Atithisca apawadi ca dwa aweta mama bandhawah. Apawadi haret paapam atithi sWargagaamakah
(Slokantara 81)
Maksudnya: Baik tamu yang memuji atau orang yang menghina, itu keduanya kawan menolong kita. Orang yang menghina kita itu membersihkan kita dari dosa yang ada pada diri kita. Tamu yang memuji itu membawa kita ke surga
Mengapa manusia yang lahir dan hidup di bumi ini karena belum sempurna. Kalau sempurna tentunya telah bersatu dengan Tuhan dan tidak akan lahir ke dunia ini. Lahir ke dunia ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki diri agar bisa tahap demi tahap menjadi sempurna terus akhirnya kembali bersatu dengan Tuhan. Kalau sudah sempurna tentunya tidak lagi kembali menjelma ke dunia karena telah bersatu dengan Tuhan. Ini artinya tidak ada manusia yang tidak punya cacat cela di dunia iniSemua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kalau lahir sebagai manusia masih lebih mulia dari pada lahir sebagai hewan dan tumbuhan. Ini artinya sebagai manusia masih ada memiliki kelebihan dari pada tumbuhan dan hewan semasih sebagai manusia yang hidup di bumi ini pasti ada juga unsur bauknya sebagai modal untuk mengimbangi adanya cacat cela sebagai penyebab lahir sebagai manusia.
Dalam pergaulan siapapun akan bertemu dengan sesama manusia dengan berbagai keanekaragamannya. Dari segi umur, jenis profesi, kepercayaan, budaya, ras, watak, aliran politik, bakat dan berbagai typelogi manusia. Meskipun manusia sama-sama ciptaan Tuhan, namun menusia diciptakan oleh Tuhan dengan berbagai keanekaragaman. Dengan demikian jenis keanekaragaman manusia hidup di tengah-tengah masyarakat. Ada menjadi sahabat dekat, ada yang sangat akrab. Ada yang melihat kita dari segi negatifnya, ada juga yang berteman serta memuji kelebihan dan kebaikan yang pasti juga ada. Ada juga berteman dengan cara yang objektif Memuji kalau memang ada yang patut dipuji dan juga mengkritisi kalau memang ada yang sepatutnya dikritisi demi kebaikan yang bersangkutan.
Bagaimana menyikapi keadaan yang bermacam-macam orang itu. Menurut Slokantara 81 yang dikutip di atas hendaknya semua orang yang di sekeliling kita itu dipandang sebagai kawan. Yang memuji maupun yang mencela bahkan menghina hendaknya semua itu dipandang sebagai kawan. Bagaimana caranya membangun sikap hidup seperti itu. Pertama yakinlah bahwa Tuhan sebagai sutradara agung kehidupan semua makhluk. Manusia diberikan berbagai peran dalam hidup ini oleh Tuhan atas karma-karma yang telah diperbuat. Ada orang yang menghina kita. Dapat dipastikan Tuhan tidak melindungi kita. Mengapa kita tidak dilindungi atas penghinaan itu, yakinlah bahwa sebelumnya kita pernah menghina orang, mungkin saja pada penjelmaan sebelumnya. Kalau ada orang yang menghina kita artinya dia mau mengambil dosa kita. Dosa yang pernah kita lakukan sebelumnya ada yang mau mengambilnya. Itu artinya mereka telah berjasa membebaskan kita dari dosa yang pernah kita lakukan. Kalau Tuhan tidak melindungi kita dari proses tersebut artinya Tuhan menganugerahkan kita pembersihan lewat orang yang menghina kita. Itu artinya orang yang menghina kita adalah kawan yang membantu membebaskan kita dari dosa seperti yang dinyatakan dalam Slokantara 81 di atas.
Karena itu tidak perlu yang menghina kita itu dianggap lawan yang harus dilawan, justru kawan. Sisi positifnya kita tidak dendam dengan yang menghina kita itu. Dendam itu adalah suatu keadaan psikologis yang terganggu. Kalau dendam itu dibiarkan terus dapat menimbulkan gangguan mental. Gangguan mental yang berkepanjangan dapat menimbulkan gangguan jiwa bahkan sakit jiwa. Ini artinya dengan menganggap kawan yang menghina banyak sisi positif yang dapat kita terima.
Demikian juga ada yang memuji kita mungkin ada sisi positif pada diri kita yang dilihat oleh mereka yang memuji itu. Kitapun sebaiknya tidak gede roso atau GR atas pujian itu. Tetapi tetap bersikap positif atas pujian itu, yang penting jangan sampai lupa diri atas pujian itu. Jadikan pujian itu sebagai kekuatan moral untuk lebih kritis menilai diri. Apa memang benar dan pantas yang dipuji dalam diri kita itu sesuai dengan kenyataan. Jadikan pujian itu sebagai kekuatan moral dan mental untuk kita tunjukan secara nyata bahwa apa yang dipujikan itu sebagai suatu kenyataan. Dengan demikian kita akan lebih optimis maju ke arah yang semakin baik sesuai dengan pujian yang diterima.
Sarasamuscaya menyatakan: Tan girang yang inalem, tan lara yang ininda. Artinya tidak girang berlebihan kalau ada yang memuji dan sebaliknya tidak menderita kalau ada yang mencaci. Bhagawad gita juga menyatakan: Sama dhuhkha sukha diram. Artinya: seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan duka. Secara teori tentunya sangat mudah memahami hal ini. Namun, dalam tataran praktiknya membutuhkan kekuatan moral, mental dan wawasan hidup yang semakin dalam dan luas.
Apalagi langsung menerima pujian dan cacian bisa menggoyahkan kekuatan akal sehat. Ada orang menerima pujian bisa langsung GR menceriakan ke mana-mana pujian yang diterimanya bahwa ia memang hebat. Melebih-lebihkan rasa gembira itu bisa dianggap sebagai suatu sikap lombong. Sebaliknya bagi yang menerima cacian bisa juga frustrasi kehilangan akal sehat terus dendam, apalagi balas dendam pada yang mencaci. Kalau hanya dendam dan diam tentunya yang menerima akibat negatifnya hanya yang bersangkutan. Tetapi kalau sampai balas dendam berbagai pihak akan terkena dampak negatif. Implikasi balas dendam itu akan menimbulkan berbagai persoalan baru yang lebih parah risikonya.
Baik buruknya pujian dan cacian itu sangat tergantung pada tipelogi setiap orang. Bhagawad Gita XVI.4 ada dinyatakan manusia bertipologi Asuri Sampad atau bertipe raksasa yang memiliki sifat yang cenderung bagaikan raksasa (Asuri). Ciri-ciri orang Asuri Sampad itu adalah: Dhambo artinya suka berpura-pura, munafik. Darpo orangnya sombong. Abhimanas artinya suka membanggakan diri. Krodha orang yang pemarah, dengki dan pendendam. Parusia orangnya keras dan kasar. Ajnyana orang bodoh tanpa ilmu atau dibodohkan oleh ilmu yang ia miliki. Abhijanatasia orang yang menyombongkan wangsa atau keturunannya. Kalau orang bertipelogi raksasa ini pasti akan selalu melihat orang lain dari segi kejelekannya saja. Tetapi kalau tipeloginya Dewi Sampad atau Kedewaan akan melihat sesamanya dari segi positifnya. Karena itu terimalah keduanya itu sebagai kawan. Dengan menjadikan kedua orang itu kawan, maka aspek negatif dari kedua kawan itu tidak membawa pengaruh buruk pada diri kita.
Source: I Ketut Wiana l Koran Balipost, Minggu 28 Juni 2015