Charakter Building dengan Ajaran Tri Kaya Parisudha

Manusia sebagai homo sapiens memiliki kecerdasan yang diharapkan mampu bermanfaat dalam kehidupannya. Kecerdasan tersebut bukan dipergunakan untuk merusak, menyakiti dan membodohi orang lain, tetapi kecerdasan tersebut memiliki manfaat positif secara pribadi maupun sosial. Maka dari itu kecerdasan yang dimiliki sesungguhnya tergantung dari karakter orang itu sendiri. Artinya bila manusia mampu membentuk kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dengan baik, maka karakter yang dimiliki adalah karakter yang luhur dan utama.

Poerwadarminta menyatakan bahwa karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan yang membedakan seseorang dari pada yang lainnya. Jadi karakter yang ada dalam diri manusia mampu membedakannya dengan manusia yang lain melalui tabiat, watak, sifat-sifat yang dimiliki sebagai gambaran dari jati dirinya. Selanjutnya menurut Simon Philips disebutkan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan.

Dalam perkembangan zaman yang semakin modern melalui pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) disebutkan bahwa telah terjadi degradasi moral dan menurunnya karakter generasi muda. Aryadharma juga menyatakan bahwa kepesatan kemajuan IPTEK tampaknya justru lebih banyak membawa dampak negatif bagi manusia dan menimbulkan kemerosotan moral manusia. Ditambah lagi dengan perkembangan informasi melalui media sosial (medsos), maka informasi yang masuk sulit untuk dibendung apalagi informasi yang memiliki muatan merusak, mempengaruhi, menghasut, mengadu domba dalam bentuk provokasi maupun informasi yang berbau porno. Permasalahan inilah menjadi tantangan untuk membentuk kembali karakter generasi muda agar mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi segala tantangan yang ada.

Perlu adanya penanaman pemahaman ajaran agama dan juga filter yang kuat. Hal ini diharapkan mampu membangun dan membentuk karakter (Character Building) yang kuat dengan menumbuhkan kemampuan berpikir yang baik, pengendalian dalam bertutur kata yang baik serta membiasakan perilaku atau perbuatan yang baik dalam segala aktifitas kehidupan.

Mengenai penerapan hal tersebut, dalam ajaran agama Hindu disebut dengan Tri Kaya Parisudha. Kata Tri Kaya Parisudha berasal dari kata Tri yang berarti tiga, kata Kaya yang berarti perilaku atau perbuatan dan kata Parisudha yang berarti suci atau baik. Sehingga Tri Kaya Parisudha merupakan tiga perilaku atau perbuatan yang baik. Bagiannya adalah Manacika Parisudha yang berarti berpikir yang baik, Wacika Parisudha yang berarti berkata yang baik, dan Kayika Parisudha yang berarti berbuat yang baik.

Penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha dalam membangun karakter (Character Building) dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaannya dimulai dari membangun kemampuan untuk selalu berpikir yang baik (Manacika Parisudha). Dalam Sarasamuccaya sloka 80 disebutkan bahwa pikiran adalah sumbernya nafsu yang menggerakkan perbuatan baik dan buruk, maka pikiran yang harus dikekang dan dikendalikan. Bila pikiran mampu dikendalikan dan dikekang untuk selalu berpikir positif (positif tinking), maka segala kebaikan akan selalu datang. Bahkan disebutkan bahwa riastu ri angen-angen mapala juga, yang artinya bahwa walaupun masih dalam pikiran, maka semua itu akan mendapatkan hasil. Hal ini berkaitan dengan konsep karmaphala yang berhubungan dengan hukum sebab akibat. Dengan manusia mampu mengendalikan dan mengekang pikirannya serta belajar untuk selalu berpikir positif dalam segala hal, maka pasti hasil yang terbaik diperoleh. Sehingga pikiran yang baik (Manacika Parisudha) menjadi dasar dari pembentukan karakter yang luhur dan utama.

Dalam berbicara pun manusia diharapkan selalu bertutur kata yang lembut dan baik. Hal ini berkaitan dengan Wacika Parisudha, yaitu berkata-kata yang baik. Dengan tutur kata yang baik, maka semua orang akan senang mendengarnya. Bahkan sebaliknya, bila tutur yang diucapkan tidak baik dapat menimbulkan perasaan sakit (sakit hati) yang dapat diingat selamanya, karena lidah lebih tajam dari pedang.

Berkaitan dengan perkataan maka dalam Kakawin Niti Sastra V.3 disebutkan bahwa: Wasita nimitanta manemu laksmi (Perkataan menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan). Wasita nimitanta pati kapangguh (Perkataan menyebabkan seseorang menemui kematian). Wasita nimitanta manemu duka (Perkataan menyebabkan seseorang mendapatkan penderitaan). Wasita nimitanta manemu mitra (Perkataan menyebabkan seseorang mendapatkan sahabat). Sesungguhnya perkataan menjadi asal dari suka dan duka yang diterima. Maka dari itu manusia diharapkan mampu menjaga dan mengendalikan setiap ucapannya.

Dalam Sarasamuccaya sloka 124 disebutkan bahwa orang yang arif bijaksana (berkarakter luhur) berpegang teguh pada kebenaran tidak mencaci orang, tidak memfitnah, tidak mencela, lagi pula tidak berkata dusta (berbohong) melainkan selalu berusaha mengendalikan ucapannya dan menjaga orang lain agar tidak terluka karenanya. Dengan selalu bertutur kata yang baik (Wacika Parisudha) dapat membangun karakter yang baik. Kata-kata yang sopan dan menjaga perasaan orang lain sesungguhnya cerminan dari karakter yang luhur dan utama.

Hal yang tidak kalah penting adalah perilaku atau perbuatan yang baik (Kayika Parisudha) dalam setiap aktifitas. Dengan selalu berbuat yang baik, maka kebahagiaan yang selalu diperoleh. Dalam Sarasamuccaya sloka 21 disebutkan bahwa orang yang selalu melakukan perbuatan baik, kelahirannya dari sorga dan kelak menjadi orang yang rupawan, gunawan, muliawan, hartawan dan berkekuasaan yang merupakan buah dari hasil perbuatan baik. Mengendalikan diri untuk selalu berbuat baik mampu membangun karakter diri yang berkualitas. Artinya dengan selalu berbuat baik, maka seseorang memiliki perilaku yang luhur dan utama. Perilaku atau perbuatan baik merupakan cerminan dari karakter yang mulia. Maka dari itu dengan selalu berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari sesungguhnya membangun karakter (Character Building) yang luhur dan utama.

Membangun karakter (Character Building) melalui ajaran Tri Kaya Parisudha dilakukan dengan membiasakan diri untuk berpikir yang baik (Manacika Parisudha), berbicara yang baik (Wacika Parisudha) dan berbuat yang baik (Kayika Parisudha). Bila manusia senantiasa mampu mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya dengan baik, maka manusia itu memiliki karakter yang luhur dan utama. Tri Kaya Parisudha menjadi pondasi dari terwujudnya karakter yang berkualitas dalam diri manusia. Penerapan dari Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan dan menumbuhkan kesadaran diri untuk melaksanakan susila (tingkah laku yang baik). Bila dari pikiran, perkataan dan perbuatan selalu dikendalikan ke arah yang baik, maka akan tercipta manusia yang berkarakter luhur (sadhu gunawan). Inilah wujud dari moralitas manusia yang berkarakter luhur dan utama untuk mewujudkan jagadhita dan moksa.

Oleh: I Nyoman Agus Sudipta, guru di SMK Negeri 1 Abang Kabupaten Karangasem
Source: Majalah Raditya, Edisi 234, Januari 2017