Telah menjadi kepercayaan Asia Purba bahwa kehidupan terjadi karena Bapa Langit dan Ibu Bumi. Identik dengan peristilahan Bapa Akasa dan Ibu Prethiwi dalam lontar-lontar di Bali. Gagasan tentang Sang Hyang Luhuring Akasa dan Sang Hyang Ibu Prethiwi terakualisasi dalam penggunaan banten-banten di sanggar pasaksi. Sesajen yang dipersembahkan kepada para dewa yang berkedudukan di atas langit diletakkan di atas (sanggar). Sedangkan sesajen yang dipersembahkan kepada para dewa yang berkedudukan di bumi diletakkan di bawah (sor). Termasuk banten pretiwi yang ditujukan kepada Sang Hyang Ibu Prethiwi.
Perkara meletakkan banten pratiwi di bawah bukan berarti merendahkan Sang Hyang Ibu Prethiwi sebagai dewa yang tergolong wanita. Melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Ibu Prethiwi sebagai pelindung kehidupan di bumi.
Raja Prethu dinasihati oleh para pendeta agung agar menyayangi rakyat dan melindungi kerajannya di bumi. Ia adalah raja pertama yang dinobatkan oleh para pendeta di seluruh wilayah Bharatawarsa. Ia adalah kesatria pertama yang menyelenggarakan upacara Petamahayadnya. Ia yang menyebabkan Bhatari Prethiwi berupa sapi perahan. Dengan padi sebagai hasil perahan yang menyebabkan rakyatnya menjadi sejahtera.
Dalam legenda raja Prethu digambarkan dengan wajah penuh perbawa bagaikan Sang Hyang Siwagni berjalan-jalan di bumi. Lebih-lebih dengan pakaian dan perhiasan yang dikenakan dan senjata yang dibawanya seolah-olah menyala-nyala sehingga mengingatkan semua orang tentang perbawa Sang Hyang Siwagni. Ia sadar tentang tugasnya menegakkan kebenaran di dunia.
Dalam pemerintahannya raja Prethu pernah melaksanakan Petamahayadnya. Dalam rangka menyelenggarakan upacara itu, para brahmarsi meminta makanan melalui sumbangan yang diberikan oleh raja. Diikuti pula oleh masyarakat yang meminta makanan.
Menyebabkan raja Prethu menjadi bingung karena tidak ada lagi miliknya yang bisa disumbangkan. Seluruh isi istana habis untuk memberi makan kepada rakyatnya. Hanya busur dan anak panahnya yang masih tersisa.
Dalam kebingungannya maka busur dan anak panah itulah yang diambil dan hendak memanah tanah yang menjadi tempatnya berpijak. Sehingga Dewi Bhumi menyamar dengan merubah wujud menjadi sapi. Tetapi raja Prethu mengetahui hal itu. Maka dikejarlah sapi jelmaan Dewi Bhumi kemana pun larinya. Akhirnya Dewi Bhumi menyerah dengan melakukan negosiasi. Raja Prethu menjadikannya anak sehingga bernama Prethiwi. Sedangkan Bhatari Prethiwi mengusulkan agar mengambil juga anaknya yang sedang menyusu sehingga raja Prethu bisa memerah susunya dengan tanah sebagai tempat susunya.
Hasil negosiasi itu menyebabkan raja Prethu menjadi puas. Ia segara meratakan tanah terlebih dahulu. Tanah yang tinggi dipangkasi dan yang dalam ditimbuni. Batu-batu dikumpulkan. Di sana ia membangun kubu tempat beristirahat, sementara memerah susu Sang Hyang Ibu Prethiwi melalui tanah pertanian yang menghasilkan panen melimpah. Itulah yang dijadikan makanan untuk rakyatnya. Itulah tujuan mengerjakan sawah dan ladang, menanam padi dan palawija, memelihara sapi untuk membantu pengerjaan sawah. Itulah jasa raja Prethu dalam mengusahakan kesejahteraan rakyat hingga sekarang.
Kini legenda tersebut mungkin bisa disusul dengan menampilkan insiden Sang Hyang Ibu Prethiwi sedang menangis. Karena tempat susunya habis dijadikan tempat membangun sarang penyamun atau gedung PSK atau warung bebek bergincu. Semoga ada yang melanjutkan legenda tersebut dengan menampilkan karakterisasi seperti raja Prethu yang sanggup menghentikan tangisan ibu pertiwi.
Oleh: I Putu Gede Suata
Source: Wartam, Edisi - 14 April 2016