Anabhyase visam sastram tyajed dharmam daya hinam vidya hina guru tyajet abhyasad dharyate vidya (Canakya Nitisastra)
Maksudnya: Ilmu pengetahuan (sastra) yang tidak diamalkan men¬jadi racun, tinggalkan agama (dharma) yang tidak mengajarkan kasih sayang, tinggalkan guru yang tidak berilmu pengetahuan. Pelihara ilmu pengetahuan (vidya) dengan cara mengamalkan dalam praktik kehidupan.
Perayaan Hari Raya Saraswati pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung adalah sebagai perayaan untuk mengingatkan umat Hindu agar selalu mencari ilmu pengetahuan sebagai sahabat yang paling utama dalam hidup ini. Artinya, terus belajar mencari ilmu pengetahuan selama hidup di dunia ini. Sedangkan hari Banyu Pinaruh pada hari Redite Paing Wuku Sinta untuk mengingatkan agar umat Hindu mendayagunakan ilmu pengetahuan suci itu sebagai dasar menyelenggarakan kehidupan.
Kutipan Sloka di atas diambil dari bait sloka Canakya Nitisastra, IV, 15, 16 dan V.8. Hal ini untuk mempertegas kembali agar umat Hindu dalam merayakan Hari Saraswati tidak berhenti pada kegiatan ntual semata. Perayaan itu untuk merevitalisasi kehidupan ini agar secara sadar dan terus-menerus selalu mencari ilmu pengetahuan Apalagi diingatkan oleh Kekawin Nitisastra 11.5 sbb.: "Norana mitra mangelumhane nara guna maruhur". Artinya, tidak ada sahabat yang lebih utama dari bersahabat dengan ilmu pengetahuan yang luhur (waraguna).
Setelah memiliki ilmu pengetahuan, wajib untuk diamalkan dalam praktik kehidupan. Umat Hindu di Bali diingatkan untuk mengamalkan ilmu pengetahuan itu dengan Banyu Pinaruh. Pada hari ini umat Hindu pergi mandi ke sumber-sumber air suci seperti ke sungai, ke mata air, ke laut dan lain-lainnya.
Mengapa ke mata air? Air itu lambang sumber kehidupan. Dalam Lontar Bhuwana Kosa VIII, 2-3 ada dinyatakan lima sumber penyucian yaitu patra (daun), jala (air), pertiwi (tanah), bhasma (abu suci) dan jnyana (ilmu pengetahuan suci). Dalam Lontar Bhuwana Kosa dinyatakan, penyucian yang paling utama adalah dengan jnyana itu atau utama sauca.
Hal yang Utama
Tujuan mencari ilmu pengetahuan itu adalah untuk mengantarkan dan menunjang kehidupan ini tahap demi tahap memperoleh kesucian. Hidup tanpa ilmu pengetahuan ibarat berjalan di hari yang gelap gulita. Karena itu, belajar untuk mencari ilmu pengetahuan suci itu adalah hal utama dalam hidup ini. Dalam Canakya Nitisastra ada disebutkan, tinggalkan guru yang tidak berilmu pengetahuan. Memang ada kalanya orang yang bekerja sebagai guru tidak terus-menerus mencari dmu pengetahuan. Umu yang dimiliki tak pernah bertambah dan berkembang.
Kewajiban guru itu memberi ilmu secara jujur, memberi penerangan jiwa dan menyesuaikan pemberian ilmu dan penerangan jiwa dengan keberadaan peserta didik. Kalau tiga kewajiban itu tidak dilakukan oleh seorang guru, memang seyogianya guru yang demikian ditinggalkan saja. Demikian juga agama, pada hakikatnya memberikan ilmu agama yang terdapat dalam kitab suci mengajarkan tentang kasih sayang. Tuhan itu adalah perwujudan kasih sayang (prema wahini).
Canakya Nitisastra juga menganjurkan agar orang meninggalkan agama yang tidak mengajarkan kasih saying pada sesama dan semua makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu, agama Hindu mengajarkan kasih pada lingkungan yang disebut asih. Kasih pada sesama manusia dalam wujud pengabdian disebut punya, sedangkan kasih pada Tuhan disebut bhakti. Asih, punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Pra Artha artinya, tujukanlah cara beragama pada tiga hal alam, sesama manusia dan pada Tuhan.
Sikap yang Benar
Memiliki ilmu pengetahuan juga ada bahayanya tanpa dilakukan dengan sikap yang benar. Dalam Kekawin Nitisastra IV.19 dinyatakan, ilmu pengetahuan yang disebut guna itu salah satu dari tujuh hal yang dapat membuat orang mabuk. Siapa yang tidak mabuk setelah memiliki ilmu pengetahuan, dialah yang disebut "Sang Mahardika" -orang yang merdeka.
Salah satu tujuan ilmu pengetahuan itu adalah mengantarkan umat manusia mencapai kemerdekaan. Ini artinya, kalau kita ingin bebas dan rasa takut dan kerniskinan, tingkatkanlah upaya kualitas dan kuantitas pendidikan dalam masyarakat baik formal, nonformal dan informal. Dalam Bhagawad Gita XII, 12 ada dinyatakan bahwa tradisi atau abhyasa itu harus dipelihara dan dilindungi dengan jnyana (ilmu pengetahuan suci). Jnyana itu harus diterapkan dengan dhyana. Artinya, ilmu pengetahuan itu diaplikasikan dengan fokus atau bersinergi sebagai wujud bhakti umat pada Tuhan. Karena, yang mengamalkan ilmu itu adalah manusia yang memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan atau berbagai keterbatasan, tentunya ada saja lebih dan kurangnya.
Aplikasi ilmu pengetahuan dengan kelebihan dan kekurangan¬nya itu hendaknya disikapi dengan tyaga-dengan ikhlas dan lapang dada. Dengan sikap demikian, maka akan dapat dicapai sanU anan-taram atau kedamaian yang lebih kekal.
Dalam perayaan Saraswati seyogianya berbagai tradisi beragama atau abhyasa yang ada dalam kehidupan beragama Hindu itu hendaknya dianalisa dengan ilmu pengetahuan. Dengan demikian berbagai tradisi beragama Hindu itu akan dinamis menuju harmoni. Oleh karenanya, dalam tradisi harus ada kreasi karena tradisi tanpa kreasi akan basi. Namun, kreasi tradisi itu harus tetap meng-eksistensi-kan visi dan misi kitab suci agar inovasi dalam tradisi tidak membuat kita risi.
Source: Ketut Wiana l Dimensi Wacana