Berlindung pada Dosa Versus Berlindung pada Kebajikan

Agnido garadas caiva
Sastra-panir dhanapahah
Ksetra-daraharas caiva sadete atatayinah
(Vasistha Smrti 3.19)

"Dia yang membakar, meracun, memegang senjata tajam di tangan lalu membunuh yang tidak berdosa, yang merebut harta orang lain, yang merampas tanah orang lain, memperkosa,....keenam ini dinamakan Atatayinah, yaitu mereka yang melakukan kejahatan besar."

Kata atatayinah berasal dari kata atatayi yang menunjukkan single, untuk menyebut satu orang pelaku, sedangkan atatayinah artinya jamak untuk menyebut banyak pelaku. Kitab Dharma Shastra di atas menyebut Sad Atatayi karena jumlah pelaku Atatayi itu ada enam, maka dipergunakan kata Sad Atatayinah.

Kata Atatayinah juga dapat dijumpai dalam kitab suci Bhagavad-gita (nihatya dhar-tarashtran... hatvaitan atatayinah) -- Wahai Janardana, kesukaan apa yang akan kita peroleh dengan membunuh putra-putra Dhrtarastra, membasmi para pembunuh ini kita hanya akan mendapatkan dosa-dosa.

Kita mengenal istilah Sad Atatayi yang diajarkan oleh guru agama di sekolah-sekolah. Sad Atatayi terdiri dari kata Sad (enam), dan Atatayi (kejam, sangat jahat). Sad Atatayi artinya enam jenis kekerasan, teror, kekejaman, atau kejahatan besar.

Atatayi artinya dosa besar, yaitu membunuh, memperkosa dan lain-lain. Ada dosa-dosa yang dikelompokkan sebagai dosa kecil, dosa menengah, dosa besar. Sad atatayi ini termasuk dosa besar. Sebagai catatan, kata Sad. di sini bukan kata Sat yang artinya kebenaran melainkan Sad yang berarti enam. Sad atatayi berarti enam jenis penjahat kelas kakap.

Atatayi artinya penjahat. Atatayinah artinya para penjahat. Di dalam Bhagavad-gita, Arjuna berkeluh kesah kepada Krsna, "Wahai Janardana, nihatya dhartarashtran, setelah membunuh putra-putra Dhrtrastra ini, "-- ka pritih syaj, kesenangan apa yang akan kita dapatkan? Papam evasrayed asman, kita hanya akan papa eva, hanya pada dosa, ashrayed, berlindung?"

Pada zaman Kali Yuga, orang-orang kebanyakan berlindung pada dosa-dosa (Bhagavadgita 1.36). Pada zaman Veda, orang-orang berlindungnya pada kebenaran, perbuatan-perbuatan punia (mulia), atau pada sat dharma, sat karma. Di sanalah orang-orang berlindung. Sebaliknya zaman sekarang ini orang-orang berlindungnya pada dosa-dosa (papam evasrayet), sembahyangnya berlindung kepada Tuhan, tetapi action (perbuatan) berlindungnya pada dosa-dosa. Ketika orang berbuat salah atau dosa, mereka akan mengemas kalimat-kalimat, alasan-alasan supaya dirinya tidak disebut bersalah atau berdosa. Akan diusahakan sekuatnya untuk mencarikan ayat-ayat atau pasal-pasal pembenaran dari segala kesalahan atau dosa yang dilakukan. Orang-orang berlindungnya ke sana.

Orang-orang mencari pekerjaan pun sekarang ini sering berlindungnya pada dosa-dosa (papam evashrayet), berlindung pada "pasal-pasal". Ada pasal 450, artinya untuk mendapatkan pekerjaan jenis tertentu orang harus membayar sekian ratus juta rupiah. Ada "pasal" 175, ada pula pasal "50". Untuk bisa dagang di kantin orang harus kena "pasal" 25, artinya harus membayar 25 juta rupiah barulah bisa berdagang di kantin. Dan orang sangat senang mendapatkan kesempatan untuk "berlindung" pada dosa-dosa (papam evashrayet).

Pada zaman dahulu, kesadaran orang sangat bersih dan suci sehingga mereka teguh berlindung pada Sat Dharma, Sat Karma. Pada zaman sekarang, "lampu penerang" orang zaman Kaliyuga ini ini adalah "lampu kegelapan", sehingga orang menemukan terang dalam kegelapan. Mereka hidup ceria meriah dalam kebohongan, merampas harta orang, tanah orang diukur lalu dimasukkan ke tanahnya, gaji orang "diukur" lalu dimasukkan ke rekeningnya, dan lain-lain. Orang-orang zaman Kaliyuga berlindung pada kegelapan (papam evashrayet).

Kegelapan Sapta Timira akhirnya melahirkan "anak-anak" sebanyak "enam orang" yang dinamakan Sad Atatayi, yang menurut Manu Smrti adalah Agnida (membakar; rumah orang dibakar, mobil orang dibakar, bahkan membakar orang hidup-hidup), Visada (meracuni termasuk dengan Sianida, menyakiti orang), Atharva (ilmu hitam, black magic), Sastraghna (mengamuk memakai senjata tajam, membunuh orang dengan senjata tajam, bom dan lain-lain kekerasan terror, Gratikrama (memperkosa), Rajapisuna (memfitnah, adu domba).

Atatayi, merupakan dosa besar. Para atatayi pada umumnya berusaha mengumpulkan segala kekayaan, popularitas dan mencapai jabatan dengan berlindung pada papam evasrayet. Mereka yang berada di dalam "papam evasrayet", lama-lama akan melakukan kekerasan tanpa merasa bahwa apa yang dilakukan tersebut adalah kekerasan. Ketika di dalam melaksanakan tugas pekerjaannya mereka harus membunuh, maka mereka tidak merasa hal itu sebagai perbuatan jahat atau dosa. Para pekerja di perusahaan-perusahaan pengelolaan daging kaleng misalnya, mereka sudah "mati rasa" melihat binatang hidup-hidup dimasukkan ke tempat pembantaian. Ngeri jika orang menonton videonya di Youtube; binatang hidup-hidup dimasukkan ke mesin pem-bunuhan, digiling, dan akhirnya binatang-binatang tersebut mat menggelepar-gelepar.

Merampas harta dan uanj orang lain juga termasuk dosa besar atatayi. Para koruptor merampas uang negara, uang rakyat tanpa merasa bersalal dalam mengakali kuitansi dar lain-lain. Mereka menciptakai sebuah sistem untuk berlindung pada dosa-dosa demi keuntungan pribadi. Karena mendapat tawaran hidup nikmat, mewah nyaman, enak, maka mereka menjadi lupa diri. Mereka berlindung pada kebohongan dari kejahatan tetapi tidak merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya atau pada apa yang sedang dilakukannya tersebut. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang mereka sedang lakukan adalah merupakan kegiatan atatayi (melakukan dosa berat). Orang baik-baik akan dengan patuh berlindung bukan pada dosa-dosa (papam evasrayet) melainkan berlindung pada Dharma (dharmam evasrayet), demi kemuliaan hidup lahir batin, sakala dan niskala. Semua orang memang memerlukan uang untuk hidup yang lebih baik. Akan tetapi, mereka yang menentukan berlindung pada Dharma tidak akan sampai terpancing ke arah papam evasrayet.

Umat Hindu Dharma mengetahui sepenuhnya bahwa banyak cara yang dianjurkan oleh pustaka-pustaka suci Veda untuk dapat hidup dengan baik, damai, berkecukupan lahir batin dalam hidup di dunia ini. Orang tidak perlu harus menempuh jalan tidak baik atau berlindung pada "jaringan" dosa-dosa demi hidup yang tenang damai di dunia ini. Perlindungan pada Dharma merupakan pelindungan yang sangat indah dan pasti untuk memperoleh segala kemuliaan hidup di dunia ini. Ketika orang berlindung pada dharma, maka dharma itu sendiri yang akan melindungan mereka. Dharma melindungi orang yang berlindung padanya. "Dharmam raksati raksitah - Dharma atau kebajikan melindungi orang yang berlindung pada kebajikan dharma. Hanya saja, bagaimana berlindung pada Dharma, banyak yang masih belum memahaminya.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon 15 Januari 2017