Kedua tokoh ini dikenal luas oleh masyarakat sastra. Tradisi mabasan atau tradisi membaca dan mendalami karya-karya sastra Itihasa biasanya membahas tokoh ini secara mendalam. Bhima hadir dalam sejumlah karya besar seperti Bharatayudha, sementara Bhoma hadir dalam karya sastra khusus tentang dirinya; berjudul kakawin Bhomantaka. Apa hubungan kedua tokoh ini ?
Kedua tokoh ini berhubungan dengan Sri Krishna, titisan Wisnu yang; menyelamatkan dunia dari kehancuran. Bhima dengan segala kesaktian dan; kekuatan yang dimilikinya mengabdikan dirinya bagi tegaknya kebenaran dan, keadilan, dan bagi kerahayuan masyarakat luas. Ia tunduk kepada kakaknya yang menjadi simbol penegakan dharma: Dharmawangsa, dan Dharmawangsa tidak pernah lepas dari ikatan persahabatan dengan Sri Krishna. Sementara itu Bhoma dengan segala kesaktian yang dimilikinya berhadapan dengan Sri Krishna, memekarkan sifat kesombongan, keangkuhan, karena merasa memiliki kesaktian-kesaktian yang tiada tanding.
Sesungguhnya Bhoma yang disebut juga Naraka dilahirkan akibat pertemuan antara ibu Bhumi dengan Wisnu, setelah Dewa ini berwujud seekor babi hutan untuk menyelamatkan Bhumi dari kehancuran. Dewa Brahma memberi kekuatan yang luar biasa kepadanya, kekuatan yang tak terkalahkan yang kini dipakainya menyebarkan kematian dan kehancuran. Kakawin Bhomantaka (kematian Sang Bhoma) menyuratkan kisah Sang Bhoma secara panjang lebar.
Bhoma yang memiliki kekuatan Wijaya Mala, yaitu kekuatan tidak akan; pernah mati bila kepalanya menyentuh bhumi, akhirnya tewas ditangan Sri Krishna yang bekerjasama dengan Sang Garuda. Ketika pertempuran terjadi antara Krishna dengan Bhoma maka keduanya sempat mengambil bentuk yang adikodrati, namun Krishna yang hadir sebagai Wisnu berhasil menghantam kepala Sang Bhoma sehingga mahkotanya jatuh. Kesempatan ini dipergunakan Garuda menyambar Wijayamala dan menerbangkannya jauh. Selanjutnya kepala Bhoma dihancurkan Wisnu, dan tubuhnya jatuh ke dalam laut, jatuh kepangkuan ibunya.
Kisah tentang kematian Bhoma menyiratkan betapapun juga kekuatan atau kesaktian yang dimiliki bila tidak diabdikan bagi tegaknya kebenaran dan bagi kerahayuan jagat maka dia yang memiliki kesaktian itu akan hancur dengan mengenaskan. Namun kisah tentang Bhima yang mengabdikan kesaktian dan kekuatannya kepada kebenaran dan kerahayuan menunjukkan bahwa betapapun derita yang dihadapinya dalam rangka menegakkan kebenaran, pada kesudahannya kejayaan akan ditemui.
Kisah tentang Bhima dan Bhoma menjadi aktual untuk direnungkan pada saat ini. Ketika masyarakat telah dilanda oleh kekuatan materialisme yang menumbuhkembangkan sifat angkuh, sombong, angkaramurka dan seterusnya maka kisah-kisah tersebut diatas menemui tempatnya untuk dijadikan bahan bacaan dan renungan. Ada hukum jagatraya disini, bahwa kebenaran pasti akan menang (Satyam evam jaya), bukan kepalsuan dan bukan pula kebohongan. Kekuatan apapun yang dimiliki oleh seseorang hendaknya diabdikan kepada! tegaknya kebenaran.
Suara: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 465 Oktober 2005