Artha Lan Niratha

"Artha" dan "Nirartha", dua istilah yang beroposisi dalam lingkaran perspeksi religius (the circle of religous perspection) manusia Hindu. Kedua istilah itu menjadi oposisi biner yang secara struktural memadah dalam diri manusia. Betapa tidak, apakah anda ingin dipuji karena begitu banyaknya harta yang anda timbun? Atau anda ingin dipuji karena sifat anda nirartha, tak hirau akan harta benda? Bekerja tanpa menghiraukan hasil? Atau mau bekerja kalau hasilnya banyak? Sudah nadar-nya manusia mengharapkan puja-puji.

Kedua jalan itu, sama benarnya dalam ajaran agama Hindu. Harta (artha) harus diperjuangkan untuk kepentingan maintain kehidupan. Tanpa harta, bagaimana pemenuhan hirarki kebutuhan Maslow dapat dipenuhi? Bila kebutuhan fisiologis (kebutuhan akan makanan, minuman, tempat berteduh, seks, tidur, dan oksigen) saja tidak bisa terpenuhi bagaimana kebutuhan lainnya seperti kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri dapat dipenuhi? Artha dan kama keduanya diperlukan untuk mencapai dharma dan moksha.

Jalan lainnya yang "tanpa harta" itu juga merupakan jalan kebenaran patut. Hidup tanpa harta, bukan berarti tiada guna. Kemiskinan, bukanlah halangan untuk mengetahui ajaran dharma dan mencapai kesejatian moksa. Dharma dapat dipelajari dengan kesederhanaan pikiran dan kesederhanaan maksud. Demikian pula moksa dapat dicapai dengan hidup sederhana dan dengan upacara yang paling sederhana sekalipun. "Dengan cara apapun, engkau memuja-Ku, semua aku terima. Dengan sarana apapun engkau mewujudkan bhaktimu kepadaKu, bahkan hanya dengan dipam, palam, puspam sekalipun Aku terima". Demikian bisa dibaca dari Bhagawadgita.

Agama Hindu, bukanlah agama doktrinal juga bukan agama yang ketat harus mengikuti kata buku. Agama Hindu mengajarkan keterbukaan pikiran (open mined) yang senantiasa galib dengan kebia-saan kebenaran universal. Betapa tidak, harta (artha) dan kama dipandang berbahaya karena dapat mengikat atman terjerumus dalam noda dosa. Keduanya dipandang dapat dengan mudah memabukkan dan menimbulkan kecintaan berlebih yang menghalangi keiklasan diri berserah kepada Hyang Widi. Orang yang mengagungkan harta dan mengeksploitasi kama secara berlebihan cenderung menjadi orang jahat (a bad egg).

Namun demikian, harta (artha) dan kama juga disebut sebagai sarana dan jalan menuju dharma sekaligus moksa. Dengan harta (artha) itu, pemuliaan Hyang Widi dapat dilakukan dengan sarana yang rumit dan agung. Upacara-upacara besar dan lengkap dapat dilakukan bila harta yang dimiliki berlimpah. Dengan harta itu pula digunakan untuk menolong orang yang dalam kesusahan hidup (papa). Demikian pula dengan kama, dibangunlah nafsu untuk senantiasa dapat memelihara niat mencapai moksa.

Selain itu, istilah nirartha yang dipuja sebagai jalan kebenaran utama dalam teks susastra Hindu juga eksis di hati pemeluk agama Hindu. Istilah itu berkorespondensi dengan istilah lain seperti nirguna (tiada guna), tan a£w«g{tanpa cinta), tantular (tiada tertular), dan yang lainnya yang mengandaikan "ketiadaan" atau "marginal". Melepaskan diri dari ikatan "duniawi" menuju kenyataan hidup yang sejati merupakan tujuan agama Hindu yang hakiki. Itulah sebabnya, nirartha dan istilah lainnya yang sepadan menjadi harapan yang diidamkan untuk dicapai.

Kisah-kisah nirartha yang berhasil mencapai keutamaan moksa banyak diceritakan dalam kitab-kitab susastra Hindu. Kisah orang miskin yang pekerjaanya hanya mengum-pulkan padi atau jagung dari sawah atau ladang sehabis panen berhasil membuat upacara sederhana dalam kisah aswameda yadnya begitu populer. Kisah itu begitu masyur disukai pembacanya. Dalam kisah yang sama diceritakan upacara besar yang gagal karena ketidakiklasan penyelenggaraannya.

Dalam aswameda yadnya, dikisahkan ada seekor tikus yang berubah sebagian tubuhnya menjadi emas karena tanpa sengaja berguling di atas abu pembakaran suci yang diselenggarakan oleh orang miskin yang pekerjaanya hanya memunah. Setelah itu, Sang Tikus penasaran, setiap hari mengembara mencari abu pembakaran suci untuk digunakan sebagai tempat berguling-guling agar seluruh badannya menjadi emas. Tiba saatnya Sang Tikus berguling di atas abu pembakaran Aswameda Yadnya yang diselenggarakan pascaperang Mahabharata. Namun, tubuhnya tak kunjung menjadi emas. Itulah sebabnya Sang Tikus tertawa terbahak-bahak sembari mengoceh menyatakan Aswameda Yadnya yang diselenggarakan besar-besaran nan agung itu tidak berhasil. Kalah agung dibandingkan yadnya yang dilakukan oleh tukang munuh yang miskin.

Itulah otokritik terhadap niat penyelenggaraan upacara yang tidak tulus ikhlas. Upacara tidak harus dilakukan secara besar-besaran, tetapi dengan kesederhanaan juga bisa berhasil. Asal dengan niat tulus dan dengan hasil karya (artha) sendiri (dakin lima padidi). Bukan dari hasil menjual warisan.

Artha dan Nirartha sesungguhnya sama pentingnya dalam kehidupan religiusitas agama Hindu. Adagium tan wenang angujaraken dharma ri kala nikang walapa (tiada dibenarkan menyampaikan (ajaran) dharma saat meraka dalam keadaan lapar) menyiratkan pentingnya harta (artha) untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. Namun kesederhanaan tanpa harta (nirartha) tidak akan menghalangi niat tulus menyatu dengan Hyang Widi (moksa).

Jika demikian, sesungguhnya artha sangat diperlukan untuk memuliakan kehidupan beragama dalam agama Hindu. Artha yang utama dalam hal ini ialah keikhlasan dan kesadaran mutlak terhadap hakikat tujuan agama Hindu. Sebaliknya nirartha yang dimaksud ialah segala benda keduniawian yang menjadi penghalang keikhlasan tersebut. Jadi, artha itu sesung-gunya nirartha dan nirartha itu ialah artha berharga yang sesungguhnya.

Tanpa artha tidak mungkin keikhlasan itu terjadi. Sebab bila demikian, tiada harta berharga yang ditinggalkan dengan ikhlas, tiada yang diikhlaskan. Akan tetapi, nirartha dalam kehidupan nyata merupakan realisasi dari upaya keras meniadakan ikatan-ikatan yang menghalangi "pem-bebasan" dari ikatan duniawi.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam, Edisi 17, Juli 2016