Candi Prambanan adalah Candi Hindu terbesar di Indonesia, terletang di Jawa Tengah. Candi yang terus di pugas estetika religius yang membanggakan bangsa Indonesia, yang bagi umat Hindu Indonesia adalah merupakan Pura Penataran Agung yang disucikan.
Candi ini tidak saja berisi arca Siwa Mahadewa yang tebesar, Arca Siwa Mahaguru, Ganesha, Durga, Nandini, tetapi juga berisi relief mahakawya Ramayana dan Kresnayana yang tiada taranya. Arca dan relief hasil sentuhan tangan-tangan halus para seniman terhadap batu-batu andesit yang keras. Maka religiusitas dan estetika manunggal di sini, di candi Prambanan.
Ketika gempa di pagi hari tanggal 27 Mei 2006, menggoyang candi ini, maka candi Brahma mengalami kerusakan yang paling berat. Batu-batu candinya berserakan dan puncaknya runtuh, namun candi Siwa yang besar dan candi Wisnu masih tegak dan utuh. Gempa yang memporak-porandakan sejumlah daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah itu, memang tidak memporak-porandakan seluruh candi Prambanan. Namun demikian kerusakan sekecil apapun yang terjadi atas candi Prambanan menjadi begitu penting untuk diperhatikan, karena candi ini adalah warisan budaya yang tiada taranya, yang memerlukan biaya yang begitu besar bagi penyusunannya kembali, dan semua itu hanya dapat dilakukan oleh para ahlinya, tidak oleh sembarang orang.
Entah berapa kali candi ini digoyang gempa, memang belum ada catatan. Namun demikian ketika ditemukan oleh para peneliti candi ini benar-benar ambruk. Yang tegak hanyalah arca Siwa Mahadewa.
Hindu di Jawa Tengah
Sejak masuknya agama Hindu ke bumi Nusantara kita telah mengenal sejumlah pusat terbangun dan berkembangnya peradaban Hindu. Misalnya yang sangat terkenal adalah Kutai di Kalimantan, Tarumanegara di Jawa Barat, Malayu, dan Sriwijaya di Sumatra, Mataram di Jawa Tengah Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur, dan Bali.
Jawa Tengah menjadi penting antara lain karena ia mewariskan peninggalan-peninggalan arsitektur terutama berupa candi yang tiada taranya : pertama-tama karena jumlah yang banyak kemudian karena kualitas estetik dan konsepsionalnya yang tinggi.
Kerajaan Mataram (Jawa Tengah) dikenal dan sebuah prasasti yang ditemukan desa Canggal (Barat daya Magelang). Prasasti mi berangka tahun 732 M, ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya. Daerah ini terletak di sebuah pulau yang mulia Yawadwipa mula-mula di perintah oleh raja Sanna, yang lama memerintah dengan kebijaksanaan dan kehalusan budi. Setelah raja Sanna wafat, pecahlah kerajaannya, rakyat kebingungan karena kehilangan perlindungan. Naiklah ke atas tahta kerajaan raja Sanjaya, anak Sannaha (saudara perempuan Sanna), seorang raja yang akhli dalam kitab-kitab suci dan dalam keperajuritan. Ia menaklukan berbagai daerah di sekitar kerajaan, dan menciptakan ketentraman serta kemakmuran yang dapat dinikmati oleh rakyatnya.
Apabila lewat prasasti Canggal diketahui bahwa Sanjaya mendirikan sebuah lingga, sesungguhnya itu juga bermakna bahwa ia juga mendirikan sebuah kerajaan. Bahwa Sanjaya memang dianggap sebagai wamsakarta dari kerajaan Mataram, ternyata juga dari prasasti-prasasti para raja yang berturut-turut menggantikannya. Diantara prasasti-prasasti itu ada beberapa dari Balitung yang memuat silsilah dan yang menjadi pangkal silsilah itu adalah "Raka i Mataram sang ratu Sanjaya". Dari kedua kenyataan itu dapatlah jelas betapa besarnya arti Sanjaya bagi raja-raja yang kerajaannya berpusat di Jawa Tengah sampai abad ke-10.
Adapun lingga yang didirikan oleh Sanjaya itu, tempatnya ialah Gunung Wukir di desa Canggal. Di sini terdapat sisa-sisa sebuah candi induk dengan 3 candi perwara di depannya. Di dalam candi induk itu tidak lagi terdapat lingganya, yang ada ialah sebuah yoni besar sekali, dan umumnya yoni itu merupakan landasan bagi sebuah lingga. Di halaman candi inilah prasasti Canggal itu ditemukan.
Kecuali prasasti Canggal tidak ada prasasti lain dari Sanjaya. Yang terdapat sesudah Sanjaya itu adalah prasasti-prasasti dari keluarga raja lain, yaitu Sailendrawamsa. Ternyata antara keluarga Sanjaya dengan Sailendra ada kerjasama yang erat dalam hal-hal tertentu. Hal ini pertama kali nyata dari prasasti Kalasan. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pra-nagari dalam bahasa Sanskerta dan berangka tahun 778 Masehi. Isinya, ialah, bahwa para Guru sang raja 'mustika keluarga Sailendra' (Sailendrawamsatilaka) telah berhasil membujuk maharaja Tejahpurnapana Panangkarana untuk mendirikan bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta dalam kerajaan keluarga Sailendra. Kemudian Panangkarana itu menghadiahkan desa Kalasa kepada Sanggha. Bangunan yang didirikan ini adalah candi Kalasan di desa Kalasan di sebelah Timur Yogyakarta. Candi ini sekarang kosong, tetapi menilik singghasana serta biliknya maka arca tara yang dahulu bertahta di sini tentu besar sekali, dan sangat mungkin terbuat dari perunggu.
Raja Tejahpurna Panangkarana adalah Rakai Panangkaran, pengganti Sanjaya, sebagaimana tersurat dalam prasasti Balitung dari tahun 907. Prasasti ini bahkan memuat daftar lengkap dari raja-raja yang mendahului Balitung; bunyinya sebagai berikut: "rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu, rakai mataram sang ratu Sanjaya, sri maharaja rakai Panangkaran, sri maharaja rakai panunggalan, sri maharaja rakai Warak, sri maharaja rakai Gunung, sri maharaja rakai Pikatan, sri maharaja rakai Kayuwangi, sri maharaja rakai Watuhumalang", dan kemudian nama raja yang memerintahkan membuat prasasti, yaitu sri maharaja rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambhu.
Dengan demikian tampak bahwa pemerintahan Sanjayawamsa, berlangsung terus disamping pemerintahan Sailendrawamsa. Keluarga Sanjaya beragama Hindu memuja Siwa dan keluarga Sailendra beragama Buddha aliran Mahayana yang sudah condong kepada Tantravana. Menilik kenyataan bahwa candi-candi dan abad ke-8 dan 9 yang ada di Jawa Tengah Utara bersitat Hindu, sedangkan yang ada di Jawa Tengah Selatan bersifat Buddha, maka daerah kekuasaan keluarga Sanjaya ialah bagian Utara Jawa Tengah dan daerah kekuasaan Sailendra adalah bagian Selatan Jawa Tengah.
Pada pertengahan abad ke-9 kedua wamsa itu bersatu dengan perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, raja putri dari keluarga Sailendra. Rakai Pikatan sebagaimana diketahui telah mendirikan berbagai bangunan suci Hindu. Dan kan kelompok candi Roro Jonggrang atau candi Prambanan sangat mungkin berdirinya atas usaha maharaja ini. Dalam sebuah prasasti dan tahun 856 yang dikeluarkan oleh Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi, segera setelah Rakai Pikatan turun dari tahta, terdapat uraian tentang kelompok candi agama Siwa yang sesuai benar dengan keadaan kelompok Candi Prambanan. Dan nama Pikatan memang tergores juga pada salah satu candi kelompok tersebut.
Saksi Sejarah
Demikian selintas sejarah terbangunnya candi megah Prambanan. Ketika gempa yang terjadi Sabtu, pukul 5.53.58 WIB, yang juga bertepatan dengan tilem atau bulan mati, ketika bumi, bulan, dan matahari dalam posisi tertentu, maka candi ini pun menjadi saksi peristiwa tersebut. Entah berapa kali candi ini digoyang gempa, juga diguyur lahar gunung merapi, namun ternyata kita masih dapat menyaksikan kemegahan candi ini.
Candi ini juga menjadi saksi bersatunya Hindu Buddha di Indonesia, yang jauh kemudian disuratkan dengan susunan kata Bhinneka Tunggal Ika oleh Mpu Tantular. Bahwa candi Prambanan adalah candi Hindu, namun candi Borobudur adalah candi Buddha. Candi Borobudur juga disebut juga sebagai Kamulan di Bhumisambhara diduga didirikan oleh Pramorawardhani yang menjadi istri dari Rakai Pikatan, pendiri candi Prambanan.
Candi Prambanan yang ada di hadapan kita juga menjadi saksi runtuhnya kerajaan Hindu di Jawa Tengah. Namun demikian, candi ini bagaikan menegaskan kepada kita betapa tingginya peradaban bangsa Indonesia di masa lalu. Candi ini bercerita banyak kepada kita tentang kebudayaan Hindu, tentang kesenian Hindu, sekalian membuka hamparan tantangan yang besar bagi umat Hindu Indonesia untuk membangun peradaban Hindu di negeri yang bermottokan Bhinneka Tunggal Ika.
Saat ini, candi ini bagaikan memanggil kita untuk merenungkan berbagai nilai yang tahan jaman untuk kita tanamkan dan mekarkan di masa mendatang.
Seorang Mpu Yogiswara lewat karyanya yang sangat terkenal Kakawin Ramayana yang juga ditulis di Jawa Tengah ada menyuratkan bait-bait kakawin yang boleh jadi merekam keberadaan candi Prambanan : Candi yang terbuat dari batu kristal tak ubahnya gunung Mandhara/adapun halamannya seperti lautan susu permata mutiara bagaikan buihnya airnya yang amat sejuk seperti air kehidupan yang sedang keluar.Di halaman candi ada aling-aling. Banyak sekali candi-candi kecil berjajar yang terbuat dari permata hitam diukir tidak ubahnya batu karang melingkar mengelilingi. Ada juga patung penjaga pintu, terbuat dari permata candrakanta terukir indah matanya bulat mendelik melotot tak ubahnya sang Kalarahu ingin ikut merebutkan air kehidupan. Racun kalakuta bagaikan lari. Penjaga pintunya juga menjadi takut terhadap Bhatara Siwa yang menumpas segala kejahatan selalu berstana di dalam candi.
Kakawin Ramayana adalah karya sastra Jawa Kuno tertua dan terbesar. Candi Prambanan sebenarnya dihias oleh cerita Ramayana tersebut, yang dipahatkan menjadi relief yang sangat indah. Dibandingkan dengan sumbernya yang ada di India, karya sastra yang ditulis di Jawa ini sesungguhnya lebih menekankan kepada ajaran kepemimpinan atau nitisastra. Di dalam kekawin inilah kita mendapatkan konsep Asia Brata, ajaran kepemimpinan yang terkenal itu. Ketika baru-baru ini Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono datang ke candi ini, tentu beliau tidak saja memperhatikan kerusakan candi itu dan memerintahkan untuk memperbaikinya kembali, namun kiranya beliau juga merenungkan makna yang terdapat di dalam ajaran kepemimpinan yang dipahatkan di dinding-dinding candi.
Sesungguhnya kita semua perlu belajar dari masa lampau untuk melihat masa kini dan masa datang. Terlebih lagi masa lampau mewariskan sesuatu yang tahan jaman, ajaran tentang hakikat kehidupan, hakikat keindahan sampai pada hakikat kekuasaan.
Source: Ki Dharma Tanaya l Warta Hindu Dharma NO. 473 Juni 2006