Apakah ilmu pengetahuan (widya) bisa menjadi racun (wisa). Demikian halnya dengan makanan (bhojana)? Kitab kakawin Xitisastra menyuratkan bahwa ilmu pengetahuan adalah bagaikan racun bagi mereka yang tidak tekun dan malas; makanan kalau tidak baik dalam pencernaan akan menjadi racun dan menyebabkan orang sakit; bagi orang miskin dan menderita, pertemuan bagaikan racun dan menyakitkan; dan bagi orang-orang tua renta seorang gadis adalah racun dan tidak menyenangkan menyebabkan kesusahan saja. (ring widya wisa tulya dekaning anabhyasala sang sampénéh/ yan tati jirna tikang bhinojana hatur wisyatémah wyadhiya/ ring hinartha daridra tulya wisa gostinyaterriata mangiare/ ring kanya wisa tulya ring jada pikun, tanpamrétangde wingit//).
Kitab-kitab sastra memang sangat tertarik terhadap amrta di satu pihak dan wisa di pihak lain. Ada seseorang meminum sesuatu, minuman tersebut dapat menjadi amrta bagi orang tertentu, namun sebaliknya dapat menjadi racun bagi orang lain. Itulah sebabnya ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan rohani di dalamnya dapat menjadi amrta yang memberika vitalitas hidup dan kesegaran jiwa, dapat juga menjadi wisa yang akan menyakitkan maiali membingungkan.
Nitisastra ada juga menyuratkan bahwa orang yang sempurna pengetahuannya tampak dalam bahasanya yang bagaikan amrta, yang senantiasa membahagiakan orang banyak (sang sastradnya wuwus nira amrta padanyangde sutusteng praja). Di sisi lain dinyatakan bahwa orang yang kurang pengetahuannya maka bahasanya keras dan kasar dan tidak mengandung amrta (ring jadmalpaka sastra garwita tereh sabdanya tanpamrta). Di sini pengetahuan dihubungkan dengan amrta, artinya sesuatu yang menyenangkan atau membahagiakan orang banyak. Itulah sebabnya nitisastra menegaskan bahwa ilmu pengetahuan suci sangat diutamakan untuk dipilih oleh orang-orang bijaksana, berbeda halnya dengan pakaian dan perhiasan yang biasanya diutamakan oleh orang kebanyakan.
Namun demikian kita diingatkan bahwa pada zaman kali atau zaman kehancuran ketika orang-orang durbudi berkuasa maka ilmu pengetahuan suci akan mendapat penghinaan. Orang-orang berkuasa dan para pengabdi kekuasaan bagaikan teracuni fikirannya, ia lalu meninggikan dirinya, dan mencela ajaran-ajaran orang-orang suci. Akibat pengaruh zaman kali, manusia menjadi murka, sombong lalu berlindung kepada orang-orang yang dungu dan bodoh. Kitab-kitab sucipun dihancurkan atau dimusnahkan, dan benda-benda suci dirusak.
Pada zaman kali para penguasa berselisih dengan orang-orang suci, para penguasa menghamba kepada orang-orang kaya. Itulah sebabnya dunia tergoncang diselimuti kegelapan pikiran. Pada zaman seperti itu pengetahuan (widya) menjadi racung yang menyakitkan (wisa). Amrta bagaikan menjauh, atau menghilang dari bumi, ditandai dengan daun-daunan tidak menjadi obat lagi, dan orang-orangpun tidak ada yang ingin belajar ajaran kesucian. Dunia hilang kesuciannya, tumbuh-tumbuhan hilang kasiatnya untuk memberikan amrta kepada masyarakat (nirwa hyang pretiwi tang osadi lata ilang i gunanira amreteng jagat).
Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 537 September 2011