Momentum Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka mengingatkan kita kepada penghayatan Raja Kaniska 1 terhadap nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, kerukunan dan persaudaraan sejati antar sesama warga dari berbagai suku bangsa di Asia Setatan. Pada abad pertama Masehi, tepatnya pada Minggu, tanggal 21 Maret tahun 79, Raja Kaniska 1 dari Dinasti Kusana naik tahta dan menetapkan tahun yang semula menjadi tradisi dari Dinasti Saka sebagai tahun Nasional. Hat ini merupakan tonggak sejarah dimana permusuhan dihentikan dan arah perjuangan politik bersenjata yang bersifat kekerasan diubah menjadi perjuangan di bidang dharma dan kebudayaan. Kearifan budaya yang bersumber dari Kitab Suci Veda diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Kitab Suci Veda mengajarkan bahwa umat manusia dapat bergerak karena disinari dari dalam oleh Atman yang berasal dari Brahman Yang Esa dan oleh karena itu mereka berkewajiban menjalin ikatan persaudaraan dan kasih, serta berbuat kebajikan bagi orang lain seperti yang mereka inginkan dari orang lain terhadap dirinya (Yajur Veda XI.6).
Konsep utama dan ajaran Veda untuk mengelola kehidupan di dunia, berawal dari konsep keluarga, selanjutnya tumbuh menjadi konsep komunitas dan konsep pemerintahan, kemudian berkembang kearah konsep bangsa dan persaudaraan universal.
Terdapat beberapa nilai luhur yang perlu mendapat perhatian:
Pertama, dasar ikatan persaudaraan adalah: kepercayaan dan saling pengertian, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan dan cinta kasih.
Kedua, Slogan komunitas adalah kemakmuran bersama, bukan kemiskinan atau kemakmuran sepihak.
Ketiga, Veda menetapkan hukum kesetaraan antar komunitas, dan keseimbangan antar ciptan-Nya.
Keempat,Tuhan telah menetapkan enam kewajiban suci yang dijadikan dasar keyakinan bertindak untuk mendukung kesejahteraan dunia yaitu: Satyam, kebenaran hakiki Rtam, hukum suci yang bersifat absolut; Diksa penyucian diri sebagai pengakuan; Tapa, pengekangan atas gejolak nafsu; Brahma, kewajiban berdoa untuk memurnikan pemikiran; dan Yajna, kewajiban berkorban untuk membangun kesejahteraan (Atharva Veda XII. 1.1).
Untuk merealisasikannya umat Hindu mengaktualisasikannya ke dalam kegiatan ritual dan spiritual yang mencakup dimensi Tri Hita Karana dan diwujudkan ke dalam rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi. Tujuannya agar tercapai harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam lingkungannya, dan harmonisasi hubungan dengan sesamanya.
Namun demikian, semua tujuan itu tidak akan tercapai apabila manusia belum memiliki keseimbangan antara raga dan jiwanya. Manusia memang memiliki keterbatasan pada dirinya yang meliputi keterbatasan kemampuan untuk mengetahui, berkarya dan menikmati hasil karyanya. Keterbatasan tersebut mengakibatkan manusia tak mampu mencari pengetahuan sejati, yang akhirnya mengakibatkan mereka melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan dan membawa akibat penderitaan bagi dirinya.
Di saat Nyepi umat Hindu berupaya mencari pengetahuan sejati dengan melakukan Catur Brata. Pada saat Nyepi itulah dilakukan perenungan mendalam, mulat sarira untuk menguak tabir dimensi keterbatasan menuju pengetahuan sejati dan kesadaran akan nitai-nilai persahabatan universal.
Setelah menemukan kesadaran pengetahuan sejati dan persahabatan universal, manusia harus memulai hidup baru. Bagaikan kupu-kupu yang lepas dari kepompong. Terbang bebas menjelajah alam. Mengisap madu tanpa merusak bunganya, melainkan memberi manfaat untuk menjadikannya buah yang ranum. Apabila kupu-kupu yang memiliki banyak keterbatasan tapi mampu memberi manfaat bagi ciptaan yang lain, maka manusia mestinya lebih mampu mengembangkan potensi dan kinerjanya bagi kesejahteraan bersama.
Konsep yajnya tidak lagi hanya dipahami sebagai upaya ritual atau korban suci di atas altar, melainkan mencakup pencapaian bidang sosial untuk memperbaiki kondisi kehidupan duniawi dari kemiskinan dalam arti luas, malapetaka dan penderitaan, kemudian memastikan masa depan yang lebih gemilang, bahkan di luar kematian.
Di dalam mencapai tujuan masa depan itu diperlukan pengabdian yang kuat, yang diwujudkan ke dalam kebangkitan berkarya dalam semangat kebersamaan, dengan dilandasi kejujuran, ketulusan dan kesungguhan pada segala bidang agar secara bertahap tetapi pasti tujuan masa depan itu dapat direalisasikan.
Demikianlah sejarah Tahun Baru Saka dan nilai-nilai universal Hari Raya Nyepi yang sarat makna, sesungguhnya merupakan aktualisasi dari ajaran Veda. Makna sejarah penetapan Tahun Saka dan nilai-nilai Nyepi kiranya patut dijadikan bahan renungan dalam mencari solusi untuk mengatasi krisis multi dimensional yang dialami bangsa Indonesia dewasa ini.
Untuk mengatasi krisis semangat kebangsaan diperlukan rekonsiliasi nasional secara jujur dan bertanggung serta dilandasi kesadaran bahwa politik kekuasaan akan selalu membawa dampak kekerasan dan perpecahan. Namun, sebaliknya, politik yang mengedepankan kearifan budaya niscaya akan mampu membangun kebersamaan, kerukunan, persatuan, harmonisasi, dan kedamaian. Demikian pula penegakan hak-hak asasi manusia (HAM) dan kewajiban asasi manusia (KAM) kiranya akan terbangun melalui kesadaran akan kesetaraan dan penghargaan terhadap martabat manusia Hakekatnya setiap manusia adalah Jiwatman yang sama, yang berasal dari Brahman Yang Esa.
Konflik kepentingan yang ekslusif dapat diakhiri apabila setiap komponen atau komunitas bangsa memiliki kesadaran pengetahuan, bahwa semua manusia memiliki keterbatasan dan oleh karenanya para pemimpin bangsa perlu mengamalkan sifat legowo, agar kesinambungan generasi berlangsung secara alami. Dengan demikian suasana persaudaraan sejati dan semangat untuk menegakkan ketertiban sosial akan menjadi bagian dari semangat kebangsaan kita, karena setiap orang telah menyadari sejujurnya bahwa mereka merupakan bagian dari warga bangsa Indonesia. Melalui semangat kebangsaan inilah tujuan nasional Indonesia akan dapat diwujudkan dan masa depan bangsa yang gemilang akan menjadi semakin nyata.
Kepada seluruh umat Hindu dan segenap warga bangsa, marilah kita "bangkit dalam kebersamaan" untuk mengabdi kepada Negara dengan merefleksikan sloka penuh makna berikut ini. Udyoge nasti daridiyam/ Japato nasti patakam/ Maune ca kalaho nasti/ Nasti jagarato bhayam. Tiada kemiskinan bagi mereka yang giat berusaha/ Tiada mala petaka bagi mereka yang tekun berdoa/ Tiada pertengkaran bagi mereka yang mengendalikan wicara.Dan tiada bahaya bagi mereka yang selalu waspada. (CanakyaNiti Sastralll. 1 1)
Oleh. I. N. Suwandha
Source: Media Hindu, Edisi 16, Juli 2005