Di situs-kota Trowulan, celengan, yaitu tembikar untuk mewadahi mata uang logam, dimana ada sebuah lubang pada bagian badannya untuk memasukkan mata uang. Bentuk dan ukuran celengan bervariasi. Ada yang berbentuk hewan terutama babi atau celeng (bahasa Jawa, akar kata 'celengan'), domba, kura-kura, kuda dan gajah. Ada pula yang berbentuk manusia baik figur anak kecil, dan mungkin juga orang dewasa, karena banyak ditemukan kepada manusia dari terakota yang lepas dari bagian tubuhnya.
Bentuk celengan yang banyak ditemukan di Trowulan berbentuk bulat (ball-shape) dengan variasi tinggi antara 3-30 cm dan lebar antara 10-33 cm. Badan celengan dihias dengan motif garis-garis yang melingkari badannya dan hiasan ombak di antara garis-garis itu. Lubang untuk memasukkan mata uang terletak di bagian atas pada pusat lingkaran atau di dalam suatu ekskavasi di daerah Segaran ditemukan sebuah celengan pecah yang di bagian dasarnya terdapat mata uang logam Cina dan dua celengan berukuran relatif besar dengan beberapa mata uang kepeng di sekitarnya. Kedua celengan itu ditemukan di salah satu ruangan sisa bangunan rumah tinggal. Sayangnya belum pernah ditemukan celengan dalam bentuk utuh dengan mata uang di dalamnya. Karena itu dugaan yang ada adalah bahwa temuan celengan yang pecah merupakan celengan yang sudah digunakan, sedangkan celengan yang utuh tanpa mata uang di dalamnya adalah celengan yang belum sempat digunakan atau barang dagangan yang belum terjual.
Banyaknya temuan celengan di Trowulan menunjukkan bahwa tradisi menabung telah berlangsung pada masa Majapahit. Jenis mata uang yang ditabung kemungkinan besar adalah kepeng atau logam, didasarkan pada temuan-temuan uang kepeng di dekat celengan dan perbandingan antara ukuran mata uang dengan ukuran lubang pada celengan untuk memasukkan uang. Jenis mata uang logam yang paling banyak ditemukan di Trowulan berasal dari Dinasti Song (abad X - XIII). Ada pula mata uang dari Dinasti Tang, Ming, dan Qing.
Dengan ditemukannya celengan, tergambar bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Majapahit cukup baik dimana mata uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar bisnis, tetapi juga sebagai alat penyimpan nilai. Tradisi menabung mencerminkan kepercayaan masyarakat pada kondisi ekonomi yang cukup stabil dalam struktur masyarakat yang relatif kompleks. Dalam konteks Majapahit, tingkat kompleksitas masyarakatnya dilihat dari intensitas kontak hubungan ekonomi dengan bangsa lain. Sumber-sumber sejarah lokal dan internasional menyebut negara-negara yang pernah mengadakan hubungan dengan kerajaan Majapahit antara lain India, Kamboja, Cina, Vietnam, Champa, Persia, Arab, Gujarat, dan Melayu.
Source: Supratikno Rahardjo l Warta Hindu Dharma NO. 489 September 2007