Aywawere Sebuah Keniscayaan

Aywawere dalam konstelasi pikir masyarakat Hindu merupakan istilah esensial. Betapa tidak, istilah itu sangat mendasar, menentukan plot pemikiran filsafati mengenai “pemahaman” ataupun “ilmu pengetahuan” terpenting tentang esensi agama Hindu. Esensi srada tentang ke-Tuhan-an dan bhakti sebagai wujud memahami satyam (kebenaran: sat), siwam (kesucian: cit), sundaram (keindahan: kebahagiaan: ananda).

Istilah “aywawere" berasal dari kata “aywa” atau “haywa” dalam tradisi tekstologi Bali berarti ‘jangan’ atau ‘janganlah’ dan “awera” yang berarti ‘memberi tahu yang lain’. Kedua kata yang membentuk istilah aywawera itu mengembangkan arti ‘janganlah memberi tahu (orang) yang lain’. Pengertian yang diemban oleh istilah aywawera selanjutnya berkembang menjadi janganlah mempelajari sesuatu yang belum patut dipelajari. Misalnya, jangan mempelajari kitab suci Weda sebelum menjadi pendeta. Jangan mempelajari kitab bhuwanakosha, jnana sidhanta, dharma sunya kling, wrehspati tattwa, dan seabrek kitab tattwa lainnya sebelum menjadi pendeta atau paling tidak sebelum mawinten saraswati atau juga sebelum mawinten madhu parka.

Diktum aywawera selanjutnya berkembang sebagai orientasi kognitif masyarakat tentang sesuatu ajaran yang belum boleh dipelajari, kalau dipelajari akan menimbulkan kosekuensi sakit ingatan. Demikian perkembangan aywawera sesuai sejarah linguistikanya. Secara historis, makna aywawera mulanya berhubungan dengan konsepsi bahwa ada aspek material yang bersifat rahasyam, begitu pula dalam ajaran agama sekalipun ada hal-hal yang bersifat rahasyam itu. Paralel dengan ‘yang rahasyam’ itu, bahkan aywawera telah menjadi frame of thinking yang mencakup skala kuantitatif, kualitatif, serta keluasan tematik.

Sebuah lingkup yang maha luas dipancarkan oleh diktum aywawera yang tampaknya sederhana. Aywawera melahirkan aksioma sebagai suatu pernyataan yang tidak lagi diragukan kebenarannya. Adakah yang meragukan brahman atman aikyam, bahwa brahman dan atman itu sesungguhnya tunggal adanya? Sebagai disebutkan dalam Bhagawadgita X.20 sebagai berikut:

Aham atma gudakesa,
Sarwabhutasaya-stitah,
Aham adis ca madhyam ca,
Bhutanam anta eva ca.

Kira-kira maksudnya ialah: “Aku adalah atman yang berada pada setiap makhluk, Aku adalah permulaan, pertengahan, dan akhir dari semua makhluk.

Itulah tesa yang mendasari aksioma brahman atman aikyam sebagai suatu kebenaran yang tidak terbantahkan. Sebuah kebenaran yang tidak memerlukan alasan pembenaran. Namun merupakan suatu konsepsi kebenaran sejati bahwa brahman ada dalam setiap makhluk dalam wujud atman.

Bangun aksioma aywawera menjadi bangun intuitif dalam kaitannya dengan frame of thinking dalam bilangan kausa kualitatif sebagai tematik yang berkaitan dengan keesaan Tuhan. Aktus perbincangan mengenai aywawera itupun kemudian bergeser pada aksioma yang berkaitan dengan pendalaman terhadap apa sesungguhnya yang “rahasyam” itu. Agar aksioma itu benar-benar diakui oleh ilmu pengetahuan.

Kesinambungan aywawera sebagai diktum yang merajam kognisi inklusi masyarakat menyebabkan terjadinya loncatan perkembangan terhadap pemahaman ada sesuatu yang bersifat rahasyam sebagai diktum berupa aksioma yang tidak perlu dipertanyakan. Tentu saja dalam perkembangannya, diktum itu digugat oleh keniscayaan yang seperti desakan angin di dalam balon yang terns menerus bertambah yang pada gilirannya menyebabkan balon itu bisa meledak.

Munculnya sukta lain yang menyebutkan ke-Esa-an Tuhan seperti terdapat di dalam Kitab Rig Weda, Sukta 164.46: “Ekam sat viprah bahuda vadanti ” yang diartikan sebagai Tuhan itu sejatinya satu adanya. Namun orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Kitab Yajur Weda XVII. 27 menyebutkan: "Yo dewanam namadha eka eva” yang artinya “Dia (Tuhan) hanya satu dan disebut dengan banyak nama. Demikian pula Kitab Atharwa Weda XIII.4.21. menyebutkan: “Sarve asmin deva krtvo bhavanti” yang artinya: “semua dewa menyatu dengan Nya (Tuhan)”.

Gugatan terhadap diktum aywawera sebagai tabir yang menghalangi kognisi masyarakat untuk mengetahui pengetahuan suci tentang ke-Tuhan-an itu, dipertahankan melalui aksioma yang menyadarkan yang bersifat rahasyam itu benar-benar diakui oleh ilmu pengetahuan. Sehingga terjadilah kesinambungan antara public opinion dengan common sense. Pengetahuan suci itu, mulanya berupa public opinion sebagai suatu kesepakatan tak langsung, menjadi common sense atau akal sehat.

Oleh karena telah metamorfosis menjadi common sense, maka aksioma tentang ke-Esa-an Tuhan dalam agama Hindu kemudian dijabarkan menjadi logika formal. Artinya, aksioma tentang ke-Esa-an Tuhan itu dijabarkan menurut logikanya sendiri sesuai aras pengetahuan tentang ke-Esa-an itu sendiri. Di mana kompleksitas pengetahuan itu hadir tidak saja sebagai public opinion, tetapi dijelaskan melalui common sense di mana adagium ke-Esa-an itu hidup dan berkembang.

Dengan demikian, yang membenarkan aywawera itu eksis sebagai diktum yang harus ditaati, bukan karena ilmu pengetahuan tentang ke-Esa-an tidak boleh diketahui. Namun, merupakan kompleks pengetahuan yang berupa aksioma derivatif. Di mana pengetahuan tentang ke-Tuhan-an itu terhubung lagi (conected) dengan kenyataan yang menjadi landasan awal. Dalam hal ini Kitab Suci Weda sebagai sumber segala sumber hipogramik tentang ke-Tuhan-an.

Dari babaran itu, tampaklah aywawera sesungguhnya merupakan kompleks pengetahuan yang medodis sebagai landasan yang secara intuitif menjadi niscaya. Keniscayaan aywawera sebagai kompleks pengetahuan tentang ajaran yang rahasyam bukanlah merupakan tabir yang sempurna menghalangi pertanyaan-pertanyaan logis berdasarkan lokika, namun merupakan tabir transparan yang perlu dihayati secara intuitif untuk membabar apa yang ingin diketahui dari kompleks rahasyam itu.

Bila dinyatakan aywawera itu merupakan ironi yang menyesatkan dalam kehidupan beragama, tentu tidak sepenuhnya benar. Apabila dikaji sebagai fenomena filsafati, aywawera itu sesunggunya merupakan diktum yang merupakan peringatan hakiki tentang aksioma yang harus berdasakan pijakan yang benar-benar diakui oleh ilmu pengetahuan umum.

Tantangan dari diktum aywawera sesungguhnya menyatukan kesinambungan antara public opinion tentang pengetahuan hakiki seperti pengetahuan tentang ke-Tuhan-an seperti diuraikan di atas dengan common sense. Setelah kompleksitas pengetahuan yang aywawera itu dieksplanasi dan akhirnya dijabarkan secara logika formal, maka momentum itulah menjadi “pencerahan” yang menyebabkan aywawera itu menjadi sebuah keniscayaan.

Diktum aywawera sebagai logika formal itulah yang merupakan aksioma derivatif yang harus dibuat terkoneksi (conected) dengan kenyataan yang menjadi Iandasan awal. Dari perspektif ini, tampaklah bahwa aywawera sesungguhnya merupakan keniscayaan sebagai metode yang digunakan secara intuitif dalam kadar praktis menyeleksi secara alamiah untuk mengetahui pengetahuan hakiki tentang ke-Esa-an Tuhan sebagaimana tersurat di dalam Kitab Suci Weda. Begitu rumitnya diktum aywawera itu, sehingga menyebabkan adanya konstruksi frame of thinking yang mempercayai kalau dilanggar akan menyebabkan sakit ingatan. Mau melanggar aywawera? Silakan saja karena sesungguhnya diktum itu harus dipahami sebagai metode untuk mengetahui pengetahuan tertinggi tentang ke-Tuhan-an yang Esa itu. Jangan takut “gila” karenanya.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam, Edisi 33, November 2017