Dewi Saraswati Dalam Kesusastraan Weda [2]

(Sebelumnya)

Ekacetat Sarasvati nadinam suciryati giribhya a samudrat (Rg-Weda7.95.2)

[Sarasvati saja yang memiliki vitalitas di antara sungai-sungai dan ia yang pal¬ing suci mengalir dari gunung-gunung menuju laut].

Imam me gange yamune sarasvati Satudri stomam Sacata parushnya Asikanya marudvrdhe citastayarjikkiye Srnutdya Sushomaya (Rg-Weda 10.75.5)

[Oh Gangga, Yamuna,Sarasvati, Satudri dengan parshi, Marud vidha dengan Asikini; Arjikiya dengan Visita da Sushnoma mendengar doa ini].

Ayat sakam yasaso vavansah sudhara
sarasvati saptathi sindhumata
Yah sushvayanta sudughah sudhara
abhisvena payasa pipyanah (Rg-Weda 7.36.6)

[Mudah-mudahan (sungai) ketujuh, Sarasvati, ibu sungai Sindhu dan sungai-sungai yang mengalir deras dan menyuburkan memberikan makanan berlimpah, dan memberikan makanan (kepada orang-orang) dengan air mereka, datang pada suatu saat bersama-sama].

Saraswati sebagai Sungai

Dalam tradisi Hindu di India Saraswati utamanya dipandang pertama sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan kedua sebagai sungai suci. Yaska dan karyanya, Nirukta mengatakan bahwa terdapat dua makna kata 'Saraswati', yaitu sebagai sebuah 'sungai' dan seorang 'dewi' "Saraswati iti etasya nadi had dewatabchha nigama bhavanti". Di dalam sumber lain, Rigbhasya oleh Sayana dinyatakan bahwa "Dvididha hi Sarasvati vigrahvat devatu nadirupa cha" 'Saraswati' bermakna 'danau yang berlimpah' (saras). Di dalam kitab suci Rg-Weda juga ditemukan makna yang sama. Dua makna inilah yang hingga saat ini dipegang oleh baik oleh sarjana maupun tradisi di India. Namun demikian secara lebih cermat Saraswati dalam arus perkembangan intelektual para rsi zaman silam.

Airi dengan mengutip beberapa sukta di dalam Rg-Weda menguraikan bahwa di dalam doa-doa pujian para rsi penyair mengagumkan Saraswati, dewi sungai sebagai 'dibuat dari kemahaluasan oleh (dewa) Vibhvan' 'mempunyai samudra surgawi sebagai ibunya', 'turun ke dunia (di bumi) dari surga', 'meresapi ketiga dunia' 'hadir di surga dan dunia', 'mempunyai tatanan kedewataan yang lebih tinggi di antara dewi-dewi sungai lainnya' dan 'kepada siapa Vesistha membuka kunci kedua pintu rta'.

Mengamati pengungkapan di atas Saraswati lebih cendrung dipandang memiliki karakter surgawi dan pada duniawi. Atau dengan kata lain, Saraswati merupakan air surgawi bukan sungai di bumi. Pendapat ini sejalan denga pandangan umum bahwa Saraswati merupakan sebuah mitos yang hanya ada di dalam khayalan.

Walaupun Saraswati dipandang sebagai sungai surgawi bagi rsi-rsi yang lebih tua, namun refleksinya aapat dilihat di dalam Saraswati di dalam pandangan rsi-rsi yang lebih muda. Ia dipikirkan sebagai refleksi dari dalam bayangan pemujannya. Ia dibayangkan eksis di swatu tempat yang indah dan membahagiakan. Pandangan seperti ini memberikan inspirasi dan dorongan kepada para rsi yang lebih muda sehingga mereka merasa bergantung dengan dia.

Kemudian Saraswati diberikan sifat-sifat kedewataan sehingga pemaknaan Saraswati sebagai sungai mendapat perluasn menjadi kekuatan kedewataan, Dewi Saraswati. Walaupun mempunyai pengaruh kepada kehidupan di bumi sebagai sungai di bumi, karakter kede-wataannya sebagai sungai surgawi masih tetap ada. Adalah alamiah dew a yang bwrada di surga karena di agungkan dan dipuja oleh pemujanya di bumi dipandang meresapi ketiga dunia dan mempunyai hubungan dengan surga.

B.R. Sharma dalam Airi lebih lanjut menambahkan bahwa ungkapan 'panca-jata vardhayanti" berkaitan dengan Saraswati tidak berarti membuktikan karakter duniawi. Dengan memegang bahwa panca-jatah atau panca-jana sebagai makhluk-makhluk surgawi kita bisa menambahkan bahwa penggambaran seperti itu juga sangat sesuai di dalam kontek pengagungan Saraswati. Pemuja memahami dewi sungai adalah dewata yang memberikan pengaruh tidak hanya bagi orang-orang di bumi tetapi juga orang-orang di surga.

Di dalam Rg-Weda air surgawi dan duniawi sesungguhnya tidak dipisahkan secara tegas masing-masing salinr berhubungan. Air surgawi turun kebumi dalam bentuk hujan dan mengalir disungai menuju ke laut semenara air dibumi berasal dari air surga. Jadi, jika Saraswati mempunyai kaitan dengan air surgawi atau makhluk surga lainnya, ini tidak berarti bahwa ia kehilangan karakter surgawinya.

Saraswati sebagai Dewi

Pandangan sarjana selama ini adalah orang-orang di zaman Weda bukan memuja sungai tetapi dewata yang berkuasa atas sungai tersebut pendapat ini berdasarkan asumsi bahwa orang-orang Weda tidak memuja objek fenomenal tetapi transfenomenal yaitu memuja kekuatan yang ada di balik fenomena alam. Mereka menganggap kehadiran kekuatan kedewataan (adhisthatr dewata) di dalam objek-objek atau benda-benda mati seperti batu, tumbuhan dan lain-lain di dalam rangka memberikan penampilan yang lebih manusiawi bagi agama Weda.

Fenomena-fenomena alam seperti matahari, sungai, hutan, badai, hujan, guntur, musim, semi, laut dan sebagainya diperlakukan sebagai objek pemujaan di atas mana ada kekuatan supernatural yang tidak bisa dilihat oleh mata, namun mereka yakini sehingga ada sikap dan perilaku untuk menghormati dan mengagungkan kekuatan-kekuatan itu. Adalah lebih alamiah dan lebih meyakinkan ketika kita memandang pemuja-pemuja di zaman Weda memuja dan mengagungkan objek-objek seperti itu di dalam hubungan dengan ritual. Agama Weda, terutama pada zaman Mantra dan Brahmana merupakan praktek religi yang bekiblat ke luar, ke alam semesta. (Selanjutnya)

Oleh: I BP. Suamba
Source: Warta Hindu Dharma NO. 521 Mei 2010