Batu Ka(r)u, Vibrasi Misteri

BATUKAU! Apa yang dilihat orang pada mulanya sehingga Batu itu dinamakan kau? Kau adalah tempurung kelapa yang dibelah dua, yang bila diletakkan terbalik akan menyerupai miniatur gunung. Sesederhana itukah mata dan pikiran orang yang pada mulanya menamai gunung itu?

Tidak akan sesederhana itu bila kata kau itu dihubungkan dengan kata puun (terbakar) dan kata adeng/areng (arang). Puun dan Adeng adalah nama gunung kecil (bukit) yang ada di dekat Batukau.

‘Tempurung kelapa yang terbakar jadi arang’, begitu jadinya kalimat yang bisa dibaca dari jejeran gunung-gunung itu. Tapi pembacaan seperti ini agak terkesan dibuat-buat, seperti lamunan orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa gunung sehingga akhirnya membuat monolog sendiri.

Orang-orang yang berhasil berkomunikasi dengan gunung, tidak membuat dan mencari penjelasan berlebihan. Didengarnya batu besar itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan cara apa adanya. Dengan apa lagi kalau tidak dengan diam, dengan menjadi gunung, dan dengan tidak sembarangan berkabar.

Barangkali dengan cara seperti itu, Batukaru menjadi isu yang sesungguhnya. Sehingga pikiran dan pandangan orang benar-benar mengadap ke sana. Sampai parahyangan orang-orang pun ditempatkan di samping jalan seperti guide yang menuntun orang menempuh jalan yang berakhir di kaki gunung itu.

Benar-benar sebuah ibukota layaknya Batukaru itu. Barangkali karena “keibukotaannya”, akhirnya pada suatu masa banyaklah orang-orang berdatangan dari segala penjuru. Mulailah jaman baru yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan banyaknya penjelasan.

Seperti pada umumnya, penjelasan yang kemudian diberlakukan adalah penjelasan yang datang dari pemegang otoritas. Orang-orang yang datang dari jaman baru menghayati penjelasan baru itu. Sehingga ketika mereka datang ke Gunung Batu itu, di dalam pikiran mereka sudah ada penjelasan yang cukup lengkap. Mereka tidak datang dengan kepala kosong, tapi sudah terisi. Misalnya, salah atu penjelasannya, Batukau adalah benteng kawasan barat, ibarat kelopak bunga Padma berwarna kuning, sebagai tempat Mahadewa bersthana di sana.

Bahkan ketika mereka bersila atau bersimpuh pun sudah pula ada pola tetap yang mengatur tatakrama mendekatkan diri kepada Beliau. Misalnya, pertama-tama begini, kemudian begitu, selanjutnya minta anugerah, dan seterusnya, terakhir berpamitan pulang.

Begitulah jaman baru yang ditandai oleh kemajuan-kemajuan membawa satu tertib spiritual. Salah satu ciri kemajuan itu adalah ketika hampir semua pertanyaan dicarikan jawaban, atau diberi sebuah atau beberapa buah penjelasan. Model dharmawacana adalah salah satu bentuk penjelasan keliling dari otoritas yang punya penjelasan. Jawaban tertinggi dari semua pertanyaan pada akhirnya adalah Tuhan. Itu intinya: Tuhan adalah jawaban. Tapi seorang penganut paham Bungkling bisa saja membalikkan logika itu. Kalau Tuhan itu adalah pertanyaan, apa kira-kira jawabannya?

Jaman baru adalah jaman yang gelisak dengan dirinya sendiri, justru karena ia memiliki sangat banyak penjelasan. Sedikit-sedikit dibuatnya hidup dan jagat ini menjadi kehilangan misteri-misterinya.

Batukau sekarang lebih sering disebut Batu Karu. Kata Karu adalah bentuk alus dari Kau. Bersamaan dengan penghalusan itu, banyak hal lainnya pun sedikit demi sedikit ”ditata”. Ditata berarti dibuat menjadi sesuai dengan keputusan pusat. Boleh juga disebut “ditertibkan”, “distandarisasikan”.

Dengan sangat positif kita berpikir, bahwa penataan itu adalah bentuk lain dari cara “berkomunikasi” gunung batu berdiri itu. Berkomunikasi sekarang bisa diartikan mendekatkan diri ramai-ramai! Barangkali ada komunikasi lain, yang jauh dari hiruk pikuk itu. Api tidak mudah menjelaskannya, kecuali dengan ilustrasi beriikut ini.

Tidak usah diberitahu, orang-orang di gunung itu sadar bahwa di sana ada yang bersthana. Tidak penting mengetahui siapa nama yang bersthana di sana itu. Bukan hanya soal nama itu, penjelasan-penjelasan lainnya juga tidak dibutuhkan. Karena gunung itu menjelaskan siapa penghuninya dengan caranya sendiri kepada orang-orang yang bhakti di sekitarnya. Bukankah batu menjelaskan dirinya justru tanpa penjelasan. Begitu juga gunung dan hutannya. Termasuk barangkali “harimau siluman” yang kadang memperdengarkan bunyi aumannya di sana, di taman gunung Batu itu.

Manakala orang-orang memahami “kebenaran” fenomena itu, dan membiarkannya tetap seperti itu, bukankah itu tanda telah teijadi komunikasi yang sejatinya. Komunikasi juga terjadi ketika mendengar auman harimau siluman. Vibrasi auman itu menggetarkan udara dalam diri orang yang duduk bersila atau bersimpuh di depan gerbang istana gunung Batu itu. Vibrasi di luar bertemu dengan vibrasi di dalam, itulah komunikasinya. Sehingga tidak perlu lagi menjelaskan dan meyakinkan diri, bahwa mereka datang mendekatkan diri, dari-bunyi auman aneh seperti mantra gaib datang menjemput. Yang mendengar dan yang didengar sama-sama hanya vibrasi, yaitu udara yang bergetar halus dan bukankah itu juga tanda bahasa telah terjadi komunikasi yang sejatinya.

Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Koran Balipost Minggu 22 November 2009.