lingkaran panca ma
dan tiga ta sesungguhnya
berkolerasi ketat dalam kehidupan manusia
Ialah realitas hidup yang dihadapi manusia setiap hari.
Karena benda dan unsur-unsur yang membuat manusia menjadi pemadat (madat) tersedia di sekitar manusia. Demikian pula yang membuat orang mamunyah (suka mabuk-mabukan), madon (main perempuan), mamotoh (berjudi), mamaling (mencuri).
Lalu harta, tahta, dan wanita? Bagaimana beryadnya kalau tidak memiliki harta? Bagaimana harta diperoleh kalau tidak "tahta" tidak diraih? Bagaimana melanjutkan santana tanpa wanita? Demikian pertanyaan Sang Bima dalam teks Bhima Swarga.
Lingkaran panca ma disarankan untuk dihindari karena merugikan diri sendiri dan masyarakat. Aktivitas madat tidak saja mencakup kegiatan mengkonsumsi obat-obatan yang tergolong psikotropika, namun apa saja bisa membuat diri manusia melakukan aktivitas itu. Main game, bahkan menekuni suatu ilmu juga bisa membuat manusia menjadi pemadat. Karena suntuknya bermain game, orang bisa lupa segalanya, bahkan lupa makan dan minum. Demikian pula kehendak yang berlebihan untuk menekuni suatu bidang ilmu bisa membuat orang lupa diri, lupa anak, istri, dan lingkungannya.
Adapun mengenai mamunyah juga sama dengan mamadat. Bukan minuman beralkohol saja membuat manusia menjadi pemabuk. Namun mabuk yang lain juga berefek sama dengan meminum minuman beralkohol. Mengenai mamunyah Sang Rama pernah menasihati Sang Laksamana dalam teks Ramayana sebagai berikut:
[...] Dosa agung jenak anginum,
mohang citta lupa mawero,
purusyeng asing winuni wetu [...]
Artinya:
"Akan menjadi berdosa besar orang yang suka minum (minuman keras),
menjadi mabuk dan khilaf, hatinya pelupa dan gelisah,
menjadi orang yang sombong, takabur, dan jahat,
dan selalu terangsang, tergoda mengeluarkan inisiatif jahat"
Itulah akibatnya menjadi pemabuk. Memang minuman beralkohol membuat manusia menjadi alkoholik. Seperti candu, alkohol juga bisa sebagai obat, namun bila berlebihan dikonsumsi, maka akan berakibat tidak baik. Secara neurotis mempengaruhi perilaku manusia.
Apakah benda atau perilaku manusia lainnya tidak bisa membuat orang mabuk? Bisa saja. Kecintaan kepada benda-benda, kesukaan menikmati sesuatu secara berlebihan juga berakibat mabuk. Pada gilirannya juga akan membuat gejala neurotis seperti nasihat Sang rama itu akan terjadi juga.
Madon, lain lagi persoalannya. Sebenarnya istilah ini diskriminatif seolah-olah laki-laki saja yang memiliki kebiasaan buruk berganti pasangan. Sesungguhnya wanitapun bisa memiliki kebiasaan yang sama. Apalagi pada zaman kaliyuga seperti sekarang ini. Baiklah madon kita artikan saja sebagai kegemaran berganti pasangan. Entah melanda orang dengan kebiasaan heteroseksual maupun biseksual. Keduanya bisa melakukan hal yang sama.
Apa yang terjadi bila kegemaran madon itu dilakukan? Tentu saja akan mengakibatkan terjadinya aktivitas nyolong smara secara masif. Aktifitas itu tidak saja akan mengenai individu yang melakukannya, namun juga akan berakibat pada lingkungannya. Entah secara fisikal akan terjadi byuta, yaitu suatu keadaan yang gaduh mengganggu ketentraman. Ambilah contoh bila aktifitas madon itu ketahuan lalu terjadi pertengkaran. Mungkin pertengkaran biasa, tetapi bisa berujung pertumpahan darah. Demikian pula secara sakala, konon aktifitas nyolong smara itu mengundang bhuta kala hadir mengganggu ketentraman batin masyarakat.
Mamotoh atau berjudi lebih bersifat individual efeknya. Mengenai sifat ini, ada pameo yang menyatakan bahwa "tidak ada orang menjadi kaya karena berjudi". Mungkin benar begitu adanya. Tetapi mungkin ada orang kaya karena menjadi bandar judi. Tetapi yang lebih berbahaya dari sifat ini adalah menganggap segalanya bisa dipertaruhkan.
Pada zaman dahulu, penjudi tidak saja mempertaruhkan harta bendanya, juga anak istrinya. Raja yang suka berjudi juga mempertaruhkan kerajaannya. Raja yang demikian itu dalam drama gong disebut raja buduh. Kalau sekarang para pemimpin mempertaruhkan wilayahnya untuk kepentingan investasi apa bedanya? Sama saja! Pemimpin itu sesungguhnya gila karena mempertaruhkan nasib masyarakatnya hanya untuk kepentingan mendapat manfaat sesaat saja.
Adapun mengenai mamaling, sangat kompleks maknanya. Bisa saja mencuri ayam, kambing, atau benda lainnya. Tetapi mencuri dalam pengertian lainnya juga bisa membuat orang menjadi pencuri. Dalam bahasa Bali ada istilah mamaling ngalang, mencuri terang terangan. Bahkan ada kepala daerah membuat peraturan untuk bisa mencuri. Misalnya ada kepala daerah membuat pera-turan upah pungut yang tidak semestinya dilakukan agar dapat mencuri uang rakyat. Korupsi termasuk dalam istilah tersebut.
Mencuri juga bisa dilakukan oleh intelektual, seniman, atau pedagang. Plagiasi adalah pencurian yang dilakukan oleh mereka itu. Teks "Agama", kitab hukum pidana tradisional Bali menghukum pencuri sangat berat. Tidak saja bagi pencurinya sendiri, juga bagi keluarga, sahabat dan desanya (lingkungannya).
Versum panca ma tiada lain premis tiga ta. Harta, Tahta, dan Wanita bila berdiri sendiri wajib diraih oleh setiap individu. Namun setelah menjadi adagium negatif menjadi premis bahwa "dengan harta kekuasaan dan wanitapun bisa diperoleh dengan mudah". Oleh karena itu panca ma berkorespondensi dengan tiga ta. Korespondensi ini menimbulkan budaya kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat.
Unsur budaya kekerasan berakar dari kekayaan tanpa bekerja, kesenang tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moralitas, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip. Demikianlah menurut Mahatma Gandi (1869-1948). Itulah benih akan muncul bila panca ma berkorespondensi dengan tiga ta. Oleh karena itu, bangunlah kekayaan dengan bekerja, nikmatilah kesenangan dengan hati nurani, raihlah pengetahuan dengan karakter.
Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Wartam, Edisi - 14 April 2016