Baris Dadap, Tari Sakral Pengusir Kejahatan

Tari Baris menurut Babad Bali merupakan tarian pasukan perang. "Baris" yang berasal dari kata bebaris dapat diartikan pasukan, maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria, umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh, lugas dan dinamis, dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede.

Ada keunikan terhadap tarian ini, terutamanya di desa Pakraman Bukit, kecamatan Tampaksiring terdapat tari baris dadap. Tari Baris Dadap adalah tari yang dipentaskan empat penari laki-laki yang telah berusia 17 tahun ke atas. Tari ini merupakan tari peperangan dan pengusir kekuatan jahat. Hal itu dikarenakan, ketika mementaskannya para penari membawa senjata berupa tombak kecil dan tameng yang berbentuk seperti perahu, keduanya terbuat dari kayu dapdap dan diiasi oleh daun dadap yang dipegang ole para penari.

Baris yang membawa senjata dapdap (semacam perisai), gerakannya lebih lembut dari jenis-jenis tari Baris lainnya dan penarinya menari sambil menyayikan tembang berlaras slendro dengan diiringi gamelan Angklung yang juga berlaras slendro dan ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya. "Tari ini berfungsi untuk menetralisir kekuatan jahat agar tidak mengganggu masyarakat sekitar Desa Bukit Kecamatan Tampaksiring," kata Ketua sekaa Baris, Putu Oka yang juga salah satu dari tari baris dadap.

Dalam menarikannya, penari Baris Dadap akan menari menghadap empat penjuru mata angin. Pertama ke utara, setelah itu ke timur, lalu ke selatan dan ke barat. Ini dilakukan sebanyak empat putaran, setelah semua selesai lalu kembali ke selatan. Ini dilakukan agar tidak ada kekuatan jahat yang datang dari empat penjuru mata angin tersebut. Tari Baris Dadap merupakan tarian sakral yang masuk dalam prosesi upacara piodalan. Pementasannya tidak boleh sembarangan. Ada hari-hari tertentu untuk mementaskannya. Contohnya, ditarikan pada saat upacara piodalan, yang jatuh pada hari Purnamaning kalima, dan jika ada musibah yang menimpa penduduk Desa Bukit, Tampaksiring.

Source: Wartam, Edisi 15 Mei 2016