Di masa lalu menjelang ada yadnya kesibukan jadi luar biasa. Rangkaian sesajen dibuat jauh sebelumnya. Juga kue-kue khas: jaje sirat, kaliadrem, dodol, satuh, tape dan banyak lagi. Ketika yadnya berlangsung, rangkaian sesajen sudah kusam, kue khas itu sudah pada jamuran, tak layak lagi dimakan. Tak ada yang bertanya, "Apakah tidak kasihan Tuhan diberi sesajen yang sudah bau?" Semuanya pada maklum.
Sekarang malah sebaliknya. Kasihan kepada sulinggih atau pemangku. "Apa mau muput upacara yang sesajennya sudah bau, bunganya layu, banyak dikerubungi semut?" Nah, mulai ada kesadaran tentang sarana upacara yang layak untuk dipersembahkan. Kue tradisional diganti kue buatan toko. Buah dibeli di pasar swalayan. Bahkan supaya lebih praktis ada minuman kaleng untuk dasar menyangga rangkaian buah agar kuat. Janur dipakai embung dari Sulawesi. Kesibukan ngayah atau gotong royong sudah hilang, ornamen banten sudah bisa dibeli di sepanjang jalan di Desa Kapal dan sekitarnya.
Yang tak kalah pentingnya adalah cara-cara umat melakukan yadnya itu sudah mulai praktis, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi, termasuk ketersediaan dana dan waktu. Disebut praktis karena untuk apa membuat jajan yang banyak ragamnya dan banyak jumlahnya, kalau tidak ada yang makan lungsuran atau prasadamnya. Untuk apa membuat banten yang besar kalau yang kecil saja sudah sesuai dengan sastra agama. Untuk apa berlama-lama kalau bisa diperpendek, bukankah minta izin tak masuk kerja amat sulit?
Perubahan cara beryadnya banyak penyebabnya. Boleh disebut karena pendidikan yang sudah lebih maju, baik belajar dari buku, belajar di sekolah dan belajar dengan mendengarkan dharma wacana yang diberikan para tokoh agama. Umat pun tak takut dengan "kutukan", kalau banten kurang bisa "kepongor" atau bisa tak sah lalu "kepanesan".
Istilah di pedesaan seperti "kepongor" atau "kepanesan" adalah suatu kepercayaan bahwa para leluhur dan bahkan dalam tingkat tertinggi yakni Hyang Widhi dianggap sebagai "pemberi kutukan". Tuhan dan Bethara lebih sebagai penghukum, bukan sebagai Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun. Itu sebabnya umat percaya banten harus lengkap. Lengkap versi siapa? Lengkap menurut tradisi yang sudah turun-menurun, tanpa peduli lagi apakah tradisi itu benar atau salah.
Bagaimana sikap kita seharusnya dalam menjalankan yadnya? Sesuaikan dengan kemampuan dan tentu dasarnya adalah tulus ikhlas atau lascarya. Kalau memakai istilah yadnya yang sederhana, ukurannya tidak jelas, karena akan muncul pertanyaan, sederhana menurut siapa? Orang yang berpenghasilan kecil ukuran sederhananya beda dengan orang yang berpenghasilan besar. Melaksanakan ngaben dengan biaya seratus juta rupiah mungkin tak berarti bagi orang yang memiliki empat pomba bensin ditambah beberapa villa. Tetapi biaya ngaben lima juta rupiah akan berat sekali untuk orang yang hanya berpenghasilan dua juta rupiah sebulan. Lalu di mana kesederhanaan itu diukur?
Beryadnya yang sederhana juga tak bisa dengan mengurangi ornamen sesajen. Dengan alasan sederhana lalu berhemat, kemudian sebuah daksina yang seharusnya ada buah kelapa utuh, dibelah dua untuk dapat dua daksina. Tentu tidak boleh, karena setelah kelapa dibelah artinya bukan lagi bernama daksina. Semua ornamen itu adalah lambang. Kelapa dan telur dalam daksina itu adalah lambang, kalau dipotong-potong berarti sudah menyimpang dari lambangnya.
Tapi ada cara-cara untuk "mengecilkan" yadnya namun bukan bertujuan "merendahkan" yadnya. Dalam tatanan ritual Hindu versi budaya Bali, ada tingkatan yang disebut kanista (bukan nista dalam artian rendah), madya dan utama. Contoh gampangnya, kalau tidak mampu membuat ayaban dengan hulu (pokok sesajen) memakai bebangkit, cukup dengan pulagembal. Kalau juga tak mampu dengan pulagembal, turunkan menjadi udel kurenan. Kalau itu juga tak cukup, ya, tumpeng solas atau sembilan. Dan seterusnya. Analognya kalau tak bisa membeli jas, pakai saja baju batik. Kalau baju batik masih mahal pakai baju biasa. Yang penting tetap rapi.
Ngaben pun tingkatannya banyak. Bahkan setiap ritual ada tingkatannya. Jadi ukurlah dengan kemampuan diri kita masingr masing, janganlah orang miskin meniru yadnya orang kaya. Nanti agama Hindu disalahkan sebagai beban dan membuat masyarakat miskin. Padahal tujuan agama adalah kesejahtraan lahir dan batin, moksartham ya ca iti dharma.
Sumber: Majalah Raditya Edisi 220 l 2015