Tri Matra terdiri atas Bhuta Matra, Prana Matra, dan Prajnya Matra. Bhuta Matra terdiri atas lima bagian yaitu : Pratiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa; Prana Matra terdiri atas dua bagian yaitu Surya dan Candra, sedangkan Prajnya Matra adalah Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian Tri Matra terdiri atas delapan bagian yang disebut juga Asta Murti.
Konsep Tri Matra tersuratkan di dalam Panca Maha Bhuta Stawa, mantra yang diuncarkan oleh para Pandita pada saat upacara agung bhuta yajnya seperti Eka Dasa Rudra, Panca Bali Krama, dan yang lain. Kedelapan unsur Asta Murti itu tersusun dari bawah ke atas atau dari luar ke dalam, dimulai dari pertiwi sampai ke Sang Pencipta yang disebut juga sebagai Yajamana.
Konsep Tri Matra ini sesungguhnya berhubungan erat dengan apa yang kemudian populer dalam masyarakat dengan istilah Tri Hita Karana. Semula yang dimaksud dengan Tri Hita Karana adalah Atma (Sang Pencipta yang meresap dalam diri manusia, yang merupakan jiwa penyebab manusia hidup), Prana (atau tenaga yakni kekuatan yang timbul karena manunggalnya atma dengan sarira atau badan), dan Sarira (badan wadah manusia yang unsurnya terdiri atas Panca Maha Bhuta).
Atma, Prana dan Sarira tersebut adalah Tri Hita Karana di dalam diri manusia atau bhuwana alit, dan Tri Hita Karana dalam bhuwana agung adalah Paramatma atau Hyang Widhi yang menyusup dialam semesta, Prana segala energi yang menggerakkan alam semesta, dan Panca Maha Bhuta segala yang berwujud di alam semesta ini. Ketiga unsur tersebutlah yang disebut sebagai Tri Hita Karana, atau segala sebab yang menyebabkan tercapainya kesejahteraan.
Manusia sebagai bhuwana alit ingin menjaga keharmonisan dengan bhuwana agung maka muncullah konsepsi Cucupu Manik. Cucupu adalah wadah manik adalah isi, sebagaimana embrio atau janin yang berada di dalam rahim sang ibu. Sebagai makhluk yang berpikir dan berbudaya maka manusia membuat wadah buatan di alam ini, sehingga manusia membuat rumah, banjar, desa, bahkan negara selaku wadah bersama. Harapannya adalah wadah buatan ini memberikan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Maka sejalan dengan konsep Tri Hita Karana diatas selaku Tri Tunggal maka dibuatlah konsep Parhyangan (tempat suci) Pawongan (rumah tinggal), dan Palemahan.
Demikianlah konsep Tri Hita Karana bila dipersatukan dengan konsep Tri Matra akan mendapatkan sebuah konsep yang sempurna tentang keharmonisan dengan alam semesta dengan segala isinya, sekaligus hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di dalam konsep Tri Matra muncul Prana Matra yaitu Surya dan Candra. Oleh karena itu setiap upacara Bhuta Yajna tidak saja ditetapkan tempat terpilih di bumi ini, tetapi dilihat juga posisi Surya dan Candra untuk menyelenggarakan upacara tersebut. Maka dipilihlah Tilem Caitra, ketika Matahari dan Bulan tepat diatas khatulistiwa, garis tengah bumi untuk melaksanakan upacara seperti Eka Dasa Rudra dan Panca Bali Krama.
Dengan konsep Tri Matra dan Tri Hita Karana kita tidak saja membangun wawasan kesejagatan atau kesemestaan tetapi membangun kesadaran betapa pentingnya kita menjaga kelestarian alam dengan segala isinya. Itulah yang disebut sebagai Bhuta Hita, Jagathita, atau Sarwa Prani Hita.
Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 491 Nopember 2015