Hari Raya Galungan (Kajian Filosofis dan Teologi)

Dhanna eva piano nanyah svargam sambhivanchatam,
Sa ca naurpvanijastatam jaladheh paramaicchatah
Ikang dhartna ngaranya, henuning mara ring swarga ika kadi gataningparahu,
an henuning banyaga netasing tasik

Yang disebut dharma, adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga;
sebagai halnya perahu, sesungguhnya adalah merupakan alat bagi orang dagang untuk mengarungi lautan
(Kajeng, dkk.,1999:16)

Menyimak kutipan sloka suci pustaka Sarasamuscaya di atas, maka ada beberapa kata kunci sebagai renungan spiritual bagi umat Hindu. Kata pilosofi yang luhur yakni dharma, svarga, parahu, dan banyaga. Apa makna dharma? kata dharma artinya hukum, kebiasaan, kealiman, kebajikan, aturan, kebenaran, tugas, keadilan, jasa, karakter, suatu keanehan, jiwa, dewa kematian, anak sulung dari pandawa (Surada, 2007 : 168-169). Kemudian kata svarga artinya sorga, alam dewa, kayangan. Sedangkan kata parahu artinya perahu atau sarana utama bagi nelayan yang mencari penghidupan di laut. Kata banyaga (bahasa kawi) yaitu dari kata sansekerta, yang berasal dari kata vanij atau vanija. Kata vanija yang artinya saudagar, pedagang, barang-barang dagangan.

Apa konteks dharma dalam kaitannya dengan perayaan Galungan? Disadari dengan tulus bahwa saat Galungan merupakan hari suci, hari mulia,dan hari subhadewasa untuk menegakkan kebenaran, aturan, kebajikan, dan berbakti ke hadapan Sang Hyang Dharma atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Saat Galungan segenap umat Hindu nindihin kepatutan, ngulati kanirmalan, nyegjegang sesana magama Hindu, tur nyujur karahayuan sekala niskala. Sederhananya dapat dikatakan bahwa saat Galungan segenap umat Hindu melakukan persembahan berbakti kepada Widhi sebagai asal dharma, melakukan upaya introspeksi, meningkatkan kesadaran diri dan kebersamaan, melakukan tapa, brata, yoga, miwah samadhi, ngutamayang penyamabrayan sane bagya miwah santih, dan prilaku terhormat yang dapat diteladani oleh diri, orang lain, dan masyarakat.

Hidup yang singkat di alam semesta ini mesti dihargai mahal. Mengapa demikian? Oleh karena dalam filsafat banyaga diatas telah diajarkan kepada umat manusia agar patuh kepada dharma sebagai aturan tertinggi. Sekalipun tidak boleh dilanggar, jika terjadi penyimpangan, maka terjadilah bhaya atau hal yang menakutkan diri pelakunya dan orang lain. begitu juga dengan kedberadaan parahu atau sarana hidup menuju kemuliaan dan kerahayuan bersama, mesti digunakan sesuai dengan aturan berlaku. Bila ada aturan yang sifatnya wajib dipatuhi maka patuhilah aturan itu, guna dapat digunakannya parahu tersebut untuk sampai pada tujuan yang dicita-citakan bersama.

Antara filsafat banyaga dan filsafat parahu terjadi saling mengisi satu sama lainnya. Harapannya agar parahu tetap utuh dan bisa digunakan oleh si banyaga untuk menunaikan kewajiban sebagai pedagang yang mendambakan keuntungan setiap saat. Bagi banyaga tidak hanya berkewajiban untuk mera¬wat, memelihara, memperbaiki parahu tersebut agar tidak bocor, tidak patah, tidak lapuk dan juga agar parahu tidak tenggelam pada saat melaut di samudra luas. Apa yang mesti dilakukan oleh si banyaga? Hal utama bagi si banyaga adalah menegakkan dharma (aturan dan kebenaran), selalu berusaha mencapai hasil karya tertinggi dan berharga mulia (svarga), dan juga selalu merawat parahu dengan apik, sigap,telaten,rutin, dan penuh kesungguhan hati (lascarya).

Bagi umat Hindu sesuai filsafat banyaga diatas, bahwa tidak semata hanya untung saja dipikirkan, tidak juga hanya memikirkan rejeki tanpa mau berkorban dan tanpa melakukan persembahan. Si banyaga mesti juga mengindahkan nilai dharma yang mengaturnya begitu selanjutnya selalu ingat dengan sarana-prasarana hidup yang telah digunakan, memperhatikan lingkungan, memperhatikan sesama, selalu rungu dan peduli dengan situasi dan kondisi sekitar, agar selalu kondusif. Si banyaga tidak diharapkan egois, cuek, dan apatis dengan sekitar hidup sesamanya, antara satu mata rantai kehidupan dengan mata rantai kehidupan yang lainnya mesti menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi si banyaga tersebut. Intinya bahwa dharma hendaknya selalu ditegakkan menuju jaya dan wijaya.

Cita-cita suci dan utama menuju svarga hendaknya selalu difokuskan tanpa mengabaikan cita-cita suci juga bagi sadharma atau umat yang lainnya secara damai (santih). Begitu pula segala fasilitas hidup yang digunakan, dianataraya parahu atau pun yang lainnya sebagai medium hidup dan kehidupan jangan sampai terlupakan dalam keusangan dan kegersangan yang pada akhirnya menimbulkan kepincangan siklus hidup di jagat raya ini. Artinya bahwa antara dharma yang wajib ditegakkan, svarga yang wajib digapai, serta parahu yang mutlak dirawat dengan baik dan tulus, kesemuanya itu sebagai mata rantai pemaknaan hidup melalui perayaan Galungan kali ini, sehngga kehidupan di alam semesta atau di jagad raya ini menjadi akan terlahir banyaga-banyaga yang sejati penuh kualitas dan tanpa ada cacat papa pataka untuk menuju svarga, sebaliknya bukan untuk menuju naraka.

Rangkaian Perayaan Galungan

Perayaan Galungan mulai dari persiapan, puncak perayaan, dan akhir perayaanya mencakup beberapa hari suci berikut ini.

1. Saniscara Klizvon Wariga/Tumpek
Wariga/Tumpek Pengarah, Memuja Dewa Sangkara agar tumbuh-tumbuhan berbuah lebat. Sesapaannya : "Kaki-kaki tiang mapengarah malih 25 lemetig dina Galungan, mabuah apang nged, nged, nged,nged".

2. Soma Paing Warigadean, Pujawali batara Brahma, ngaturngaci ring paibon memohon keselamatan diri.

3. Weraspati Wage Sungsang-Sugihan Jawa Pasucian Buana Agung-Pamerastitian ring batara kabeh pakertinya angerebu ring sanggah muah ring pamerajan kunang, dulurin pangeretan muang pangeresikan batara saha puspa wangi, pesucian sarana galungan serta mensetanakan batara, dewa lan pitara.

4. Sukra Kliwon Sungsang/Sugihan Bali, Penyucian buana alit, diri sendiri dengan metirta gocara.

5. Redite Pahing Dungulan/Panyekeban, Anyekung fnana sudha nirmala, waspada menuju kesucian diri. Ditandai dengan nyekeb biyu, nyekeb tape, dan lain-lainnya.

6. Soma Pon Dungulan, Penyajaan pengawastawayaning sang ngamong yoga semedi (pengendalian diri).

7. Anggare Wage Dungulan/Pehampahan , melaksanakan abhuta yajna ring catus pata lan halaman rumah, serta memberi pasupati pada sarwa senjata. Jaya prakoseng perang.

8. Budha Kliwon Dungulan/Galungan, menghaturkan saji di semua tempat suci dan sarana suci. Memuja Dewa ,Bhatara, miwah Pitara. Saniscara Pon Dungulan /pemaridan guru/nyurud tumpeng guru dengan matirta gocara,

10. Redite Wage Kuningan/Ulihan, kembalinya para dewa dan pitara yang telah disuguhkan oleh-oleh berupa rempah-rempah, urutan, dan beras serta yang lainnya.

11. Soma Kliwon Kuningan/Pemacekan Agung, masegeh nyamleh dengan ayam semelulung untuk mengembalikan sang bhuta Galungan beserta pengikutnya. Saat ini sebagai tonggak pertengahan kegiatan Galungan, yang dimulai dari tumpek wariga-budha kliwon pegattwakan.

12. Bhuda Paing Kuningan, pujawalin bhatara wisnu, menghaturkan aci di tempat suci.

13. Sukra Wage /Penampahan Kuningan melenyapkan pikiran kotor menuju pada keheningan diri bersama segenap keluarga.

14. Saniscara kliwon Kuningan, turunnya dewa, pitara bersuci-suci serta mukti sajen-sajen.

15. Budha Kliwon Pahang/pegatwakan, akhir melakukan tapa, brata, yoga, samadhi, sebagai rangkaian Galungan, juga akhir dari pewarah bhatari Dhurga kepada Sri Jaya Kusuma menurut pustaka jayakusuma, juga pawarah Sang Hyang Suksma Licin kepada para pendeta menurut Sundarigama. Rincian rangkaian perayaan Galugan dapat disimak paparannya dalam WHD nomor 239,240,241 dan 242 oleh Ny. IGAG Mas Puta.

Makna Filosofi Galungan

Dalam agama Hindu bahwa umat Hindu melakukan pemujaan serta bakti "kepada Tuhan Yang Maha Esa pada saat hari suci atau hari raya. Dalam agama Hindu memiliki hari suci, seperti : Galungan , Kuningan, Siwaratri, Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, dan lain-lainnya. Jika di Bali perayaan suci suatu hari suci yang dilakukan setiap saat juga sering dinamai dengan rerahinan. Hari suci yang dirayakan sesuai dengan waktu yang elah ditentukan, lazimnya jatuh setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari sekali. Tetapi ada juga yang dirayakan setiap tahun sekali, seperti : setap Purnama Sasih Kapat, Purnama Sasih Kedasa, Tilem Sasih Kapitu, dan sebagainya. Jadi perayaan suci dalam agama Hindu ada yang berdasarkan pawukon dan berdasarkan sasih. Jika berdasarkan pawukon (perhitungan wuku dan wewaran), maka perayaan berdasarkan jumlah hari selam 210 hari atau enam blan Bali sesuai kalender Hindu. Jika perayaannya setiap setahun sekali, maka pelaksanaanya berdasar¬kan atas dasar ketentuan sasih, yang perayaannya diakukan setiap setahun sekali.

Setiap perayaan suci, bahwa umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta dengan semua manifestasi-Nya. Juga mengucapkan doa atau pengastawa/ pengastuti, agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan anugerah-Nya. Banyak cara yang bisa dilakukan, bisa dengan jalan kerja (karma). Ada pula dengan cara beryadnya (bhakti). Bagi para sedharma yang menekuni pengetahuan, maka bisa dilakukan dengan jnana. Sedangkan bagi yang menekuni dengan cara tapa, brata, yoga dan samadhi, maka cara itu adalah dengan melakukan yoga marga.

Jalan manapun yang ditempuh, pada akhirnya sampailah juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu tergantung ketulusan umat Hindu dalam memilih dan menempuh cara yang termulia. Manapun jalan itu, semuanya mulia. Tidak ada jalan atau cacat. Karena dasar untuk menuju-Nya adalah ketulusan, kesucian, keiklasan, serta kepercayaan/keyakinan. Tidak bisa seseorang melarang orang lain untuk memilih cara yang satu ini dan terbaik bagi dirinya, sedangkan bagi orang lain belum mampu melakukan dengan cara itu. Disinilah diperlukan pemahaman mengnai hakikat dari pada hari suci itu. Sekali lagi bahwa hari suci adalah hari terbaik bagi umat untuk mendekatkan diri dan menghubungkan diri dengan Sang Hyang pencipta. Oleh karena Sang Hyang Penciptalah yang paling berkuasa, baik secara sakala dan niskala.

Perayaan Galungan dan Kuningan misalnya, bahwa umat Hindu dalam melaksanakannya tentu selain dengan dasar kesucian, ketulusan, keiklasan, kepercayaan sebagaimana disebut di atas tadi, maka dalam implementasinya perayaan Galungan & Kuningan itu, tentu juga menyesuaikan dengan kondisi pribadi, kondisi banjai, kondisi desa, kondisi daerah, kondisi wilayah masing-masing. Dalam hal ini tentu disesuaikan dengan konsep desa, kala, patra. Misalnya, suatu daerah yang kondisi daerahnya kurang makmur/ gersang, sarana yajna serba terbatas, lantas apakah dia itu tidak ngengalung atau nguningang? dalam hal ini tentu tidak demikian adanya. Karena bagi umat Hindu tidak ada istilah Galungan buwung atau Kuningan buwung.

Inti artinya bagaimanapun terbatasnya fasilitas, sarana, kemampuan, keadaan ekonomi, bahwa aktivitas untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa serta rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak batal. Rasa bhakti itu tetap yang utama. Melakukan bhakti itu yang diperoritaskan. Oleh karena jalan bhakti itulah menuntun umat Hindu menuju kemenangan dan kebenaran yang sejati, yakni dapat mencapai santa jagat hita, yaitu dapat mencapai sukerta, memperoleh rahayu, serta mendapatkan anugrah dirgha ayu dan dirgha janma manusa.

Kesan Galungan, bukanlah untuk berpesta pora. Juga bukan untuk berhura-hura. Jika itu terjadi, maka keliru dalam memaknai Galungan. Pada saat Galungan umat Hindu memiliki kewajiban untuk: a), melakukan kendali diri; b). melakukan penyucian diri; c), melakukan usaha kbajikan; d) melakukan kegiatan mulia (punya karma); e), melakukan amal kebajikan (dhana Punya); f), melakukan pemujaan dan pengastawa/berdoa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; g), melakukan pengorbanan atau persembahan (yajna) yang tulus iklas; h) melakukan sirna krama atau menengok keluarga terdekat (dharma santih); i), melakukan pengampunan (ksamasvamam) terhadap sesama sahabat/keluarga (Pariparam) maupun terhadap semua kehidupan (sarvamprani/ sarva bhuta). (Selanjutnya)

Oleh: I Ketut Subagiasta
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010