Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru. Dalam kehidupan ini peran dan fungsi guru sangat pent-ing. Tanpa adanya guru, maka manusia masih terbelenggu dalam kehidupan yang diselimuti kegelapan (avidya). Disinilah guru memiliki peran dan fungsi strategis untuk me-lepaskan manusia dari keadaan yang paling menyengsarakan, yaitu kebodohan menuju pada kehidupan yang berpengetahuan (vidya). Dalam perkembangannya, ternyata peran dan fungsi guru dalam kehidupan sudah mulai terabaikan. Artinya rasa hormat, terima kasih dan upaya untuk menghargai jasa-jasa guru sudah semakin berkurang. Bahkan tindakan yang tidak terpuji kepada guru semakin meningkat. Seperti kasus pemukulan terhadap guru, penghinaan dan pelecehan. Bila hal ini terus terjadi, maka inilah pertanda bahwa degradasi moral dalam kehidupan ini semakin meningkat.
Dalam ajaran agama Hindu semestinya manusia itu selalu hormat dan sujud bhakti kepada guru. Ada empat guru utama dan mulia yang perlu dihormati dalam ajaran Catur Guru, yaitu: Guru Rupaka (orangtua), Guru Pengajian (Guru di Sekolah), Guru Wisesa (Pemerintah), dan Guru Swadyaya (Ida SangHyang Widhi).
Berbhakti dengan Guru Rupaka adalah kewajiban setiap anak, karena Guru Rupaka merupakan perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang secara nyata di dunia ini. Guru Rupaka mengandung, melahirkan, memelihara dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang, maka kewajiban sang anak adalah berbhakti kepada orang tua. Jalan berbhakti dapat dilakukan dengan selalu mematuhi segala nasihatnya, hormat, tidak berkata kasar, menyayangi dengan penuh kasih sayang.
Dalam Kitab Sarasamuccaya Sloka 241, disebutkan bahwa: Setia dan bhakti terhadap orang tua, membuat orang tua itu sangat senang dan puas hatinya, pahalanya baik sekarang ini maupun kemudian, tetap mendapat pujian tentang kebajikan. Seorang anak yang senantiasa berbhakti dan menyayangi orang tuanya mendapatkan kebahagiaan dalam hidup, serta segala jalan yang ditempuh selalu mendapatkan restu dan anugerah yang berlimpah. Dapat dilihat dari kisah Sang Pandawa yang sangat berbhakti dengan orang tuanya yaitu Dewi Kunti. Apa yang diucapkan oleh orang tuanya selalu dilaksanakan tanpa ada perasaan terpaksa dan mengeluh, karena didasari dengan rasa bhakti yang tulus ikhlas, sehingga segala tujuan yang ingin dicapai Sang Pandawa selalu terwujud dan mendapatkan restu. Kisah bhakti seorang anak juga ditunjukkan oleh Sang Rama yang dengan tulus ikhlas melaksanakan perintah ayahnya untuk mengembara di tengah hutan, sehingga Sang Rama mendapat anugerah perlindungan dan kemasyuran. Itulah contoh dari bhakti seorang anak kepada orang tuanya.
Berbhakti kepada Guru Pengajian merupakan kewajiban seorang siswa dalam proses aguron-guron. Seorang anak dituntun dan diajarkan ilmu pengetahuan suci, dibina dan dididik agar memiliki pengetahuan sebagai bekal menjalani hidup dalam melaksanakan Brahmacari Asrama. Seorang anak dilahirkan secara spiritual oleh Guru Pengajian melalui pengetahuan suci, sehingga segala kegelapan (avidya) yang dimiliki mampu dihilangkan dengan ajaran suci yang cemerlang (vidya). Dalam Kitab Sarasamuccaya Sloka 237, disebutkan bahwa yang patut dilaksanakan terhadap guru adalah sebagai berikut: jangan menjawab secara berolok-olok kepada guru, jika beliau gusar, berang hatinya, sabarkan beliau, hiburlah usahakanlah segala yang menyenangkan beliau.
Seorang siswa yang berbhakti dengan Guru Pengajian mendapatkan anugerah dan jalan yang terbaik dalam hidupnya. Kisah tentang bhakti seorang siswa dengan Guru Pengajian dapat dilihat dari kisah Sang Bima yang tanpa ragu melaksanakan perintah gurunya, yaitu Bhagawan Drona untuk pergi ke tengah samudra mencari Tirtha Amrta. Walaupun penuh dengan tantangan, cobaan dan bahaya yang mengancam, tetapi Sang Bima mampu mendapatkan anugerah karena rasa bhakti terhadap gurunya.
Begitu juga tentang kisah bhakti seorang siswa dengan gurunya dapat dilihat pada kisah Bhagawan Dhomya yang memiliki 3 (tiga) orang siswa yang bernama Sang Arunika, Sang Utamanyu, dan Sang Weda. Ketiga siswanya diuji melalui tugas yang diberikan oleh Bhagawan Dhomya. Sang Arunika ditugaskan untuk mengerjakan sawah, Sang Utamanyu ditugaskan memelihara lembu dan Sang Weda ditugaskan bekerja di dapur menyiapkan makanan untuk persembahan dan sedekah. Dengan penuh rasa bhakti dan tulus ikhlas ketiga muridnya melaksanakan tugas yang diberikan, maka ketiga muridnya itu mendapatkan anugerah yang luarbiasa dari gurunya. Itulah wujud bhakti seorang siswa kepada gurunya yang digambarkan pula oleh Panca Pandawa yang sebelum berperang melawan Korawa memohon anugerah kepada gurunya, yaitu Bhagawan Drona, sehingga Panca Pandawa memenangkan perang.
Berbhakti dengan Guru Wisesa (pemerintah) merupakan kewajiban masyarakat, karena sudah diberikan perlindungan, rasa aman dan juga kesejahteraan dalam hidup. Seorang pemimpin harus mampu mengayomi masyarakatnya dan menjadi pelindung bagi rakyatnya, tetapi apabila ada pemimpin yang tidak melaksanakan kewajibannya menjadi tercela dan hilang wibawanya. Dalam Kitab Ramayana, Sarga XXIV Sloka 61, disebutkan bahwa keharusan wibawa pelindung Negara yang akan dipuji-puji, tetap di bibir rakyat dan jadi kenang-kenangan mereka. Demikianlah keharusan dan kewajiban seorang raja perwira, tetapi jika lari dari medan perang, nistalah, hinalah raja demikian. Itulah kewajiban seorang pemimpin bagi rakyatnya, dan kewajiban rakyat terhadap pemimpin adalah mematuhi segala peraturan (hukum dan undang-undang) yang ditetapkan sebagai wujud bhakti terhadap Guru Wisesa. Rakyat yang menghormati dan menjunjung tinggi wibawa pemimpinnya mendapatkan hidup yang bahagia, aman, nyaman, damai dan sejahtera.
Kisah tentang bhakti terhadap Guru Wisesa adalah contoh perbuatan Kumbakama yang merupakan adik dari Rahwana yang rela bekorban demi pemimpin, negara dan tanah airnya, walaupun diketahui bahwa tindakan Rahwana salah. Kisah yang sama dari Bhagawan Drona dan Bhagawan Bisma yang dengan penuh rasa bhakti dan hormat kepada pemimpin (raja) serta bhakti terhadap Negara (Dharma Negara). Bhakti yang mereka lakukan sungguh mulia, sehingga mendapat berkah dan anugerah yang luar biasa dan nama mereka tetap harum sepanjang zaman. Itulah bentuk bhakti kepada Guru Wisesa sebagai pemimpin yang perlu kita hormati dan patuhi, tetapi sepatutnya pemimpin mampu memberikan teladan yang mulia bagi rakyatnya.
Berbhakti dengan Guru Swadyaya (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dilakukan dengan selalu memuja kebesaran dan kemahakuasaanNya, bersyukur dan berbuat sesuai dengan ajaranNya. Dalam Kitab Bhagawad Gita Bab XII Sloka 2 disebutkan: Mereka yang memusatkan pikirannya padaKu, dengan senantiasa mengendalikannya dan dengan penuh kepercayaan, merekalah yang Aku anggap terbaik dalam melaksanakan yoga.
Bila kita mampu berbhakti dengan tulus ikhlas kepada Guru Swadyaya (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), maka segala yang diharapkan dan diinginkan dapat tercapai dengan baik, seperti Sang Arjuna yang dengan sabar dan penuh pengendalian (tapa dan brata) memusatkan pikiran dan berbhakti kepada Dewa Siwa, maka Sang Arjuna memperoleh anugerah Panah Pasupati, karena mampu mengalahkan sifat loba yang ada dalam dirinya. Begitu juga Sang Arjuna dengan penuh ketulusan berbhakti kepada Sang Krsna. Arjuna melaksanakan segala nasihat, bimbingan dan tuntunan, sehingga mendapatkan perlindungan dan kemenangan saat Perang Bharata Yudha. Itulah kewajiban manusia berbhakti kepada Guru Swadyaya (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) untuk memperoleh anugerah dan perlindungan-Nya.
Apabila seseorang dalam hidupnya tidak menerapkan ajaran Guru Bhakti, maka hidupnya diliputi dengan penderitaan, kesengsaraan, kesedihan dan selalu dirundung dengan musibah serta malapetaka. Maka dari itu untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hidup, hal yang mesti dilakukan adalah berbhakti kepada para guru. Manusia yang selalu menanamkan rasa bhakti kepada para guru adalah mereka yang selalu terberkati, terlindungi dan mendapatkan anugerah yang luar biasa. Guru sesungguhnya pelepas kegelapan dalam hidup yang mampu menuntun ke arah cahaya kehidupan yang bahagia. Karena ajaran guru bhakti merupakan penuntun untuk mampu meraih dan mewujudkan kebahagiaan yang utama.
Oleh: I Nyoman Agus Sudipta
Source: Majalah Raditya, Edisi 233, Desember 2016