Berlindung pada Kebenaran "Satyam"

Satyameva jayate nanrtam
Satyena pantha vitato evayanah
Yenakramantyrsayo hyaptakama
Yatra tat satyasya paramam nid-hanam
(Mundaka Upanisad 3.1.6)

"Hanya kebenaran yang selalu menang, bukan ketidakbenaran. Dari kebenaranlah jalan spiritual menyebar keluar, dengan nama para Maharesi yang keinginannya sepenuhnya terpenuhi, dapat mencapai tempat di mana harta karun tertinggi Kebenaran tersimpan."

Kalimat "Satyam eva jayate" yang terdapat dalam kitab Mundaka Upanisad sudah menjadi sedemikian terkenal. Bahkan, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Ashar ketika keluar lapas menikmati kebebasan, di hadapan media menyampaikan Satyam Eva Jayate, tapi ketika ada wartawan menanyakan sambil mengulang kalimat tersebut dengan kata "Jayante", Antasari juga ikut mengucapkan kalimat kurang tepat "Satyam Eva Jayante". Antasari sudah benar mengu­capkan jayate akhirnya ikut-ikutan mengucapkan yang kurang tepat secara tata bahasa Sanskerta.

Kata satyam menunjuk pada kebenaran sejati. Ia berarti Supreme Truth (kebenaran tert­inggi) dan juga kejujuran. Akan tetapi, di Indonesia, khususnya di Bali, kata satyam lebih dikenal dengan bawaan arti jujur. Seringkali kita juga mendengar dan bahkan "salah kaprah" akan kata satya wacana dengan kata nitya wacana. Namun, kata nitya wacana diwacanakan sebagai "sing dadi nitya wacana", maksudnya ingin mengatakan tidak boleh berkata-kata bohong, namun mempergunakan kalimat "nitya wacana" yang berarti berkata jujur. Kalimat yang benar adalah "sing dadi mithya wacana" (tidak boleh berkata-kata bohong). Ada kalimat nitya wacana dan ada kalimat mithya wacana. Nitya wacana berarti satya wacana, sedangkan mithya wacana berarti berkata-kata tidak ju­jur, tidak benar alias berbohong. Demikian ilustrasi untuk menjadi peringatan bagi yang masih terperangkap dalam salah kaprah istilah tersebut.

Satyam hendaknya menjadi tonggak arah dari segala yang dilakukan, dipikirkan, dan dikatakan orang. Hendaknya orang juga bertekad agar setiap pikiran, kata, dan perbuatan yang dilakukan di dalam jalan satyam, agar memberikan manfaat dan/atau menjadi acuan kebenaran bagi orang lain.

Harapan seperti ini sesuai dengan ajaran dari Rg Veda yang menekankan agar  orang-orang menemukan kebenaran sejati satyam di dalam kata-kata yang diucapkan: vacah satyam asiya (Rg Veda 26.4), mereka yang dengan pasti menjadikan Veda sebagai dasar ajaran-ajaran pencerahannya, seharusnya menjadikan satyam sebagai acuan arah tujuan hidupnya. Dengan demikian, segala apa yang diperbuatnya pastilah da­lam tuntunan sinar suci Veda. Bagi penekun ajaran Veda, mereka akan menganggap sia-sialah kata-kata yang diucap­kan jika ia tidak mengandung kebenaran satyam, dan juga akan sia-sialah jika orang tidak menemukan kebenaran satyam di dalam kata-katanya, "vacah satyamasiya" Semoga aku (manusia) menemukan kebenaran di dalam kata-kataku (Yajur Veda 26.4).

Kitab suci Taittiriiya Upa­nisad 2.1 mewacanakan satyam jnanam anantam brahma, yo veda nihitam guhayam so'snute sarvan kaman, bahwa mereka yang merealisasikan kebe­naran sejati, satyam, dengan baik, maka semua keinginan mereka menjadi terpenuhi. Satyam eva jayate, hanya kebenaran sejati yang selalu menang, na anrtam, dan bukan ketidak benaran. Dari kebe­naranlah jalan spiritual me­nyebar ke luar. Dengan jalan kebenaran sejati tersebut para Maharesi, yang keinginannya sepenuhnya terpenuhi, dapat mencapai tempat dimana (yatra) harta karun tertinggi Kebenaran tersimpan (tat sa­tyasya paramam nidhanam). Kebenaran Satyam tersebut tidak dapat dilihat, tidak dap­at dikatakan, tidak dapat pula dipikirkan atau tidak tersentuh oleh ketajaman pemikiran - "adrstam avyavaharyam agrahyam aksanam acintyam avyapadesyam..." (Mandukya Upanisad).

Harapan dan ajaran Veda adalah agar orang menempatkan diri di dalam jalan satyam serta pada saat bersamaan juga mengharapkan orang lain mendapat kebenaran satyam juga dari segala pemikiran, kata, dan perbuatan yang dilakukannya. Orang tidak dianjurkan untuk mencari dan berada di dalam jalan satyam sendirian melainkan diajarkan cara menabur satyam ke segala penjuru mata angin, kepada semua tanpa pilih kasih dan setiap saat. Itulah kesejatian hidup seorang arya, yaitu orang yang ajeg dalam mengikuti aja­ran Veda.

Kena Upanisad menyebutkan kebenaran Satyam sebagai tempat tinggal dari Tuhan YME (satyam ayatanam...), yang berarti orang hendaknya beru­saha mendekatkan diri sebisa-bisanya pada ke­benaran Satyam demi berkenan Tuhan hadir bersthana dalam diri kita. Hanya kehadiran Tuhan seperti itu di dalam diri memberikan kepastian akan karunia serta perlindungan penuh dari Tuhan YME.

Perihal pemahaman kata satya yang di Bali sendiri kata satyam itu dipahami sebagai kejujuran daripada arti kebe­naran sejati, pendapat ini tidak salah, ia bahkan didukung oleh kitab Upanisad (Brhadaranyaka Upanisad 1.4.14), "yo vai sa dharmah satyam vai tat" - kewajiban suci berkata-kata jujur adalah kebenaran satyam itu sendiri.

Kebenaran Satyam yang lebih diutamakan di Bali ada­lah Kebenaran Dharma dalam Kebenaran Kejujuran sehingga terlahir istilah Satya Wacana (berkata-kata jujur). Bagi umat di Bali, orang yang dianggap sangat maju dan teguh di da­lam menjalankan ajaran-ajaran agama adalah orang-orang yang "polos" jujur, tidak pernah ber­kata-kata bohong. Tutur-tutur di lontar khususnya lontar Niti Sastra menekankan hal ini, dan juga cerita Raja Yudhisthira yang bahkan dalam keadaan darurat perang pun tidak mau berkata bohong.

Kitab kakawin Niti Sastra menekankan agar orang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata. Kata-kata disebutkan sebagai anak panah, sekali terlepas maka ia tidak bisa ditarik kembali; Mengingat kelemahan ini dimiliki oleh setiap orang, yaitu kurang berhati-hati didalam mengeluarkan kata-kata, maka kitab suci Smrti merasa perlu mengingatkan umatnya dengan aja­ran sangat penting dan praktis yaitu "manah putam vacam vadet" - saringlah terlebih dahulu baik-baik di dalam pikiran, barulah keluarkan kata-kata melalui bibir.

Oleh perkataanlah engkau mendapatkan harta benda (wasita nimittanta manemu laksmi), oleh perkataanlah engkau menemui kematian (wasita nimittantapati kapangguh), oleh perkataanlah engkau mendapatkan kedukaan (wasita nimittanta manemu duhkha) dan mendapatkan sahabat (wasita nimittanta manemu mitra).

Barangkali masih segar diingatan semua, ada seorang perawat melakukan bunuh diri hanya karena "salah ucap" dari seorang penyiar radio. Salah ucap dapat mengakibatkan orang meninggal, bunuh diri, atau orang akan menjadi sakit hati selama hidupnya.

Mengenai Kebenaran Sa­tyam sebagai Kebenaran Dhar­ma yang jujur terdapat cerita perihal Maharaja Yudhisthira ketika sedang berada dalam perang Kuruksetra. Pada saat itu, Guru Drona mengamuk dan membunuhi para ksatriya dan prajurit Pandava. Sri Krsna mengetahui bahwa Guru Drona mendapat karunia tidak akan mati jika tidak karena mengalami kedukaan keras. Dan rahasia kedukaan keras bagi Drona adalah putra kesayangannya, Asvathama. Dalam keadaan gawat tersebut, Krsna meminta Bhima untuk membunuh gajah dari pasukan musuh yang ke-betulan bernama Asvathama, lalu Bhima diminta agar berteriak lantang mengatakan Asvathama terbunuh. Bhima melakukan dengan patuh.

Teriakan Bhima yang keras, nyaring dan lantang tersebut didengar oleh hampir seluruh pasukan kedua belah pihak yang sedang bertempur. Men­dengar berita putranya gugur, Drona langsung menjadi lemas dan menghentikan pertempurannya. Untuk memastikan kebenaran akan kematian pu­tranya, Drona hanya percaya pada satu orang pribadi maha jujur, yaitu Yudhisthira. Drona mendatangi Yudhisthira menanyakan perihal kebenaran kematian putranya.

Demi menyelamatkan pasukannya, Krsna meminta Yudhisthira berbohong. Akan tetapi, Yu­dhisthira sang raja kebenaran dan kejujuran tetap tidak bisa meninggalkan kejujurannya yang sudah mendarah daging. Yudhisthira pun berkata dengan jujur kepada gurunya, "Guru..., benar Asvathama gugur....... tetapi gajah bernama asvathama, "naro va kunjaro va". Bertepatan Yudhisthira mengatakan Asvathama gajah, Bhima meniup sangkha den­gan keras menyebabkan Guru Drona tidak mendengar kata "kunjaro va" (Asvathama ga­jah). Akhirnya Drona terduduk kesedihan dalam medan perang dan menemui ajalnya.

Kebenaran Satyam sangatlah pelik, bahkan raja kejujuran Yudhisthira pun mengalami kesulitan untuk mengikuti dan menerapkannya. Ia memerlukan keberadaan kitab suci dan orang suci yang sangat bijaksana dalam menerapkannya sesuai dengan desa (tempat, daerah) kala (waktu, zaman) dan patra (individu, kelompok masyarakat). Sebab, Kebenaran Satyam tertutupi rapat oleh kebenaran-kebenaran semu dan bersifat sementara (satyasya apihitam).

Sehubungan dengan Kebe­naran Satyam, para pembaca pasti banyak yang kaget jika penulis mengatakan: "Terkadang kita perlu menomorduakan kitab suci demi mengedepankan sebuah tradisi indah..."

Oleh: Darmayasa
Source: Balipost, Minggu Paing 18 Desember 2016