Tat Twam Asih: Cinta yang Mewujud

Keduanya Menggemakan Ajakan yang Sama
Pengalaman dan keberdaan kita pada saat dua kejadian bom yang terjadi di Bali dalam tiga tahun terakhir mungkin bervariasi. Namun pasti kita semua mendengarkan gema, ajakan dan panggilan yang sama dari ke dua tragedi bom ini yakni untuk mengingat, menyadari, dan mengamalkan dalam kehiduapan sehari-hari filsafat Tat Twam Asi.

Cara Keberadaan, Tuhan, Hyang Widhi, siapapun yang kita sebut namaNya untuk mengingatkan kita mungkin berbeda-beda. Saya kebetulan diingatkan lewat karangan bunga dan buku. Ketika saya berkunjung ke tempat kejadian di Kuta, pada tanggal 3 Oktober 2005, Yang Kuasa mengingatkan saya lewat sejumlah karangan bunga yang bertuliskan Tat Twam Asi. Sedangkan tiga tahun yang lalu saya diingtakan ketika saya membaca kembali sebuah buku karya Anand Krishna yang berjudul Bersama Bung Karno, Menggapai Jiwa Merdeka. Di halaman 16 buku ini saya membaca uraian Bung Karno tentang Tat Twam Asi, "Filsafat Twam Asi, gampangnya begini artinya: aku adalah engkau; engkau adalah aku atau aku adalah kamu; kamu adalah aku. Jadi kalau aku sakiti dirimu, diri engkau, berarti aku sakiti diriku sendiri. Kalau aku buat dirimu senang berarti aku membuat diriku sendiri menjadi senang.

Mungkin untuk beberapa saat kita akan bertanya kenapa bisa demikian. Tat Twam Asi adalah sebuah semboyan yang mengingtakan kita pada nilai luhur yang berasal dari wilayah peradaban sungai Shindu, yang berarti Kebenaran Hakiki itu ada dalam diri ku, diri mu, dalam diri kita. Kebenaran hakiki inilah yang menyebabkan kita hidup. Karena yang ada hanyalah la yang Satu, kita semua ada didalamNya. Oleh karenanya Manusia dan Kebenaran/Tuhan sering diibaratkan sebagai gelombang dan lautan. Manusia ibarat gelombang, mempunyai nama dan rupa namun identitasnya tidak dapat dipisahkan dari lautan.

Pemaparan diatas menjelaskan apa yang akan terjadi apabila kita menyakiti orang lain, diri kita sendiri akan ikut tersakiti. Karena diri kita dan orang lain sesungguhnya merupakan satu kesatuan. Hanya nama dan rupanya saja yang berbeda namun di balik itu kita adalah sama, sama-sama berasal dari diriNya, hidup di dalam diriNya dan menuju padaNya. Disamping itu siapapun tidak dapat lepas dari hukum aksi-reaksi, hukum sebab-akibat. Apabila kita melakukan suatu tindakan kekerasan, atau kejahatan maka cepat atau lambat buah dari perbuatan ini akan dinikmati oleh orang yang melakukannya.

Filsafat Tat Twam Asi juga mengajak kita untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi, kelengahan aparat dalam menjaga keamanan mungkin ikut mengambil bagian dan masyarakat yang semakin tidak perduli dengan "lingkungan sekitar" barangkali juga turut berperanan, tapi diri kita sendiri (setiap orang) yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Tidak seperti sikap menyalahkan orang lain, dengan sikap bertanggung jawab, kita akan cendrung melakukan introspeksi diri dan tidak akan menghambur-hamburkan energi tetapi mengarahkan energi, kita terakumulasi kedalam diri.

Adanya kesadaran akan tanggung jawab, intospeksi ditambah dengan energi yang terkumpul kedalam diri (atau paling tidak tidak terboroskan) akan mampu membantu kita mentranformasi diri dari dari kesadaran rendah ke kesadaran yang lebih tinggi. Dari kekerasan, kekasaran ke cinta kasih. Dari kesadaran hewani (sex, makan, kenyamanan) ke kesadaran manusiawi (cinta) dan ke kesadaran Dewani, illahi (kasih, prema).

Pengaplikasiaan nilai luhur Tat Twam Asi dan menyakini keadilan hukum aksi-reaksi (hukum karma) sepertinya telah banyak ikut berkontribusi pada tidak terjadinya konflik yang bernuansakan SARA setelah kejadian Bom di Balibaik yang baru beberapa bulan saja lewat dan juga yang terjadi tiga tahun lalu. Seperti diketahui, tidak lama berselang setelah kejadian bom Bali pada tahun 2002 diprediksikan dan dikawatikan oleh banyak fihak akan terjadi kerusuhan horizontal pasca tragedi Bali 2002. Namun prediksi ini tidak mewujud.

Kenapa Mereka Melakukan Tindakan Kejahatan?
Melakukan pemboman seperti yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002 atau 1 Oktober 2005 tergolong sebagai suatu tindakan kejahatan karena menghilangkan nyawa orang dan melakukan perusakan. Akibat dari tindakan ini puluhan orang kehilangan nyawa, ratusan orang terluka secara fisik dan mental. Kemudian setelahnya masyarakat Bali mengalami kesengsaraan secara ekonomi lebih dari tiga tahun karena mengalami penurunan pendapatan. Apakah tujuan dari tindakan kejahatan seperti ini dapat menyelesaikan permasalahan atau mencapai impian perjuangan yang sedang mereka lakukan? Seperti kita lihat bersama-sama, sampai sekarang tidak ada kemajuan yang berarti atas tuntutan yang mereka minta, apapun itu.

Tindakan kejahatan dalam bentuk pembomanyang mereka lakukan malahan memberikan dampak samping yang justru tidak mereka inginkan. Lewat tindakan kekerasan, kejahatan yang semena-mena dan membabi buta seperti itu, bukan simpati yang mereka peroleh atas perjuangan yang mereka lakukan tapi sebaliknya antipati yang mereka tunai. Mungkin mereka mendapatkan publikasi karena liputan media yang demikian luas tapi kebanyakan bersifat antipati.

Segala perubahan yang diperoleh dengan paksaan tidak akan bertahan lama. "Mungkin" akan terujud lewat cara-cara kekerasan, kejahatan seperti itu tapi tidak akan bertahan lama. Karena orang-orang yang secara terpaksa mengikuti suatu aturan atau kehendak tanpa disertai oleh keinginan dari dalam diri untuk berubah tidak akan bertahan lama. Masyarakat akan selalu mencari celah, cara untuk melakukan tindakan-tindakan yang dilarang, misalnya melakukan di tempat lain atau melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Selama masyarakat "tidak sadar" bahwa tindakan-tindakan yang dilarang tersebut tidak menunjang kehidupannya tidak akan bertahan lama.

Selain itu tindakan melawan dengan kekerasan, kejahatan juga menunjukkan rasa takut dan belum bisanya sang pelaku mengontrol dirinya. "Orang yang menggunakan kekerasan sebenarnya masih takut, masih belum bisa mengendalikan dirinya sendiri. Pengendalian diri akan mengilangkan rasa takut. Anda akan lebih percaya diri. la yang mempercayai dirinya sendiri akan dipercayai oleh orang lain. Ia yang mengasihi orang lain akan dikasihi oleh alam, oleh Tuhan, oleh Keberadaan demikian ungkapan dari Anand Krishna dalam Wedhatama Bagi Orang Modern, hal.206.

Seorang pembrani, ksatria akan mengikuti "aturan universal" yang berlaku di masyarakat, dalam peperangan, misalnya tidak diperkenankan untuk mejadikan masyarakat sivil sebagai sasaran. Sebaliknya seorang pengecut akan mengabaikan aturan ini. Dalam cerita Mahabrata, Sri Krishna menggunakan perang sebagai pilihan terakhir setelah cara damai tidak membuahkan hasil.

Mengendalikan diri berarti menjadi raja, pengendali atas pikiran, emosi, perkataan dan tingkah laku kita. Apapun yang terjadi atas dirinya disadari dan dapat dikendalikan olehnya. Apabila seseorang dalam keadaan seperti ini, tidak ada outcome yang lain selain kelembutan dari dalam dirinya. Pikirannya akan tenang, perkataan akan menyejukkan dan tindakannya selalu tepat.

Mampunya seseorang mengendalikan diri menjadikan dia akan menyadari potensi dirinya yang luar biasa. Keadaan ini secara otomatis menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri dan rasa takut pun sirnah. Menyadari potensi diri dan kepercayaan pada diri menyebabkan kita menjadi kreatif, lembut yang penuh dengan einta. Ketika kita kreatif dalam kecintaan dan kelembutan, kita tidak akan bisa melakukan kekerasan, kejahatan atau perusakan, kita akan otomamtis dituntun oleh Nya ke perbuatan yang diberkahi, diijinkan, di blessing oleh Nya yaitu perbuatan yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, Sebagaimana ketika Dia yang Tunggal berkreasi menciptakan alam semesta beserta isinya dengan cinta kasih.

Kembali pada filsafat Tat Twam Asi, karena pada dasarnya dunia ini berasal dari kekosongan, apapun yang kita pikirkan, katakan dan lakukan akan dipantulkan dan digemakan oleh sekeliling kita. Apabila kita percaya pada diri sendiri maka orang lain juga akan percaya pada diri kita, demikian juga apabila kita mengasihi orang lain kita tidak hanya akan dikasihi oleh orang-orang disekeliling kita tapi alam dan Tuhan, Keberadaan apapaun sebutan kita padanNya akan ikut memantulkan, menggemakan cinta yang keluar dari dalam diri kita.

Oleh: N. W. Suriastini
Source: Majalah Media Hindu, Edisi 30, Agustus 2006