumnya)

4. Siwa: Nirguna dan Saguna

Secara metafisika, Saiwa Siddhanta mengakui tiga realitas atau Tripadartha: Pati, Pasu dan Pasa. Secara agama Pati adalah Siwa Pasu adalah Atma atau Jiwa dan Pasa adalah belenggu atau dunia atau jagat. Ketiga padhata ini adalah independen dan riil. Oleh karena itu secara metafisik, Saiwa Siddhanta mengambil posisi Suddhadvaita, dimana dalam keadaan moksa, jiwa/atma bukan lebur menjadi satu atau luluh dengan Siwa seperti yang dianut oleh Advaita Wedanta Siwa oleh Sankara, namun menjadi Siwa sehingga keterpisahannya dengan Siwa masih terjaga.

Untuk kemudahan pemahaman. Saiwa Siddhanta pertama-tama membedakan Siwa ke dalam dua tingkatan. Ini dilakukan dari perspektif teologis. Pertama, Siwa dalam hakikatnya sebagai tanpa sifat, tanpa bentuk, tanpa awal, tanpa tengah, tanpa akhir. Beliau berada di luar jangkuan kemampuan manusia. Beliau tansendental dan imanen. Ia berada di alam hakikatnya atau posisinya yang tertinggi (paramarthika). Ia disebut Parama Siwa (Siwa Tertinggi), tanpa bagian (niskala). Dalam posisinya seperti ini, beliau bukanlah menjadi Tuhan yang bisa disembah, yang dapat diajak berkomunikasi, karena beliau tanpa sifat, tanpa pribadi, seperti Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Kasih, Maha Pemurah, dan sebagainya.

Acintyagama menyuratkan, "Hakikat Siwa tertinggi tidak dapat diketahui melalui observasi (adhyaksa), tidak juga melalui tanda (Linga), tidak juga melalui otoritas verbal (sabda). Dengan demikian, Siwa hanya diungkapkan dengan cara negatif: bukan ini, bukan itu. Dalam hakikatnya seperti ini, Siwa tidak bisa dijangkau oleh bhakti, dan lain-lain. Dalam aspeknya seperti ini beliau adalah transendental, berada di luar jangkauan akal, pikiran, perasaan, perkataan manusia. Beliau dalam posisi seperti ini tidak bisa dijangkau oleh apapun, termasuk puja, doa, sembah, bhakti dan sejenisnya. Jadi, dalam pengertian agama (dalam bahasa Indonesia atau Inggris) beliau yang berhakikat seperti itu bukanlah Tuhan (God). Jadi, konsep ini trans-agama dan juga trans-rasional.

Tingkatan kedua adalah Siwa dalam bentuknya yang aneka rupa (nama-rupa), yaitu Siwa yang mempunyai bentuk dan sifat, bagian (sakala). Dengan hakikatnya seperti ini Siwa bisa dihadirkan dihadapan pemujanya. Inilah yang disebut Tuhan dalam bahasa Indonesia. Pada hakikatnya Siwa berpribadi, bersifat karena beliau mempunyai sakti dan karenanya beliau beraktivitas. Dalam hakikatnya seperti ini, Siwa melakukan lima aktivitas (Pahcakrtya), dan memberikan anugrah (anugraha). Dalam hakikatnya seperti ini pula, Siwa sebagai penyebab efisien (nimitta- karana), sakti sebagai penyebab instrumen (sahakari-karana), dan maya sebagai penyebab material (upadhana karana) alam semesta beserta segala isinya.

Dalam fungsinya seperti ini pula. Siwa diasosiasikan dengan kekuatan (sakti) dan muka (mukha) yang masing-masing melaksanakan Pancakrtya. dan anggota badan dengan mana ia melakukan aktivitas di dunia ini. Karena melakukan lima aktivitas kosmis (Pancakrtya) beliau juga mempunyai lima muka (Panca Mukha) dan Panca Aksara atau Bija Mantra. Karena beliau berwujud, mempunyai mukha, warna, bija akrara. posisi dik-widik dalam sistem mandala. maka beliau menjadi semakin dekat dengan manusia di bumi sehingga pemujaan menjadi lebih mungkin. Jika beliau diwujudkan dalam linga: dalam hakikatnya sebagai Sadasiwa beliau diwujudkan dengan Panca Mukha Linga, dimana mukha yang menghadap ke atas adalah Isana. Maya sebagai penyebab material (upadhana-karaha). Siwa-Sakti sebagai penyebab penyerta (sahakari- karana).

Dalam hakikatnya seperti ini, Siwa diberikan tubuh sehingga umat bisa menyembahnya: menghaturkan puja, bhakti; memohon anugrah, perlindungan dan sebagainya. Siwa mencakup aspek tidak hanya tanpa bagian (niskala), dengan bagian (sakala) tetapi juga termasuk keduanya: tanpa dan dengan bentuk (sakala-niskala). Dengan demikian tidak ada kontradiksi antara imanen dan transendental, juga antara perbedaan integrasi dan diferensiasi. Perbedaan itu dilakukan hanya pada tingkatan penampakkan (upadhi), bukan fundamental.

Kitab-kitab Agama berulang kali menegaskan bahwa Siwa pada tingkatan kedua, atau Siwa dengan nama dan rupa (sakala) bukanlah Siwa tertinggi. Bentuk Siwa yang paling komprehensif dikenal dengan Sadasiva (Siwa Abadi). Sadasiva diasosiasikan dengan lima aktivitas fundamental Siwa (Pancakrtya): anugraha tirobhava, samhara, sthiti, dan srsti. Agar bisa melaksanakan aktivitasnya, maka Ia dibantu oleh instrumen (karaha). Untuk masing-masing aktivitas fundementalnya, Siwa menggunakan mantra: untuk emisi digunakan Sadyojata; untuk preservasi digunakan Vama; dan sebagainya. Lima mantra dengan mana Siwa melakukan aktivitasnya secara kolektif disebut lima Brahmamantra yang membentuk lima mukha Sadasiwa. Mantra adalah tubuhnya. Siwa pergi dan datang menjumpai penyembahnya melalui mantra, karena beliau berbadan mantra. Seperti juga kita ketahui bahwa roh (jiwa) datang dan pergi melalui tubuh/jazad; maka, demikianlah Siwa datang dan pergi melalui tubuh mantra. Ramakantha menyatakan, "Siwa melalukan segalanya dengan meng-gunakan Sadasiwa sebagai tubuhnya" (Vrtti dari Ramakantha tentang Kalottaragama, 22. 2-4)

Tubuh Sadasiwa ditegaskan lagi bahwa ini bukanlah sebuah tubuh seperti halnya tubuh manusia. Tubuh ini terbangun oleh mantra atau kekuatan (sakti), dan sepenuhnya tanpa belenggu (pasa), suatu hal yang selalu ada pada setiap tubuh manusia. Madhavacharya di dalam kitabnya Sarvadarsana-sangraha merangkum konsepsi Sadasiwa di dalam pembahasannya tentang filsafat Saiwa Siddhanta, sebagai berikut: "Tubuh Parameswara bukanlah sebuah tubuh yang umum (prakrta), karena ikatan belenggu mala, karma dan lainnya absen dari-Nya. Ia adalah sebuah tubuh kekuatan (sakta), karena kepala dan bagian-bagian lainnya dibangun oleh lima mantra dimulai dengan Isana yang mempunyai bentuk Sakti. Seperti umumnya diketahui, Siva mempunyai Isana sebagai kepala, Tatpurusa untuk muka, Aghora sebagai jantung, Vama untuk kemaluan, dan Sadyojata sebagai kaki.

Tubuhnya yang tidak seperti tubuh manusia adalah instrumen yang dibentuk oleh keinginan dengan mana Ia melaksanakan lima aktivitas fundamental (Pancakrtya): anugraha, tirobhava, samhara, sthiti, dan srsti [anugrah, penutupan, penyerapan (menarik kembali ke asalnya atau pralaya), pemeliharaan, dan emisi] secara berurutan" (Sarvadarsana-sangraha oleh Madhava, 7.57-63)7. Dengan demikian Sadasiwa bertindak sebagai "jembatan" yang menghubungkan penyembah dengan Siwa yang nirguna.

Disamping itu, Siwa juga beraktivitas dengan menggunakan energi atau instrumen (karana) untuk mewujudkan tujuannya, yaitu agar jiwa bisa mendapatkan moksa. Instrumen dengan kapasitas yang tak terbatas disebut Sakti. Dengan Sakti, Siwa menjadi kuat (sakata) sehingga mampu menjalankan lima fungsi. Walaupun demikian, Siwa dan Sakti dilukiskan bagaikan api dengan panasnya: Jadi. Siwa dan Sakti sesungguhnya satu dan sama. Menurut klasifikasi umum, ada lima Sakti: Parasakti, Adisakti, Icchasakti, Jnanasakti, dan Kriyasakti. Brahmamantra dikatakan mempunyai bentuk Sakti. Ada lagi delapan kelompok Sakti yang bertindak sebagai pengendali Vidyervara, agen ketuhanan Siwa.

Konsep-konsep di atas secara halus dan simbolis tergambar di dalam Siwa Nataraja. Jika semua ajaran Siwa mengacu kepada pembebasan jiwa-jiwa dari belenggu samsara, maka demikian juga konsep Siwa Nataraja mengajak seluruh umat manusia menari, berkreasi seni untuk mencapai pembebasan. Jika di dalam Bhagavadgita disebutkan Tuhan tak sedetikpun istirahat berkerja (karma), maka demikian pula manusia diharapkan aktif bekerja untuk kerja itu sendiri. Kerja untuk pembebasan. Di dalam ajaran Siwa: Siwa menari, maka umat manusia pun diharapkan ikut menari dalam pengertian yang luas. Segala bentuk kesenian adalah sebuah bhakti. Oleh karena seni memekarkan rasa, maka rasa adalah sebuah bhakti dan sekaligus tujuan seni, yaitu samarasya antara Siwa dengan jiwa-jiwa, antara Parama Siwa dengan Siwa yang bersemayam di dalam diri setiap individu. Samarasya adalah puncak pengalaman estetika dan mistik yang bermuara menjadi satu, yaitu ananda.

5. Siwa, Penguasa Kesenian

Siwa sering juga diasosiasikan dengan musik baik vokal dan instrumen. Epos besar Mahabharata menyebutkan beliau sebagai seorang guru. Beliau disebutkan juga sebagai pengarang pustaka bernama Vaisalaksha yang mendapatkan nama dari sifat-nya, Visalaksha. Sebagai penguasa seni, beliau disebut Adiguru yang mengajarkan kesenian kepada umat manusia. Oleh karena itu beliau dipuja oleh para seniman. Mereka memohon anugrah dan restu sebelum melakukan kreativitas seni. Di dalam pembahasannya mengenai Rg-samhita dan Taittiriya-samhita, Sayana dan Madhava mengacu kepada pengetahuan agung Siwa di dalam mangalacharana-nya. Mereka memuja dengan suntuk kepada Siwa yang dikatakan sebagai istana pengetahuan dan pencipta Weda yang membentuk seluruh alam semesta.

Epos besar Mahabharata, pada suatu bagiannya, menyatakan bahwa adalah Siwa yang memberikan isnpirasi kepada pengarang buku dan sutra. Beliau menyimbulkan seni dan kesusastraan, dan menyebarkan pengetahuan mengenai kala kepada Garga. Beliau memberikan inspirasi kepada para seniman dan disebut sarvasil-papravartaka. Sebagai seorang guru seni. Siwa trampil di dalam hal menari dan musik. Mahabharata menggambarkan kesukaannya menari. Bharata. di dalam Natyasastranya., mengungkapkan beliau dan pasangannya sebagai penemu tandava dan lasya, bentuk keras dan lembut tarian.

Pustaka Wayu Purana memberikan sebuah daftar sembilan instrumen seperti bheri (gendrang perang), dindima, jharjhara, dundubhi: instrumen tiup seperti venu (flut), gomukha; instrument bertali seperti tumbeviha (yaitu tanpura). Beberapa benda-benda ini tidak disebutkan di dalam Rg. Weda tetapi pengikut-pengikut Siwa dari kalangan bawah seperti para bhuta memainkannya. Banyak raga dan ragini menggunakan nama-nama lokal seperti Gurjari. Karnanaki, Bangali l6, dan sebagainya memperlihatkan dasar mereka di dalam lagu-lagu daerah.

Siwa adalah maha-nata. Dalam Skanda Purada (VI. 254.28-45) dipaparkan ketika Siwa mulai menari, enam raga dengan istrinya (ragini) mengambil wujud manusia dan menemai Siwa di dalam tariannya. Nama-nama raga dan istrinya (ragini) sebagai berikut:

1. Nama raga (Sri), nama Ragini (Gauri, Kalahali, Dhira, Dravidi, Malakaufiki, dan Devagandha)

2. Nama raga (Vasanta), nama ragini (Andola, Kausiki, Carama-Manjiri, Gandagiri, Devasakha, dan Ramagiri)

3. Nama raga (Pancama), nama ragini (Triguna, Stambhatlrtha, Ahiri, Kumkuma, Vairati, dan Samavedi)

4. Nama raga (Bhairava), nama ragini (Bhairavi, Gujari, Bhasa, Velanguli, Karriataki, dan Rakta-hamsa)

5. Nama raga (Megha), nama ragini (Bangali, Madhura, Kamoda, Aksinarika, Devagira, dan Devati)

6. Nama raga (Nata-Narayaha), nama ragini (Trotaki, Modaki, Nara, Dumbi, Malhari, dan Sindhu-Malhari)

Pustaka Skanda Purana juga memaparkan bahwa raga-raga utama terletak pada cakra-cakra tertentu dalam sistem yoga.

1. Nama cakra (Bhru-madhya), nama raga (Sri)
2. Nama cakra (Muladhara), nama raga (Vasanta)
3. Nama cakra (Viruddhi), nama raga (Pancama)
4. Nama cakra (Anahata), nama raga (Bhairava)
5. Nama cakra (Manipura), nama raga (Megha)
6. Nama cakra (Adhara), nama raga (Nata-Narayana)

Walaupun purana ini bukanlah pustaka yang membahas musik, namun beberapa bagian dari Skanda Purana ada menyinggung bahwa Siwa adalah penguasa yang mengajarkan dan menyebarluaskan musik.

6. Penutup

Konsep Siwa Nataraja lahir dari pergulatan rohani bangsa Dravida mendiami wilayah India Selatan pada abad pertengahan. Hal ini memperlihatkan adanya dinamika yang berkesinambungan dalam tradisi berfikir dan mencipta sejak zaman Harappa dan Mohenjodaro di lembah sungai Sindhu hingga sekarang. Konsep ini sebagai bentuk konkretisasi filsafat Saiva Siddhanta yang bersumber pada Weda. Agama (keduanya berbahasa Sanskerta) dan Tirumurai (berbahasa Tamil). Konsep-konsep mendasar seperti Pancakrtya, Panca Aksara, Panca Brahma, Pranava secara tersirat terkandung di alam konsep Siwa Nataraja, Siwa sebagai penguasa kesenian, Adiguru kesenian yang menari demi pembebasan para jiwa yang dibelenggu oleh samsara. Diakui memang memahami perlu perenungan agar transformasi diri melalui kesenian itu bisa terjadi.

Secara metafiski, ajaran Saiva Siddhanta mengakuai adanya Tri Padartha: Pati, Pasu dan Pasa. Pati adalah Siwa, Pasu adalah jiwa-jiwa, dan Pasa adalah dunia (jagat) ini. Karena penguasa atas jiwa-jiwa, manusia, binatang, maka Siwa disebut pula Pafupati. Ketiganya eternal dan independen. Untuk memudahkan pemahaman. Siwa dipahami dari dua aspek, yaitu nirguna dan saguna yang pertama tanpa sifat, tanpa bentuk sehingga tidak mungkin menjadi objek pemujaan karena akal dan perasaan manusia tidak sanggup mencapainya. Beliau dalam aspeknya seperti ini transendental. Pada aspeknya yang saguna, Siwa mem¬punyai sakti karenanya mempunyai sifat dan kekuatan untuk melakukan apa saja.

Kekuatan itu disebut sakti, seperti Iccha Sakti, Kriya Sakti dan sebagainya. Pada tatarannya seperti ini beliau disebut Sadariwa sebagai objek pemujaan umat manusia. Pada wujudnya seperti ini beliau mempunyai banyak sekali bentuk, seperti Mahesvara, Dakfina-murti, Asta Murti, Tri Murti. Ardhanarisvari, Panca Aksara, Siwa-Sakti, dan sebagainya. Siwa Nataraja adalah'satu salah bentuk dari Sadasiwa. Siwa dengan demikian selalu diasosiasikan dengan kesenian, karena beliau sebagai Adiguru kesenian unjjfc manusia di dunia.

Seniman dan penyelenggara seni, panitya peristiwa kesenian, pengumpul barang seni, calo kesenian atau pengusaha seni mempunyai tujuannya masing-masing.Itu syah-syah saja. Seniman sejati tidak termasuk ke dalam kategori ini. Seniman sejati akan tetap komit dengan kesenian, sementara seniman setengah hati bisa tergelincir dengan tindakan degradasi diri dan seni itu sendiri. Seniman sejati tentu bukan insan seni yang ambivalen, apalagi kabur. Hanya pada diri seniman sejati seni bisa berkembang secara kualitas, memuliakan manusia. Kondisi ini semestinya dibangun, sekalipun penuh tantangan.

Filsafat seni bagi seniman,filsafat kerja (karma yoga) bagi para pekerja, profesional, filsafat pendidikan bagi para guru memang perlu agar kerja menjadi terarah dan mencapai tujuan hidup tertinggi (maha purusa artha). Dari perspektif ini berkesenian adalah sebuah tindakan yang penuh dedikasi, kesucian dan pengorbanan. Inilah sebuah ibadah (yajha) di jalan keindahan (lango).

Source: I.B Putu Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 488 Agustus 2007